RSS

Author Archives: Fresh Indonesia

Haruskah Ibukota Negara Pindah?

Sintya Swasti

Fakultas Hukum

Universitas Gajah Mada

09/282508/HK/18141

 

Baru – baru ini ramai dibicarakan tentang suatu masalah yang sangat krusial dan menjadi polemik di kalangan elite, pengusaha, akademisi bahkan masyarakat biasa, baik yang ada di Jakarta maupun yang tinggal di luar Jakarta. Sederhana namun apabila dikaji dan dipahami lebih dalam, sebenarnya permasalahan ini adalah masalah yang kompleks dan perlu penanganan, pembahasan serta pengkajian serius dari semua pihak. Dan apakah sebenarnya yang menjadi permasalahan itu? Dan permasalahan itu adalah masih layakkah Jakarta sebagai ibukota negara? Dan haruskah ibukota negara dipindahkan dari Jakarta?.

Permasalahan itu pun lambat-laun sampai juga ke telinga Pak Presiden. Dan menurut Prof. Emil Salim sebagai penasehat pribadi beliau, Bapak Presiden sampai melakukan rapat pleno di Istana hanya untuk membahas permasalahan ini secara khusus di kalangan elite sampai akhirnya rapat itu pun menghasilkan 3 pilihan keputusan sementara yaitu pertama, ibukota negara tetap di Jakarta, namun dengan catatan adanya perbaikan dan peningkatan dalam segi infrastruktur. Kedua, dilakukan pemisahan antara ibukota negara dengan pusat bisnis, karena pada hakikatnya ibukota negara itu adalah sebagai pusat pemerintahan dan bukan hanya pusat bisnis. Dan ketiga, bahwa dilakukan pemindahan secara keseluruhan ibukota negara dari Jakarta ke daerah lain di Indonesia yang memang siap dan layak untuk dijadikan sebuah ibukota negara.

Menurut saya polemik dan wacana bahwa ibukota negara akan dipindahkan dari Jakarta atau tidak, tentunya didasari oleh rentetan bahkan jutaan permasalahan baik secara mikro atau makro yang setiap hari muncul dan terjadi di Jakarta. Mulai dari kemacetan, banjir, daya dukung, infrastruktur, korupsi, krisis manajemen, dan banyak lagi. Dan rentetan permasalahan itu nyata dirasakan oleh setiap orang yang tinggal dan beraktifitas di Jakarta ataupun sekitarnya. Katakanlah bahwa setiap orang yang datang ke Jakarta pasti akan merasakan masalah yang paling klasik dan akan selalu kita temukan di setiap sudut kota Jakarta, yaitu kemacetan. Tentunya kita semua sudah bosan mendengar, melihat maupun membaca di media bahwa kemacetan menjadi permsalahan yang setiap hari dirasakan oleh warga Jakarta dan tidak pernah ada habisnya. Penyebabnya banyak, mulai dari daya dukung, infrastruktur jalan, populasi penduduk Jakarta yang setiap hari bertambah, volume kendaraan bermotor yang setiap harinya meningkat, manajemen transportasi yang buruk serta mental yang buruk masyarakat Jakarta akan kesadaran mereka terhadap peraturan lalu lintas yang berlaku.

Dari satu permasalahan ini saja, saya kira perlu penanganan serius dan berkesinambungan dari pemerintah dan pihak yang terkait. Karena apa jadinya Jakarta sebagai ibukota negara apabila setiap harinya macet, macet dan macet. Menurut penelitian saja, dikatakan bahwa kemacetan di Jakarta itu disebabkam 44% oleh aktifitas sektor swasta dan 56% nya disebabkan oleh aktifitas sektor publik atau pemerintahan. Belum lagi forecasting yang dilakukan oleh beberapa peneliti dan mungkin akan nyata terjadi, bahwa di tahun 2014 Jakarta akan mengalami macet total atau tidak akan terjadi pergerakan kendaraan sama sekali apabila semua penduduk Jakarta mulai beraktifitas dan menggunakan kendaraannya. Sungguh sangat ironis, namun menurut hemat saya jangankan tahun 2014, tahun 2011 saja fenomena itu akan terjadi apabila pemerintah dan pihak-pihak terkait tidak mau bertindak untuk menyelamatkan Jakarta dari kemacetan. Lihat saja menurut penelitian Badan Pusat Statistik bahwa pada tahun 2010 volume penduduk/orang-orang yang berkatifitas di Jakarta pada siang hari itu lebih besar 10 kali lipat penduduk Jakarta dibandingkan dengan volume penduduk/orang-orang yang beraktifitas di malam hari. Bayangkan saja dengan angka itu yang nantinya akan semakin bertambah dan bertambah tentunya justru akan memperparah tingkat kemacetan di Jakarta.

Tentunya kita ketahui bersama bahwa saat ini Jakarta masih menjadi pusat bisnis dan pusat peredaran uang terbesar di Indonesia karena 80% dari total jumlah uang yang beredar di Indonesia itu ada di Jakarta dan sisanya tersebar di semua wilayah Indonesia. Alhasil oleh karena itulah semua orang dari seluruh wilayah yang ada di Indonesia tentunya ingin mengadu nasib dan mencari kehidupan di kota Jakarta. Dan saya kira hal ini bisa  menjasi alasan mengapa volume penduduk dan kendaraan di Jakarta setiap harinya bisa bertambah dan imbasnya meningkatkan pula probabilitas kemacetan di Jakarta. Tidak hanya itu, menurut lembaga survey penyebab kemacetan itu salah satunya  adalah tidak atau belum terjadi sinkronisasi antara peraturan yang ditetapkan oleh DKI Jakarta

Dan banyak lagi penyebab mengapa kemacetan akan selalu terjadi di Jakarta. Tetapi masyarakat memang tidak bisa selalu menyalahkan pemerintah. Masyarakat sendiri harus turun tangan, bukan hanya mengacungkan tangan menunjuk-nunjuk pemerintah sebagai biang keladi semua masalah yang ada. Masyarakat juga merupakan penyebab dan penyelesai masalah.

Melihat fakta bahwa Jakarta menempati peringkat ke 42 dalam Indeks Kualitas Lingkungan Hidup, seharusnya masyarakat juga berbenah, jangan hanya menyuruh pemerintah untuk membenahi Jakarta.  Jangan melulu mengandalkan mobil mewah pribadi sebagai kendaraan sehari-hari, tetapi harus mulai beralih ke sepeda. Warga Jakarta seharusnya mencari cara agar polusi dan kemacetan dapat berkurang. Tren fixie bicycle dan bike to work dapat menjadi salah satu cara untuk mengurangi kemacetan dan polusi di Jakarta. Selain dapat mengurangi kemacetan juga dapat menjadi ajang olahraga bagi masyarakat Jakarta yang umumnya terlalu sibuk dan mengabaikan olahraga.

Selain masalah kemacetan, ada pula masalah banjir. Ya, Jakarta dan banjir. Dahulu Jakarta langganan banjir setiap lima tahun sekali. Akhir-akhir ini ternyata Jakarta makin keecanduan terhadap banjir. Tiap hujan deras, meskipun hanya hujan deras selama 15 menit, sudah menyebabkan jalan-jalan besar di Jakarta kebanjiran. Jika jalan-jalan besar tersebut banjir, maka bisa dipastikan kemacetan parah terjadi. Jarak yang seharusnya dapat ditempuh dalam 15 menit menjadi harus ditempuh selama 3 jam.

Jakarta langganan banjir karena secara geografis memang potensial menjadi muara air dari Bogor. Bogor sendiri secara geografis diapit oleh Gunung Gede Pangrango dan Gunung Salak, sehingga curah hujan di Bogor lebih tinggi dan oleh karena itu dikenal sebagai Kota Hujan. Air hujan di Bogor dalam volume besar itu tentunya dikirim ke Jakarta, ditambah lagi curah hujan Jakarta yang sama tingginya. Namun pada kenyataannya hanya 15% yang meresap ke tanah (infiltrasi), sedangkan sisanya mengalir (runoff). Air kumulatif antara air kiriman dari Bogor dan air hujan di Jakarta sendiri, dan ditambah dengan daya dukung biopori dan drainase yang jelek itulah yang mengakibatkan Jakarta banjir.

Seharusnya pemerintah daerah DKI Jakarta menghentikan pembangunan mal karena sudah terlalu banyak mal di Jakarta. Seharusnya pemerintah membangun lebih banyak lagi taman kota yang berfungsi sebagai tempat resapan air dan sarana penghijauan, paru-paru kota.

Masyarakat sudah mulai gelisah dengan berbagai macam wacana yang menyebutkan bahwa Jakarta akan segera “pensiun” dari jabatan ibukota Negara Indonesia. Banyak wacana yang menyebutkan banyak kota di Indonesia yang akan menjadi ibukota Indonesia berikutnya. Badan Pusat Statistik (BPS) menaksir ongkos untuk pemindahan ibukota Negara sangat besar. Lembaga ini menyarankan perlunya dilakukan kajian mendalam jika ingin mewujudkannya. “Pindah itu implikasinya luas,” kata Kepala BPS Rusman Heriawan di Jakarta.

Saya rasa ibukota tidak perlu pindah. Tetapi harus ada penanganan yang serius dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah DKI Jakarta untuk menanggulangi masalah-masalah tersebut.

Cara mengatasi masalah volume penduduk dan kemacetan di Jakarta ialah dengan menggunakan teori “ada gula ada semut”, maksudnya ialah kita sebar gula-gula ke daerah-daerah yang potensial di luar Jakarta. Jakarta diibaratkan sebagai ladang gula dan penduduknya diibaratkan sebagai semut. Di mana terdapat banyak gula,disitulah semut berkumpul. Jika gula disebar, secara otomatis sebagian besar semut pun akan beralih mencari gula ke daerah lain.

PN Timah memiliki tambang yang terdapat di Belitung, namun mengapa kantor pusatnya berada di Jakarta? Mengapa tidak dipindahkan saja ke Belitung agar dekat dengan pusat tambang sehingga jika ada masalah tidak perlu diurus di kantor pusat yang letaknya di Jakarta. Hal tersebut juga akan menarik orang-orang yang tadinya berada di Jakarta menjadi ke daerah dan itu akan mengurangi volume penduduk di Jakarta. Jika semua perusahaan sejenis PN Timah yang juga berkantor pusat di Jakarta melakukan hal ini, niscaya volume penduduk Jakarta akan mengalami penurunan.

Bukan ibukota yang harus berpindah, tetapi pusat bisnis ataupun perkantoran yang harus pindah dari Jakarta. Selain untuk mengatasi masalah Jakarta yang terlalu padat dengan penduduk, hal ini juga dapat meratakan pembangunan ke seluruh daerah di Indonesia, bahakan di pelosok Indonesia sekalipun. Karena pada hakekatnya ibukota sebuah Negara seharusnya “hanya” menjadi tempat berpusatnya pemerintahan Negara tersebut, bukan lantas juga harus menjadi tempat pusat kegiatan bisnis ataupun pusat pendidikan.

Kita dapat mengambil contoh Amerika Serikat. Pusat pemerintahan Negara adidaya tersebut berada di Washington D.C, sedangkan pusat bisnis berada di New York, bahkan di daerah-daerah selain New York pun kegiatan bisnis tetap tinggi, tidak terpusat di satu kota tertentu saja, tetapi di berbagai kota. Karena

Jakarta telah menjadi pusat bisnis sejak dahulu kala. Banyak pebisnis asing maupun dalam negeri selalu mengandalkan Jakarta, padahal Indonesia memiliki 33 provinsi lainnya yang juga berpotensi sebagai tempat usaha. Jika melulu Jakarta yang dijadikan pusat bisnis dan perputaran uang, maka daerah lain di Indonesia tidak akan pernah berkembang. Sebagai contoh, mal di pusat kota Sukabumi, Jawa Barat, jumlahnya dapat dihitung dengan jari satu tangan, sedangkan jumlah mal di Jakarta jumlahnya hanya dapat dihitung menggunakan kalkulator karena terlalu banyaknya mal di Jakarta.

Yang perlu dilakukan pemerintah ialah “menyebar gula”. Jangan hanya Jakarta saja yang dijadikan pusat segala-galanya, tetapi daerah lain di Indonesia juga harus merasakan kemudahan yang didapatkan warga Jakarta. Warga Jakarta dapat dengan mudah menikmati semua fasilitas yang ada. Semua serba canggih, cepat, lengkap. Hal itulah yang membuat warga Jakarta betah dan enggan meninggalkan Jakarta, meskipun Jakarta memiliki banyak masalah yang tak kunjung terselesaikan. Oleh karena itu, jangan Jakarta saja yang mengalami pembangunan secara continue, tapi daerah lain juga harus mengalami pembangunan agar tidak tertinggal dan agar orang-orang tidak hanya tertarik terhadap Jakarta saja, tetapi juga daerah-daerah lain. Jangan melulu membangun mal di Jakarta, tetapi bangunlah daerah lain. Hal ini dapat mengatasi kesenjangan antarwilayah yang dapat mengancam integritas Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pemerintah juga dapat mengakali dengan cara memindahkan beberapa perguruan tinggi di Jakarta ke pinggiran Jakarta ataupun ke wilayah lain di Indonesia. Dengan adanya dua atau beberapa perguruan tinggi di luar Jakarta, itu akan mengurangi volume penduduk Jakarta karena mahasiswa yang tadinya tinggal di Jakarta harus pindah ke luar Jakarta, dan juga dapat mencegah mahasiswa perantau dari luar Jakarta bahkan dari luar pulau Jawa ke Jakarta.

Transmigrasi ataupun reurbanisasi juga dapat dijadikan pilihan bagi warga Jakarta yang berada di bawah garis kemiskinan. Menakertrans Muhaimin Iskandar menyebutkan bahwa sampai saat ini minat masyarakat untuk ikut program transmigrasi masih sangat tinggi. Setiap tahun sedikitnya ada 260 ribu kepala keluarga yang mendaftar untuk ikut program transmigrasi, namun karena keterbatasan dana, pemerintah hanya bisa memberangkatkan sebanyak 10 ribu kepala keluarga setiap tahunnya.

Banyak wacana tetapi sedikit tindakan nyata, itulah sifat pemerintah. Berbagai macam solusi dibuat, namun hanya sampai pada wacana, bukan realisasi. Inilah yang membuat permasalahan semakin banyak, bukan terselesaikan. Banyak hal yang sudah dilakukan pemerintah pusat dan pemerintah daerah DKI Jakarta untuk menangani masalah-masalah di atas, tapi yang jelas, beberapa hal yang sudah dilakukan ataupun yang masih dalam tahap perencanaan, tidak menyelesaikan masalah, tidak efektif bahkan tidak mengurangi masalah sedikitpun.

Yang seharusnya dilakukan ialah merealisasikan wacana-wacana yang ada. Semua wacana baik, tetapi pilihlah yang terbaik diantara yang baik. Dan yang paling penting ialah realisasi, jangan hanya sekedar wacana. Jakarta butuh tindakan nyata, bukan wacana belaka.

 

 

 

 

 
Leave a comment

Posted by on June 28, 2011 in Essay

 

Stabilitas Keamanan dan Politik Gaya Otoriter Cina yang Mendorong Perekonomian

Terkait masalah investasi, adalah bijak kalau kita mau belajar dari negara-negara yang sukses memikat modal asing, sekaligus mampu menstimulasi investor domestic untuk berkembang. Salah satu contoh adalah Cina, Negara yang tergolong baru bekembang dan bahkan sebelumnya sempat tenggelam dalam peraturan dunia menyusul kebijakan militant komunis pada era Mao Zedong, tapi kini terbukti paling sukses memainkan jurus investasi tersebut.
Setelah wafatnya Mao Zejong – tokoh yang membawa Cina tenggelam dalam ‘kegelapan diplomasi’, yang tentu saja berdampak pada memburuknya perekonomian Negri Tirai Bambu itu – Deng Xiaoping naik ke tanggu pimpinan. Segera setelah naik tahta sebagai Perdana Menteri, tokoh yang dikenal dengan ucapan “bukan kucing hitam atau kucing putih yang penting, melainkan kucing yang dapat menangkap tikus”, Deng mengubah huluan Cina dengan drastis. Melalui kebijakan “Pintu Terbuka” yang digulirkan tahun 19y78, Cina mengulurkan jabat tangan kepada banyak Negara di dunia. Semua hubungan yang putus semasa Mao Zedong melancarkan ‘Revolusi Kebudayaan’, diperbaiki. Tak kecuali dengan musuh ideologisnya Amerika Serikat.. Cina juga aktif memasuki organisasi-organisasi internasional, termasuk IMF dan World Bank. Pada 2001, Cina bahkan secara resmi diterima sebagai anggota organisasi internasional terakhir yang belum dimasukinya, WTO.
Kembalinya Cina ke pergaulan Internasional memang tak lepas dari peran sang pemimpin, Deng Xiaoping. Sampai-sampai Deng sendiri dua kali pergi ke Amerika. Di luar itu, kepercayaan diri Cina ditopang pula prestasi di dalam negeri , yakni pembangunan ekonomi. Deng secara konsisten mengubah sistem perekonomian Cina dari system komunis menjadi system bernuansa ‘kapitalis’. Komune dibubarkan, ‘periuk nasi besi’ dihancurkan, perusahaan milik Negara diprivatisasi, pengusaha swasta diberi angin, investor asing diberi insentif tinggi, pasar saham diizinkan dan seterusnya. Perdagangan internasional digalakkan seraya memacu ekspor. Meskipun peran Negara belum hilang sama sekali, Cina praktis memeluk sistem kapitalistis. Cina sendiri menamakan ‘sistem pasar sosialis’, di samping istilah lain yakni ‘satu Negara dua sistem’ yang terutama ditetapkan di Shenzen dan belakangan di Hongkong.
Khusus di bidang investasi, setahun setelah kebijakan “Pintu Terbuka” digulirkan, tepatnya 1 juli 1979, Cina menerbitkan UU usaha Patungan. Sesuai namanya, undang-undang ini memberikan landasan berinvestasi di Cina melalui usaha patungan. Selanjutnya 20 september 1983, diberlakukan Peraturan Pelaksanaan UU Usaha Patungan. Peraturan ini member rincian procedural untuk membentuk usaha patungan, kontribusi modal, alih teknologi, dan operasional perusahaan. UU Usaha Patungan tersebut kelak direvisi 4 April 1990. Lewat UU hasil revisi ini pihak asing dimungkinkan menunjuk seorang peimpinan puncak dari dewan direksi, dan membuka kemungkinan berbagai pihak ikut dalam sebuah usaha patungan yang sebelumnya dibatasi satu pihak asing dan satu pihak Cina. Tak lama setelah itu, Peraturan Pelaksanaan UU Usaha Patungan diamandemen agar usaha patungan bisa beroperasi hingga 50 tahun-dari sebelumnya dibatasi hanya 20. Sebenarnya, 4 tahun sebelum UU Usaha patungan direvisi, Cina telah melahirkan undang-undang yang revolusioner untuk menarik minat modal asing. Pada 1986, Kongres Rakyat Nasional memberlakukan UU Usaha Investasi Sepenuhnya Milik Asing . Undang-undang ini memperbolehkan usaha sepenuhnya milik asing didirikan di wilayah Cina, dan menjadikan system hukum Cina dalam hal ini jauh lebih liberal daripada yuridiksi lainnya di Asia. Sementara partisipasi local dituntut di banyak Negara asia, seperti Malaysia dan Thailand, Cina mempebolehkan kepemilikan tital sebuah badan usaha oleh asing, sejauh badan itu bergerak di bidang yang melibatkan alih teknologi dan produksi ekspor.
Menurut catatan investasi asing yang masuk ke Cina saat ini berasal lebih dari 180 negara dan wilayah. Sebanyak 500 perusahaan papan atas dunia hampir seluruhnya menanamkan modal di Cina. Sejak 1993, Cina tercatat sebagai Negara berkembang yang paling banyak menarik investasi asing. Tahun 2004, Cina berhasil menarik langsung asing sebesar US$ 60,6 miliar. Masuknya perusahaan-perusahaan asing ke Cina juga menstimulasi perusahaan domestic untuk berkembang. Perusahaan Cina bahkan telah disejajarkan dengan perusahaan kelas dunia. Tahun 1998, dari 225 kontraktor internasional top . Investor Cina tak lagi bermain di kandang. Mereka kini menanamkan modalnya di berbagai Negara. Terdapat lebih dari 6.000 usaha investasi Cina di luar negeri dengan nilai kontrak mencapai US$ 6,95 miliar. Investasi tersebut lebih dari 160 negara dan wilayah.
Dengan perubahan besar-besaran ini, Cina sungguh memukau dunia Cina kini menduduki peringkat tinggi dunia dalam banyak indicator ekonomi: pertumbuhan, perdagangan, internasional, internasional, investasi asing hingga cadangan devisa. Angka agregat ekonomi yang serba besar membuat Cina menerima predikat sebagai next entrepreneur. Banyak yang meyakini cina sedang bangkit bagaikan naga yang menggeliat bangun dan mendengus seraya memperlihatkan taring . Kemajuan ekonomi Cina berlangsung demikian cepat 20 tahun terakhir sehingga income per kapita Negara berpenduduk 1,3 miliar itu melonjak dari US$ 100 menjadi US$ 2.000. Namun, pesatnya perekonomian Cina bukan hanya dapat dilihat dari income per kapita, luar biasanya perkembangan industry perdagangan dan pertumbuhan kota-kota di negara itu, tapi juga dari pertumbuhan ekonomi yang selalu di atas 10%. Cadangan devisa Cina kini mendekati US$ 1.000 miliar, angka yang sungguh fantastis.
Pertanyaannya, sisi mana dari sukses Cina yang layak ‘diadopsi’ untuk mendongkrak perekonomian Indonesia? Satu yang pasti, kedepan, upaya pemerintah meliberalisasi ekonomi (melalui UU Penanaman Modal) tetap harus disesuaikan dengan kondisi perekonomian domestic. Idealnya, regulasi investasi tak hanya dilakukan untuk menarik masuk modal asing, tetapi juga harus mampu mendorong pemberdayaan pelaku usaha domestic. Sehingga, baik pelaku usaha asing maupun domestic akan berkembang sesuai dengan level yang digumulinya (level of playing field).
Daftar Pustaka
Derbyshire, Denis, J, The Business of Governtment, W & R chambers Ltd, Edinburg , Great Britain 1987.
McConnell Brue, Macroeconomics, California USA 2010
Effendi Siradjuddin, Memerangi Sindrom Negara Gagal, Entrepreneurial state 2020 Institute of research, 2008.

 
Leave a comment

Posted by on April 10, 2011 in Essay

 

Indonesia, Bolehkah Saya Bertanya?

500 orang mengais remah nasi di resto-kantin-warung kota-kota

2500 orang menjemur remah nasi di tampah-tampah

525000 orang siapkan wajan tanpa minyak

39375000 orang sangan nasi kering di atas bara

Setiap orang beranak dua saja, kata keluarga berencana

78750000 mahluk anak manusia makan nasi aking di Indonesia

: bapak-ibunya makan apa?

(mereka siap suapkan bara di mulut juru kampanye…)

 

Kutipan puisi di atas sebenarnya merupakan gambaran kondisi real masyarakat di negeri kita tercinta saat ini, negeri yang  katanya kaya dan melimpah ruah akan sumber daya, yang kita sebut Indonesia. Namun setiap tujuh detik, seorang anak usia di bawah 10 tahun mati kelaparan. Sementara itu sekitar 826 juta manusia secara permanen menderita kekurangan gizi yang parah, dan ratusan bahkan ribuan orang lainnya menderita di luar sana setiap harinya (Jean Ziegler : 2006).

Di negeri ini bukan tanpa sebab apabila penanggulangan kemiskinan dan kelaparan menjadi tujuan utama yang ingin dicapai oleh setiap elemen masyarakat. Dari data yang saya dapat pada tahun 1990, tercatat  lebih dari 1,25 Milyar orang di dunia berada dalam kemiskinan ekstrim atau mereka hidup dengan kurang dari 1 $  per-hari. Garis kemiskinan nasional 2007 mencatat nilainya hampir setara dengan sekitar 1,6 $ per-hari. Dengan angka tersebut, lebih dari 37 juta penduduk Indonesia termasuk dalam kategori penduduk miskin. Kemudian bagaimana dengan yang hampir miskin? Apabila diasumsikan masyarakat yang hampir miskin adalah mereka yang hidup lebih dari  1,6 $ dan kurang dari  2 $ per-hari, maka jumlah penduduk Indonesia yang berada dalam kisaran ini adalah lebih dari 100 jutaan orang. Sungguh luar biasa bukan?

Kemiskinan memang biasanya dijadikan barometer serta tolak ukur suatu negara dalam mencapai kesejahteraan masyarakatnya. Dengan kata lain apabila jumlah penduduk miskin terus bertambah di negara tersebut berarti tingkat kesejahteraan yang ingin dicapai semakin jauh dari harapan. Ya mungkin negeri ini termasuk yang harapannya masih agak jauh untuk dicapai.

Apabila kita hendak membaca berbagai program kerja, konsep dan sketsa di atas kertas, baik melalui pendekatan secara mikro, mezzo dan makro yang dilakukan oleh lembaga  pemerintahan ataupun LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) dalam rangka menanggulangi kemiskinan, nampaknya bagus, rinci, terarah, masuk akal dan memungkinkan. Ya artinya mungkin bisa dilakukan, mungkin bisa tertunda, atau bahkan mungkin tidak direalisasikan sama sekali. Dan pada hakikatnya setiap kemungkinan sebenarnya mengandung sebuah konsekuensi dan tanggung jawab yang amat berat bukan? Namun pada kenyataannya, Pak Udin seorang tukang bakso tusuk di kawasan wisata Curug Sawer Sukabumi, masih mengeluh akan biaya hidup sehari-hari yang melambung tinggi. Bang Otim seorang tukang pedagang sembako di Pasar Kebayoran Baru, masih mengeluh akan biaya sekolah tinggi anaknya yang semakin tidak terjangkau. Dan Bu Asih seorang pemulung plastik di Stasiun Depok Baru masih setia berjalan kaki setiap hari membawa karung dan sepotong besi hanya demi sesuap nasi. Coba kita renungkan, sudahkah kata kemiskinan tidak terdengar lagi di telinga kita? Sudahkah rakyat Indonesia seluruhnya mendapat penghidupan yang layak? Jawabannya tentu saja tidak.

Baru-baru ini ramai dibicarakan, baik di media cetak, elektronik, internet, seminar-seminar yang katanya di Senayan sana para wakil rakyat kita “sedang sibuk, sibuk mau ngapain” Yang ternyata sibuk berdiskusi mengenai masalah proyek jangka pendek mereka. Saya kira sih proyek jangka pendek mengentaskan kemiskinan dan kelaparan, tetapi usut punya usut nyatanya para wakil rakyat kita sedang sibuk membicarakan proyek jangka pendek pembangunan gedung baru mereka, sebagai pengganti gedung lama yang strukturnya sudah hampir miring dengan menghabiskan dana belasan triliun rupiah dari APBN rencananya. Bayangkan, dimana hati nurani para wakil rakyat kita? Apa yang ada di pikiran mereka? Pernahkan mereka memikirkan jutaan penduduk miskin di negara ini yang membutuhkan uluran tangan? Pernahkah mereka berpikir karena siapa mereka bisa hidup mewah dan berlimpah rupiah seperti saat ini? Pernahkah mereka ingat saat mereka susah? Saat rakyat susah?  Mereka sudah tidak lagi memiliki sense of social responsibility, sense of crisis, menjadi tuli dan dungu sedungu-dungunya. Mau dibawa kemana coba masa depan negeri ini?

Ada satu peristiwa lagi yang membuat saya meneteskan air mata. Yaitu ketika kemiskinan diperlihatkan dengan jelas di depan mata semua orang. Ketika kemiskinan rakyat Indonesia itu memang nyata adanya, ketika semua orang diperlihatkan bahwa masih ada orang yang lebih susah dan membutuhkan uluran tangan, ketika mereka diperlihatkan bahwa masih banyak saudara-saudaranya yang belum bisa merasakan indahnya bulan suci Ramadhan dan suka citanya sebuah hari kemenangan. Bisa kita lihat, saat stasiun televisi, koran, majalah, semuanya memperlihatkan ratusan kerumunan orang berdesak-desakan, berebut, saling sikut kanan-kiri, injak sana-sini bahkan temannya sendiri pun mereka tak peduli, hanya untuk mendapatkan sekantong beras zakat dan beberapa lembar rupiah dari hasil pemberian seorang dermawan.

Tak hanya berakhir di situ, bahkan di tahun 2008 ada sebuah pembagian zakat maal yang sampai menelan korban jiwa. Tak tanggung-tanggung sebelas orang jadi korban dalam peristiwa tersebut. Dan Polisi berdalih peristiwa itu terjadi karena kurangnya pengawasan dan campur tangan aparat. Namun menurut hemat saya itu adalah alasan yang sifatnya teknis dan normatif, karena sebenarnya bukan itu inti permasalahannya. Akan tetapi alasannya karena terlalu banyak warga miskin di daerah tersebut, bahkan ada sebagian warga miskin yang datang dari daerah lain ikut mengantri hanya sekedar untuk mendapatkan zakat. Dan karena volume orang yang datang membludak serta sistem pembagian zakat yang tidak terorganisir dengan baik, ditambah lagi sifat orang miskin  Indonesia yang tidak pernah mau sabar, mengantri serta mau diatur, maka dari itu sudah pasti peristiwa itupun akhirnya terjadi.

Bahkan ironisnya lagi sebuah acara open house presiden baru-baru ini, dalam rangka halal bi halal hari raya Idul Fitri 1431 H pun yang tepat jatuh pada hari Jumat 10 September 2010, dimana semua orang sedang merayakan indahnya hari kemenangan, justru dinodai dengan peristiwa tidak mengenakan. Yaitu meninggalnya Joni Malela, seorang warga tuna netra miskin yang ikut mengantri di Istana Negara dengan ratusan orang lainnya untuk bersilaturahmi dengan seluruh keluarga Bapak Presiden SBY dengan iming-iming akan diberi uang senilai Rp. 250.000 (dua ratus lima puluh ribu rupiah).

Akankah semua peristiwa itu akan terus terjadi? Akankah kemiskinan terus melanda sebagian besar penghuni negeri ini? Selama mental manusia Indonesia serta para pemimpinnya masih mementingkan kepentingan pribadi di atas kepentingan orang banyak, saya yakin semua itu akan terus terjadi. Karena rakyat tidak butuh proposal dengan angka-angka statistik makro, statistik mikro, kemudian analisa kajian pustaka, metodologi pengukuran canggih dan modern, strategi pemberdayaan jitu, crisis intervention, stress management, detail rencana anggaran, rakyat tidak butuh itu semua. Semua itu hanya dalih yang akan menjadikan rakyat sebagai objek sehingga menjadi proyek pengisi kocek. Akan tetapi rakyat butuh tindakan kongkret dari para pemimpin kita, rakyat butuh pemimpin yang mau merasakan apa yang dirasakan oleh rakyat dan rakyat butuh pemimpin yang selalu ingat bahwa keberhasilan yang ia capai adalah berkat kerja keras, tetapi kerja kerasnya siapa.

Biasanya seorang Wakil Camat pasti ingin menjadi seorang Camat, seorang Wakil Bupati pasti ingin menjadi Bupati, Seorang Wakil Walikota ingin menjadi Walikota, seorang Wakil Gubernur pasti ingin menjadi Gubernur, begitu pula Wakil Presiden, pasti ingin menjadi Presiden. Namun apakah seorang Wakil Rakyat pasti ingin menjadi Rakyat? Indonesia, bolehkah saya bertanya?

Daftar Pustaka

 

A. Hadar. Ivan., 2008. Hak Atas Makanan, Jakarta: MDG’s / United Nation Development Program

Braga. C., 2003. Political Culturalis para o desenvolvimento: uma base de dados para a cultura, p 57. Brazil: UNESCO

Bornstein. D., 2004. How to Change The World : Social Entrepreneur and the Power New Ideas, New York: Oxford University Press

Wijayanto., 2010. Korupsi Mengkorupsi Indonesia, Jakarta: Universitas Paramadina

Puisi., 14 Februari 2008. Dari Lapar Yang Menahun

Parray. Owais., 2008. Kondisi Pembangunan Masyarakat Indonesia, Jakarta: MDG’s

Sedjati. Bayu. Uki., 2008. Pertanyaan Bagi Yang Muda, Jakarta: MDG’s / United Nation Development Program

Website : http//www.economy.okezone.com

Website : http//www.kompas.com

 

 
Leave a comment

Posted by on March 20, 2011 in Essay

 

Refleksi Sebuah Masa Yang Hendak Melukai Bangsa

Ide menyusun dan menulis ini timbul setelah berkontemplasi dan mengingat kembali apa yang pernah dibicarakan oleh dua orang tokoh sejarah bangsa ini pada pertengahan tahun 80-an. Keduanya menceritakan tentang bagaimana mereka pernah berkisah kepada kemenakannya tentang inflasi dasyat, pidato-pidato politik bising dan tentang orang sekampung yang antri panjang untuk membeli beras dan minyak goreng, serta ribuan pengemis yang berkeliaran di Jakarta pada tahun 1963-1965. Pembicaraan keduanya dengan hidmat saya ingat tapi diresapkan seperti dongeng yang nyaris tak masuk di akal.

Dalam pembicaraan itu saya ingat, bahwa perenungan ini pernah terjadi pula pada anak-anak muda yang tak mengalami sendiri bagaimana teror PKI yang menciptakan adegan-adegan tabrakan ideologi dan penindasan kreativitas yang semakin lama kabur dimakan waktu, dan seperti tidak ada yang menyempatkan diri untuk memotretnya, lalu menyusunnya rapi di album sejarah.

Saya pun berani menyimpulkan bahwa situasi prahara yang menggema di tahun 60-an itu, ketika PKI, Partindo, dan PNI memaksakan visi realisme sosialis yang komunistis pada kelompok-kelompok tertentu yang tidak sekubu dengan mereka, yang membungkam ekspresi berkreasi lawan-lawannya, ternyata tidak  sepenuhnya diketahui dan dipahami oleh generasi 80 atau 90-an dan bahkan sampai pada generasi masa kini.

Tentunya jika kita ingat bagaimana PKI mengingkari Pemberontakan Madiun 1948 yang menusuk RI dari belakang semasa kita dikepung Belanda, ketika mereka mengkhianati kepemimpinan proklamator Soekarno-Hatta, yang tiga tahun kemudian mereka sulap dan putarbalikkan menjadi “Provokasi Madiun”. Kepahitan ironi bagi Indonesia adalah bahwa presiden Soekarno yang menjadi sasaran cerca PKI waktu itu, dalam waktu sewindu saja berubah total malah menjadi pelindung fanatik bagi PKI yang enam belas tahun berikutnya, berkhianat lagi. Kita tentunya tak berselera melihat pementasan sulapan putar-balik babak kedua itu terjadi lagi. Ibaratnya Patung lenin bisa terjungkal, Tembok Berlin bisa roboh, tapi cuaca tak mustahil berubah dan lebih dari penghapusan jejak, yang mungkin saja terjadi.

Jelas tergambar dalam setiap entitas yang merekam peristiwa-peristiwa sejarah ketika politik menjadi panglima pada zaman Orde Lama. Karena politik dinomorsatukan, tak terelakkan kebudayaan pun menjadi sarat bermuatan politik dan ajang pertarungan politik. Pada zaman yang gemuruh, gegap-gempita dengan semboyan slogan dan yel-yel, karya dan atraksi kesenian adalah alat yang ampuh untuk menarik perhatian, menghimpun dan mempengaruhi masa.

Oleh karena itu, setiap partai politik dan organisasi kemasyarakatan, di samping didukung oleh media massa masing-masing, waktu itu juga memiliki organisasi atau lembaga kebudayaan. Partai Nasional Indonesia (PNI) mempunyai Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN), Partai Komunis Indonesia (PKI) memiliki Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), NU membentuk Lesbumi,  dan Partindo didukung Lesbi.

Produk – produk kebudayaan lembaga-lembaga itu disalurkan dan dikampanyekan melalui media massa yang dimiliki, berafiliasi atau bersimpati kepada partai politik masing-masing. Misalnya pada saat itu ada produk LKN disalurkan dan dipromosikan melalui Sulindo, Pendukung PNI, produk Lekra melalui koran Harian Rakyat dan Bintang Timur yang menjadi corong PKI. Di samping itu karya-karya para budayawan yang menyatakan dirinya nonpartai disalurkan melalui kantor-kantor penerbitan. RRI dan Kantor Berita Antara tidak luput sebagai ajang dan alat pertarungan, hingga prahara budaya pun terjadi begitu dahsyat.

Begitu kuatnya pengaruh politik dalam kehidupan budaya dan juga pers saat itu, hingga para cendikiawan yang umumnya bekerja berdasarkan prinsip-prinsip yang bersifat universal harus menarik garis. Kawan atau lawan. Tidak ada tempat untuk mereka yang di tengah. Siapa pun yang tidak sepaham segera dengan mudah dicap sebagai lawan. Pengaruh PKI begitu dominan dalam kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat. Dan Presiden Soekarno tampak sekali sangat dekat dengan orang-orang PKI. Sebuah “persekutuan ganjil” dengan nama Nasakom (Nasional, Agama, dan Komunis) dipaksakan.

Tentu saja, sekalipun dicoba dirasionalkan dengan alasan situasi dan kondisi waktu itu, persekutuan ini ditentang oleh mereka yang anti-PKI.

Karena tidak mau habis diganyang PKI, mereka yang tidak setuju dengan komunis mau tak mau harus merapikan barisan.

Akibat perang ideology itu, dua kelompok budayawan, cendekiawan segera terbentuk. Satu pendukung komunisme dan yang lainnya adalah penentangnya. Sesuai dengan jargon komunis, kelompok yang satu menyebut dirinya kiri, progresif revolusioner, Pancasilais sejati. Lawannya disebut kanan, reaksioner dan kontrarevolusioner, anti pancasila, dan plintat-plintut.

Disamping PKI, termasuk dalam kelompok kiri adalah sebagian besar mereka yang menyebut dirinya kaum nasionalis, yakni anggota atau pendukung PNI dan Partindo. Kanan adalah mereka yang anti-PKI, terutama adalah anggota dan pendukung partai-partai dan ormas yang berdasarkan agama, terutama Islam, kaum nasionalis yang taat beribadah (sebagian PNI), kaum sosialis (eks PSI), dan kaum nonpartai. Pada umumnya mereka didukung oleh militer, terutama Angkatan Darat pada saat itu.

Entah kenapa, pada waktu itu orang yang menganggap dirinya benar memilih lambang kiri daripada kanan. Padahal, dalam budaya Jawa yang saya tahu, yang lebih dominan dalam kebudayaan Indonesia, kanan adalah lambing kebaikan, sedangkan kiri kejahatan. Apalagi, ternyata dalam Islam pun demikian adannya. Mungkin, itu memang menjadi self-fulfilling prophecy. Ramalan yang terwujud dengan sendirinya.

Kedua kelompok tentu saja menyebut diri masing-masing Pancasilais sejati dan revolusioner. Kedekatan dengan Bung Karno juga diperebutkan. Kaum kanan anti-Bung Karno. Dan demikian pula sebaliknya.

Pancasila, revolusi, dan Bung Karno dipakai sebagai perisai oleh kedua kubu untuk tujuan mereka masing-masing. Ketiganya dipakai sebagai sebagai label untuk pembenaran diri masing-masing.

Puncak pertarungan disulut oleh Pidato Presiden Soekarno tanggal 17 agustus 1959 yang berjudul Manifesto Politik. Kaum kiri segera menyebut diri mereka Manipolis sejati, sedangkan lawannya sebagai anti-Manipol. Mereka anti-PKI apada tanggal 17 agustus 1963 mengeluarkan pernyataan politik kebudayaan yang disebut manifest kebudayaan. Segera muncul polemic antara kedua kubu. Kaum kiri menyebut budayawan, cendekiawan yang mendukung Manifest Kebudayaan sebagai Manikebu. Maksudnya, adalah mereka yang mereaksi terlalu berlebihan terhadap Manifes Kebudayaan.

Bagi saya Bung Karno adalah faktor paling dominan dalam kehidupan negara. Menyadari hal itu, para pendukung Manifes Kebudayaan berusaha membebaskan beliau dari pengaruh PKI, dan pihak yang anti-PKI membentuk Badan Pendukung Soekarnoisme (BPS). Tapi, apa hasilnya? Karena pengaruh kaum kiri terlalu kuat, para pendukung BPS dihujat, kehilangan pekerjaan dan sebagian lagi ditahan.

Tak terlepas dari pengaruh ideology, ada satu perbedaan substansial antara kedua kelompok dalam konsep kebudayaan. Kelompok kiri mendukung humanism-realisme atau realism-sosialisme, dan kelompok kanan mendukung humanism-universal. Debat mengenai ini menurut pandangan saya sangat menampakkan kedalaman pemikiran masing-masing dan sangat mengasyikan. Debat tentang sebuah hal yang bertendensi atau kepentingan untuk kepentingan yang mencapai puncaknya. Dan yang haru dicatat dari rangkaian sejarah ini, di samping beradu pemikiran, kedua kelompok juga bertarung dalam hal kreativitas dan fleksibilitas berfikir. Suasana ganyang-mengganyang satu sama lain, telah mengakibatkan masing-masing pihak tidak hanya bertahan, tetapi juga bersaing untuk melahirkan kreasi, karya dan buah pemikiran yang unggul. Akan tetapi, menurut saya di samping karya yang bernilai tinggi, persaingan waktu itu lebih banyak melahirkan karya yang sloganistis dan vulgar.

Apa yang terjadi dalam kancah kebudayaan Indonesia saat itu hanyalah kepanjangan dan Perang Dingin antara Blok Timur pimpinan Uni Soviet dan Blok Barat pimpinan Amerika Serikat. Dengan sendirinya, nyatanya kaum kiri lebih dekat secara politik dan budaya dengan Uni soviet dan kelompoknya, dan kelompok kanan lebih dekat dengan Amerika Serikat dan negara-negara Barat. Apa yang berasal dari Timur disanjung oleh kelompok kiri dan yang Barat digulung.

Klimaks atau antiklimaks dari prahara ini menurut saya adalah pemberontakan G-30-S/PKI pada tahun 1965 yang gagal. Kelompok kanan seperti halnya dalam layar pertunjukan wayang, keluar sebagai pemenang. Akibatnya, tak terelakkan mereka diganyang sebelumnya ganti mengganyang.

Sekalipun sudah kalah, masih ada diantara kelompok kiri yang beranggapan bahwa kekalahan mereka hanya bersifat sementara. Buktinya adalah runtuhnya Uni soviet, robohnya Tembok Berlin dan porak-porandanya negara-negara Eropa Timur serta kebangkrutan sistem ekonomi komunis.

Kini peristiwa G-30-S/PKI telah hampir 45 tahun bergulir. Perang dingin pun nyatanya telah usai. Amerika Serikat telah berpeluk mesra dengan Uni Soviet. Saat ini bangsa Indonesia telah merasakan bagaimana nikmatnya rasa sebuah kue kedaimaian dan kemerdekaan walau adonanya belum lengkap seluruhnya. Terdapat begitu banyak usul dan wacana agar peristiwa bersejarah ini dijadikan sebuah momentum untuk rekonsiliasi, rujuk, antara mereka yang dulu atau kini selalu bertikai, baik di bidang politik, ekonomi, social, hukum maupun kebudayaan. Ini merupakan refleksi yang simpatik, jika diingat bahwa sebagian besar dari mereka yang berseteru dulu, kini sudah uzur bahkan tiada dimakan usia. Usul tentu boleh saja. Namun, sebagai bangsa kita perlu tetap waspada. Apalagi kalau di antara orang-orang kiri saat ini masih ada yang mengkampanyekan ideology mereka dalam bentuk lain yang lebih canggih dengan memanfaatkan era keterbukaan, globalisasi, kemajuan teknologi dan simpatisme Barat yang dulu mereka musuhi. Terhadap mereka yang die hard tersebut, kita tak boleh kompromi.

Semoga peristiwa demi peristiwa bersejarah yang  pernah ada selalu menjadi cerminan bahwa bangsa kita memang bisa menjadi bangsa yang besar. Dan semoga reformasi informasi yang berkembang pada saat ini tidak lagi membuat setiap generasi menjadi tidak percaya akan kisah masa lalu dan perjuangan bangsanya sendiri. Dan terutama untuk semua generasi muda, semoga kita semua dapat belajar banyak dari sebuah prahara sejarah yang pernah dialami bangsa kita, agar peristiwa itu tak akan pernah terulang kembali di masa depan.

Buat keadilan sejati kepada siapa pun kami tak gentar

Apakah kepada kalian yang bernama kabir

Pelonceng atau koruptor

Atau jendral petak

Yang dadanya tergantung seribu bintnag

Kalau memang dimaui

Kami pun siap berlawan

Esok atau lusa

Atau sekarang juga!

Kami, rakyat.

(petikan puisi Endo Suwartono September 1965)

 
Leave a comment

Posted by on March 20, 2011 in Essay

 

Metamorfosa Si Bunga Sakura

Binatang-ekonomi. Itulah julukan yang diberikan kepada Jepang oleh orang-orang yang berada di belahan dunia Timur dan Barat. Kesan orang, Jepang adalah bangsa yang sangat agresif mencari laba. Iklannya gemerlapan di kota-kota besar di seluruh dunia, bahkan merek-merek perusahaan Jepang dikenal akrab sampai ke pelosok desa, semuanya menggambarkan penetrasi ekonomi yang sangat mendalam.

Tentu saja orang Jepang tidak suka dengan sebutan itu. Bukan karena mereka menolak, realitas tingkah laku yang memang secara pas digambarkan. Tapi karena mereka menganggap bahwa persepsi orang lain tentang bangsa Jepang adalah keliru. “Memburu laba” bukanlah tujuan hidup dan motivasi yang berdiri di belakang kegiatan orang Jepang. Kerja keras yang tekun dan rajin untuk memenuhi kebutuhan orang banyak, itulah landasan dan idealisme mereka dalam melakukan setiap aktifitasnya.

Ajaran Suzuki Shosan[1] yang sangat terkenal, ia menjalankan misinya ketika sebagian besar penduduk negeri Sakura itu kehilangan alasan untuk hidup, setelah mengalami perang saudara bertahun-tahun dan ketika memasuki masa damai, justru malah mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri. Ajaran kerja, sebagai cara untuk mencapai kebebasan nampaknya mengena di hati rakyat Jepang.

Kerja dengan jujur, dalam ajaran Shosan, merupakan bentuk dari sikap hidup zuhd (asceticism)[2]. Kerja adalah pekerjaan suci dan dihayati dengan sikap religius. Kerja untuk tujuan mencari keuntungan justru ditolak. Kerja orang Jepang yang menganut falsafah Buddhisme Zen bukanlah suatu kegiatan ekonomi, melainkan suatu latihan untuk hidup zuhd.

Orang Jepang sangat menghormati seseorang yang sikap terhadap pekerjaannya bersifat religius. Nilai itu hanya diwujudkan dengan kerja produktif. Untuk memahami Zen orang harus mempelajari sogo-shosha-nya. Seorang pedagang dalam organisasi dagang Jepang menganggap distribusi barang sebagai tugas suci untuk membebaskan setiap orang dari kekurangan.

Itulah yang menjelaskan mengapa dunia merasakan kehadiran negeri Sakura dimana-mana. Kini Jepang, sebagai negara, adalah merupakan salah satu raksasa ekonomi yang sangat diperhitungkan. GDP-nya merupakan urutan kedua terbesar setelah Amerika Serikat.  Kekuatan Jepang adalah, bahwa daerah pemasaran dan penanaman modalnya terbagi lebih berimbang di Amerika Utara, Eropa Barat, Asean, Timur Tengah dan Amerika Latin. Secara Umum Jepang memang tergantung dalam bahan baku dan energi maupun pemasaran kepada negara-negara lain. Tapi “religiusitas kerjanya” membuat Jepang unggul sebagai pengrajin Industri maupun sebagai pedagang. Itulah yang mengubah posisi Jepang menjadi tidak tergantung kepada siapapun. Bahkan Jepang telah membagi-bagi sumber-sumber ekonomi dunia untuk keuntungannya.

Membicarakan Jepang tak sekadar berbicara ekonomi. Membicarakan Jepang berarti pula soal segala hal yang berbau futuristik dan masa depan. Dan hal itu dapat ditemukan dalam tumpukan komik, film animasi, mobil, fashion, gaya hidup, mesin-mesin robot, teknologi, sistem pendidikan, transportasi, telekomunikasi hingga etos kerja warga Jepang.  Tak ada seorangpun yang  meragukan Jepang sebagai macan Asia, dan nampaknya percaya diri yang tinggi ditunjukan sebagai bukti untuk menantang dunia Barat.

Ekonomi bekembang dengan pesat, mendudukkan indeks perkembangan manusia pada 10 peringkat besar dunia. Pendapatan rata-rata pekerjanya sekitar 7 juta Yen setahun (kurang lebih Rp 560 juta). Begitu mudahnya menemukan Jepang di dalam rumah kita sendiri. Lihatlah televisi. Beragam merek seperti Sony, Sharp, Panasonic, Toshiba[3] menghiasi rumah beserta perabot lainnya. Sesekali nontonlah program tayangan televisi bersama keluarga pada Minggu pagi. Anda akan disuguhi tokoh-tokoh super hero Ultraman hingga kartun menggemaskan Doraemon. Tak cukup berhenti di situ. Anak-anak menangkap kegiatan nonton televisi tak sekadar duduk manis dan melihat aksinya, melainkan juga telah berkembang sebagai sebuah sajian gaya hidup. Mulai dari kaos, buku, alat tulis, hingga sprei dan sarung bantal mereka bergambar tokoh televisi. Artinya sejak melek bangun tidur dan berangkat tidur lagi, tokoh kartun Jepang itu telah menemani keseharian anak. Itulah contoh bagaimana budaya Jepang bisa  mewarnai arus budaya global.

Sejarah kemajuan Jepang tak lahir dari kantong Doraemon yang bisa menghadirkan apa saja sesuai keinginan. Melainkan melalui proses jatuh bangun selama berabad-abad. Mungkin juga kita tak pernah menyangka bahwa Jepang dengan segala gemerlapnya itu pernah menjalani Politik Isolasi,
yakni melarang melakukan kontak hubungan dunia luar[4]. Ia melarang segala hubungan dengan orang-orang Eropa kecuali hubungan terbatas dengan pedagang Belanda di pulau Dejima. Mereka juga menjadi lebih berhati-hati terhadap pedagang dengan Tiongkok, khususnya setelah suku Manchu menguasai Tiongkok dan mendirikan Dinasti Qing. Suku Manchu menguasai Korea pada tahun 1637, dan pihak Jepang takut akan kemungkinan invasi dari suku Manchu. Jepang menjadi bahkan lebih terisolasi lagi dibandingkan sebelumnya. Periode pengurungan diri ini berakhir dua setengah abad kemudian, pada masa persatuan politis yang dikenal sebagai periode Edo, yang dianggap sebagai masa puncak kebudayaan pertengahan Jepang. Pada tahun 1854, Komodor AS, Matthew Perry memaksa dibukanya Jepang kepada Barat yang kemudian melatarbelakangi hancurnya keshogunan hingga akhirnya Restorasi Meiji[5] mengembalikan kekuasaan kepada Kaisar. Lalu Jepang mengadopsi beberapa institusi Barat, termasuk pemerintahan modern, sistem hukum, dan militer. Perubahan-perubahan ini mengubah Kekaisaran Jepang menjadi kekuatan dunia pada awal abad ke-20. Hingga akhirnya terlibat dalam perseteruan Perang Dunia II, yang meluluhlantakkan Hiroshima dan Nagasaki, dua kota di Jepang, karena serangan bom Amerika Serikat.

Bom tak menyebabkan negeri itu tenggelam dalam kesedihan berlarut, Jepang justru bangkit. Dari peristiwa bom itu muncullah pertanyaan Hirojito, Perdana Menteri Jepang saat itu, yang tenar dan menggugah ; “Berapa jumlah guru yang masih tersisa?” , karena pada hakikatnya dengan pertanyaan itulah titik awal kesuksesan Jepang dimulai kembali.  Meskipun bukan penganut agama islam, bangsa jepang adalah salah satu bangsa yang telah menerapkan prinsip hidup secara islami. Mereka belajar dan bekerja secara islami. Bangsa jepang merupakan bangsa yang menerapkan disiplin tinggi pada setiap kehidupan masyarakatnya. Disiplin yang tinggi dan tekun adalah prinsip kehidupan islami yang sebenarnya.

Jepang pun Bermetamorfosa Keberhasilan industri Jepang ditopang dua sisi: sejarah dan teknologi. Peralihan industri berat (peralatan militer) yang dikembangkan pada renovasi Meiji ke industri sipil memberi andil dalam keberhasilan industri Jepang. Dari sisi teknologi, didukung oleh keberhasilan machikouba yang berkembang menjadi industri besar dengan mengantongi ratusan paten. Mereka melahirkan produk-produk dengan sentuhan khas teknologi. Maka abad 21 kini lahirlah robot-robot yang menjiplak gaya manusia dari tangan-tangan perusahaan raksasa Jepang, seperti Hitachi, Sony, Honda, dan Toyota. Barangkali, dengan kian dekatnya Jepang dalam keseharian hidup, menjadikan kita tak pernah menyadarinya bahwa kita tak pernah untuk mau tahu bagaimana Jepang bisa menggapai hal sedemikian besar. Taukah kita apa yang menyebabkan negara Jepang bisa besar seperti sekarang ini?

Kerja keras, sudah menjadi rahasia umum bahwa bangsa Jepang adalah pekerja keras. Rata-rata jam kerja pegawai di Jepang adalah 2450 jam/tahun, sangat tinggi dibandingkan dengan Amerika (1957 jam/tahun), Inggris (1911 jam/tahun), Jerman (1870 jam/tahun), dan Perancis (1680 jam/tahun). Seorang pegawai di Jepang bisa menghasilkan sebuah mobil dalam 9 hari, sedangkan pegawai di negara lain memerlukan 47 hari untuk membuat mobil yang bernilai sama. Seorang pekerja Jepang boleh dikatakan bisa melakukan pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh 5-6 orang. Pulang cepat adalah sesuatu yang boleh dikatakan ”agak memalukan” di Jepang, dan menandakan bahwa pegawai tersebut termasuk yang tidak dibutuhkan oleh perusahaan. Di kampus, professor juga biasa pulang malam (tepatnya pagi), membuat mahasiswa segan untuk pulang lebih dulu. Fenomena Karoshi[6] mungkin hanya ada di Jepang. Sebagian besar literatur menyebutkan bahwa dengan kerja keras inilah sebenarnya kebangkitan dan kemakmuran Jepang bisa tercapai.

Malu adalah budaya leluhur dan turun temurun bangsa Jepang. Harakiri[7] menjadi ritual sejak era samurai, yaitu ketika mereka kalah dan pertempuran. Masuk ke dunia modern, wacananya sedikit berubah ke fenomena ”mengundurkan diri” bagi para pejabat (mentri, politikus, dsb) yang terlibat masalah korupsi atau merasa gagal menjalankan tugasnya. Efek negatifnya mungkin adalah anak-anak SD, SMP yang kadang bunuh diri, karena nilainya jelek atau tidak naik kelas. Karena malu jugalah, orang Jepang lebih senang memilih jalan memutar daripada mengganggu pengemudi di belakangnya dengan memotong jalur di tengah jalan. Bagaimana mereka secara otomatis langsung membentuk antrian dalam setiap keadaan yang membutuhkan, pembelian tiket kereta, masuk ke stadion untuk nonton sepak bola, di halte bus, bahkan untuk memakai toilet umum di stasiun-stasiun, mereka berjajar rapi menunggu giliran. Mereka malu terhadap lingkungannya apabila mereka melanggar peraturan ataupun norma yang sudah menjadi kesepakatan umum.

Hidup hemat, orang Jepang memiliki semangat hidup hemat dalam kesehariannya. Sikap anti konsumerisme berlebihan ini nampak dalam berbagai bidang kehidupan. Ada sebuah kasus dpada saat tertentu ada banyak orang Jepang ramai belanja di supermarket pada sekitar jam 19:30. Selidik punya selidik, ternyata sudah menjadi hal yang biasa bahwa supermarket di Jepang akan memotong harga sampai separuhnya pada waktu sekitar setengah jam sebelum tutup. Seperti diketahui bahwa Supermarket di Jepang rata-rata tutup pada pukul 20:00. Contoh lain adalah para ibu rumah tangga yang rela naik sepeda menuju toko sayur agak jauh dari rumah, hanya karena lebih murah 20 atau 30 yen. Banyak keluarga Jepang yang tidak memiliki mobil, bukan karena tidak mampu, tapi karena lebih hemat menggunakan bus dan kereta untuk bepergian.

Loyalitas membuat sistem karir di sebuah perusahaan berjalan dan tertata dengan rapi. Sedikit berbeda dengan sistem di Amerika dan Eropa, sangat jarang orang Jepang yang berpindah-pindah pekerjaan. Mereka biasanya bertahan di satu atau dua perusahaan sampai pensiun. Ini mungkin implikasi dari Industri di Jepang yang kebanyakan hanya mau menerima fresh graduate, yang kemudian mereka latih dan didik sendiri sesuai dengan bidang garapan (core business) perusahaan. Kota Hofu mungkin sebuah contoh nyata. Hofu dulunya adalah kota industri yang sangat tertinggal dengan penduduk yang terlalu padat. Loyalitas penduduk untuk tetap bertahan (tidak pergi ke luar kota) dan punya komitmen bersama untuk bekerja keras siang dan malam akhirnya mengubah Hofu menjadi kota makmur dan modern. Bahkan saat ini kota industri terbaik dengan produksi kendaraan mencapai 160.000 per tahun.

Inovasi. Jepang bukan bangsa penemu, tapi orang Jepang mempunyai kelebihan dalam meracik temuan orang dan kemudian memasarkannya dalam bentuk yang diminati oleh masyarakat. Menarik membaca kisah Akio Morita yang mengembangkan Sony Walkman yang melegenda. Cassete Tape tidak ditemukan oleh Sony, patennya dimiliki oleh perusahaan Phillip Electronics. Tapi yang berhasil mengembangkan dan membundling model portable sebagai sebuah produk yang booming selama puluhan tahun adalah Akio Morita, founder dan CEO Sony pada masa itu. Sampai tahun 1995, tercatat lebih dari 300 model walkman lahir dan jumlah total produksi mencapai 150 juta produk. Teknik perakitan kendaraan roda empat juga bukan diciptakan orang Jepang, patennya dimiliki orang Amerika. Tapi ternyata Jepang dengan inovasinya bisa mengembangkan industri perakitan kendaraan yang lebih cepat dan murah. Mobil yang dihasilkan juga relatif lebih murah, ringan, mudah dikendarai, mudah dirawat dan lebih hemat bahan bakar. Perusahaan Matsushita Electric yang dulu terkenal dengan sebutan maneshita (peniru) punya legenda sendiri dengan mesin pembuat rotinya. Inovasi dan ide dari seorang engineernya bernama Ikuko Tanaka yang berinisiatif untuk meniru teknik pembuatan roti dari sheef di Osaka International Hotel, menghasilkan karya mesin pembuat roti (home bakery) bermerk Matsushita yang terkenal itu.

Pantang menyerah. Sejarah membuktikan bahwa Jepang termasuk bangsa yang tahan banting dan pantang menyerah. Puluhan tahun dibawah kekaisaran Tokugawa yang menutup semua akses ke luar negeri, Jepang sangat tertinggal dalam teknologi. Ketika restorasi Meiji (meiji ishin) datang, bangsa Jepang cepat beradaptasi dan menjadi fast-learner. Kemiskinan sumber daya alam juga tidak membuat Jepang menyerah. Tidak hanya menjadi pengimpor minyak bumi, batubara, biji besi dan kayu, bahkan 85% sumber energi Jepang berasal dari negara lain termasuk Indonesia. Kabarnya kalau Indonesia menghentikan pasokan minyak bumi, maka 30% wilayah Jepang akan gelap gulita :) Rentetan bencana terjadi di tahun 1945, dimulai dari bom atom di Hiroshima dan Nagasaki seperti dijelaskan di atas, disusul dengan kalah perangnya Jepang, dan ditambahi dengan adanya gempa bumi besar di Tokyo. Ternyata Jepang tidak habis. Dalam beberapa tahun berikutnya Jepang sudah berhasil membangun industri otomotif dan bahkan juga kereta cepat (shinkansen).

Budaya membaca. Jangan kaget kalau anda datang ke Jepang dan masuk ke densha[8], sebagian besar penumpangnya baik anak-anak maupun dewasa sedang membaca buku atau koran. Tidak peduli duduk atau berdiri, banyak yang memanfaatkan waktu di densha untuk membaca. Banyak penerbit yang mulai membuat man-ga[9] untuk materi-materi kurikulum sekolah baik SD, SMP maupun SMA. Pelajaran Sejarah, Biologi, Bahasa, dsb disajikan dengan menarik yang membuat minat baca masyarakat semakin tinggi.

Kerja berkelompok. Budaya di Jepang tidak terlalu mengakomodasi kerja-kerja yang terlalu bersifat individualistik. Termasuk klaim hasil pekerjaan, biasanya ditujukan untuk tim atau kelompok tersebut. Fenomena ini tidak hanya di dunia kerja, kondisi kampus dengan lab penelitiannya juga seperti itu, mengerjakan tugas mata kuliah biasanya juga dalam bentuk kelompok. Kerja dalam kelompok mungkin salah satu kekuatan terbesar orang Jepang. Ada anekdot bahwa ”1 orang professor Jepang akan kalah dengan satu orang professor Amerika, hanya 10 orang professor Amerika tidak akan bisa mengalahkan 10 orang professor Jepang yang berkelompok”. Musyawarah mufakat atau sering disebut dengan ”rin-gi” adalah ritual dalam kelompok. Keputusan strategis harus dibicarakan dalam ”rin-gi” tersebut.

Mandiri. Sejak usia dini anak-anak dilatih untuk mandiri. Ada kasus seorang anak TK di Jepang. Dia harus membawa 3 tas besar berisi pakaian ganti, bento[10], sepatu ganti, buku-buku, handuk dan sebotol besar minuman yang menggantung di lehernya. Di Yochien setiap anak dilatih untuk membawa perlengkapan sendiri, dan bertanggung jawab terhadap barang miliknya sendiri. Lepas SMA dan masuk bangku kuliah hampir sebagian besar tidak meminta biaya kepada orang tua. Mereke  mengandalkan kerja part time untuk biaya sekolah dan kehidupan sehari-hari. Kalaupun kehabisan uang, mereka” meminjam” uang ke orang tua yang itu nanti mereka kembalikan di bulan berikutnya.

Menjaga tradisi. Perkembangan teknologi dan ekonomi, tidak membuat bangsa Jepang kehilangan tradisi dan budayanya. Budaya perempuan yang sudah menikah untuk tidak bekerja masih ada dan hidup sampai saat ini. Budaya minta maaf masih menjadi reflek orang Jepang. Kalau suatu hari anda naik sepeda di Jepang dan menabrak pejalan kaki , maka jangan kaget kalau yang kita tabrak malah yang minta maaf duluan. Sampai saat ini orang Jepang relatif menghindari berkata ”tidak” untuk apabila mendapat tawaran dari orang lain.

Pertanian merupakan tradisi leluhur dan aset penting di Jepang. Persaingan keras karena masuknya beras Thailand dan Amerika yang murah, tidak menyurutkan langkah pemerintah Jepang untuk melindungi para petaninya. Kabarnya tanah yang dijadikan lahan pertanian mendapatkan pengurangan pajak yang signifikan, termasuk beberapa insentif lain untuk orang-orang yang masih bertahan di dunia pertanian. Pertanian Jepang merupakan salah satu yang tertinggi di dunia.

Itulah persfektif saya mengenai negara Jepang yang dari awal kemajuannya, kejatuhannya, hingga bangkitnya kembali menjadi sebuah negara baru yang bermetamorfosis dari situasi negara yang kacau balau pada saat itu menjadi negara yang maju dan menjadi contoh bagi negara-negara lain yang ingin berkembang menuju kemajuan yang signifikan seperti pepatah mengatakan ”pembangunan itu tidak dimulai dengan barang, tetapi dimulai dengan orang : pendidikannya, organisasinya dan disiplinnya. Tanpa ketiga komponen ini, semua sumberdaya tetap terpendam, tak dapat dimanfaatkan dan tetap merupakan potensi belaka.”


[1] pendeta Buddha aliran Zen yang hidup pada masa Tokugawa dinilai bertanggung jawab terhadap  perkembangan kapitalisme Jepang pada zaman modern ini

[2] Pertapaan atau tapabrata

[3] Merk – merk barang elektronik terkenal  yang tersebar di pasaran dunia.

[4] Hal itu terjadi pada masa Keshogunan Tokugawa hingga tahun 1868, yang lebih disebabkan pada latarbelakang penyebaran agama.

[5] Restorasi Meiji  – Meiji-ishin dikenal juga dengan revolusi atau pembaruan, adalah rangkaian kejadian yang menyebabkan perubahan pada struktur politik dan social Jepang. Terjadi pada tahun 1866 sampai 1869 tiga tahun yang mencakup akhir zaman edo dan awal zaman meiji.

[6] mati karena kerja keras

[7] bunuh diri dengan menusukkan pisau ke perut

[8] Kereta listrik

[9] Komik bergambar

[10] Bungkusan makan siang

 
Leave a comment

Posted by on March 20, 2011 in Essay

 

Saatnya Melindungi dan Menjaga Air

Air adalah suatu  realitas primordial, dan mempunyai peran penting. Simbolismenya menyangkut setiap tahap kehidupan. mitos-mitos kuno dan ilmu modern sependapat manakala mereka melihat air sebagai asal usul kehidupan, cairan ketuban yang mempertahankan embrio evolusi dan pertumbuhan. Sebagai pangkal utama segala materi organis, air mutlak perlu bagi eksistensi semua makhluk yang hidup, manusia, hewan dan tanaman.

Kehadiran air  menjamin kehidupan dan pertumbuhan, ketiadaannya menjadi pertanda bagi kematian dan kehancuran. Air menyegarkan dan membarui ibarat sebuah kolam menghidupkan kembali dan memulihkan batang-batang yang layu dan lemah. Bagai sebuah mata air menyejukkan dan menenangkan sebuah jiwa yang penuh beban dan tertimpa kesulitan. Dan seperti sebuah tempat mandi membersihkan dan menjernihkan tubuh yang kotor dan tercemar. Tak heran kalau orang menganggap air adalah sesuatu yang paling berharga di dunia ini.

Kita semua tahu bahwa tubuh manusia terdiri dari 55% sampai 78% air, tergantung dari ukuran badan kita.  Agar dapat berfungsi dengan baik, tubuh manusia membutuhkan antara satu sampai tujuh liter air setiap harinya untuk menghindari dehidrasi, dan jumlahnya tentu bergantung pada tingkat aktivitas, suhukelembaban, dan beberapa faktor lainnya. Dalam memenuhi kebutuhannya, setiap manusia memerlukan sekitar 100 liter air bersih per orang/hari. Sehingga kebutuhan air secara nasional di Indonesia saja pada tahun 2003 tercatat mencapai 112,275 milyar m³ dan diperkirakan akan pada tahun2008, 2010 hingga 2020 menjadi 127,7 milyar m³. Peningkatan jumlah penduduk tentunya akan meningkatkan pula jumlah kebutuhan air.

Menurut BMKG curah hujan Indonesia yang berkisar antara 1000 – 4000 mm/thn, seharusnya dapat dipastikan bahwa sebagian besar Indonesia tidak akan kekurangan air bersih. Namun pengelolaan lingkungan yang kurang baik, kerusakan lingkungan serta faktor-faktor lain menyebabkan kita mengalami kekeringan pada musim kemarau dan banjir pada musim penghujan. Pada tahun 2003 dan 2005 saja, diketahui bahwa defisit air di Pulau.Jawa, Bali dan Nusa Tenggara diperkirakan sebesar 13,4 milyar m³.  Konversi dan alih fungsi lahan, kerusakan hutan dan lahan, pencemaran air akibat industri adalah sebagian penyebab dari menurunnya kualitas air yang ada. Dari data tahun 2008, diketahui bahwa sebagian besar sungai, situ dan danau di Indonesia yang menjadi sumber air telah mengalami pencemaran dan kerusakan lingkungan dari tingkat ringan sampai berat, sungguh sangat memprihatinkan. Namun ironisnya, disadari atau tidak, seringkali kita memboroskan air dalam keseharian kita.

Tidak kalah pentingnya juga menurut perkiraan para ahli, sekitar tahun 2025 nantinya dua pertiga dari penduduk dunia tidak akan lagi memiliki akses kepada air minum dalam jumlah yang memadai. Dan banyak perusahaan multinasional melihat “krisis” bagi kemanusiaan tersebut sebagai peluang ekonomi. Ya kalau menurut saya jangankan nanti, sekarang pun hal itu sudah lama terjadi di negara kita tercinta ini. Dan tentunya kita semua sudah merasakan bahwa pada abad ke-21 ini air tampaknya akan mengambil peran yang dimainkan minyak pada abad ke-20. Air akan menjadi komoditas bernilai yang menentukan kesejahteraan semua orang. Namun, tidak seperti halnya minyak, air tidak memiliki subsitusi.  Dan bagi banyak orang, air tidak dapat dipikirkan sebagai sebuah “komoditas” yang harus dibeli dan dijual. Air selalu dilihat sebagai suatu “aset kehidupan” karena air sangat hakiki, bukan saja untuk kehidupan manusia, melainkan juga untuk hewan dan tanaman seperti juga untuk kehidupan planet itu sendiri. Penyediaan air karena itu merupakan tanggung jawab bersama dan siapapun harus mengerti akan pentingnya air bagi kehidupan dan masa depan.

Sebenarnya air memiliki perputarannya sendiri yang berada di luar jangkauan kendali manusia. Hujan yang turun untuk semua orang, baik kaya maupun miskin, mengingatkan kita bahwa penciptaannya adalah sebentuk karunia yang dipercayakan kepada kita untuk dijaga. Air bukan milik orang perorangan namun merupakan suatu nikmat gratis yang bisa dinikmati oleh semua orang, bahkan semua mahluk. Akan tetapi ketika politik atau ekonomi berusaha menghambat akses umum kepada hak universal ini, maka tatanan kodrati dijungkirbalikkan. Dan kesulitan air dewasa ini bukanlah satu bentuk kelangkaan mutlak, melainkan soal pembagian dan soal sumber daya yang dikelola secara tidak bijaksana.

Lihat saja belakangan ini isu privatisasi air merebak dimana-mana. Para pengusaha ataupun yang memiliki kepentingan seolah-olah lupa bahwa air yang mereka gunakan sebagai faktor produksi bisnis mereka adalah merupakan sumber kehidupan bagi setiap orang kini dan nanti. Dan kebanyakan orang pun terkadang lupa akan setiap tetes air yang mereka minum dan mereka gunakan untuk kehidupannya sehari-hari, yang pada suatu saat nanti air yang biasa mereka nikmati manfaatnya tersebut lambat laun persediaanya akan berkurang di muka bumi ini. Mereka terkadang melupakan bagaimana nasib saudara-saudara kita di Afrika, Papua, dan beberapa tempat lainnya di dunia atau bahkan mungkin orang-orang di sekitar kita yang tidak pernah kita tahu bahwa mereka kesulitan mendapatkan akses air bersih. Dan air merupakan harga yang mahal dan langka bagi mereka.

Fakta membuktikan kurangnya akses terhadap air minum, sanitasi dan rendahnya kondisi hygiene menyebabkan 3 juta penduduk dunia di negara-negara berkembang, terutama anak-anak meninggal setiap tahunnya. Dalam 10 tahun terakhir saja, penyakit diare telah membunuh lebih banyak korban terutama anak-anak dibandingkan dengan korban PD II, dan hal itu disebabkan karena kurangnya akses masyarakat terhadap air minum dan air bersih. Sedangkan di Cina, India dan Indonesia jumlah penduduk yang meninggal akibat diare adalah 2 kali lipat meninggal akibat HIV/AIDS. Tahun 1998 saja, tercatat jumlah korban meninggal akibat perang di Afrika adalah sebanyak 308 ribu orang, sedangkan jumlah korban meninggal akibat diare adalah lebih dari 2 juta orang.  Kemudian 200 juta penduduk dunia menderita penyakit schrisfosomiasis, angka kejadian tersebut dapat di kurangi sampai 77% dengan memperbaiki aksesibilitas air minum dan sanitasi. Fenomena kaum perempuan di Afrika dan Asia menempuh jarak 6km berjalan kaki hanya untuk mengambil air dan membawanya dengan berat rata-rata 20 kg.

Dengan semakin berkurangnya kualitas dan kuantitas air akan semakin mahal pula biaya untuk pengadaan air, sehingga akan semakin terbatas pula masyarakat yang mampu mempunyai akses terhadap air bersih. Pada tahun 2020 saja, diprediksi Indonesia seperti juga negara-negara lain, akan mengalami krisis air bersih. Dengan upaya bersama kita berharap agar Indonesia dapat melewati masa itu dan mari kita renungkan bersama mengapa semua itu bisa terjadi.

Kemudian apa yang sebenarnya harus kita lakukan? Mari bersama kita mulai bersikap bijaksana dalam menggunnakan air. Renungkan setiap kali kita melihat atau menggunakan air, ingatlah bahwa air tersebut adalah satu karunia Tuhan. Belajarlah untuk mengembangkan sikap hormat terhadap zat cair ini. Air bukanlah sebentuk komoditas atau objek melainkan “aset kehidupan” di masa depan. Dengan menumbuhkan satu sikap kontemplatif tersebut kita dituntut untuk memahami bahwa air adalah kehidupan, kehidupan untuk orang miskin , kehidupan untuk dunia dan kehidupan untuk kita semua.

Jadilah tokoh pemuda pembela “air untuk masa depan” sebagai kewajiban kita sebagai manusia. Kembangkan suatu kesadaran kritis di setiap sanubari anak muda bahwa pengelolaan air dengan bijak adalah modal menuju masa depan yang lebih baik. Waspadalah terhadap rekomendasi – rekomendasi yang mengambil tanggung jawab dari tangan pemerintah atas isu air dan menyerahkannya kepada perusahaan-perusahaan swasta, khususnya multinasional. Kita libatkan masyarakat madani dalam perencanaan dan pelaksanaan strategi-strategi untuk mempertahankan dan memelihara air. Belajarlah dari komunitas-komunitas yang berhasil memecahkan masalah-masalah yang berkenaan dengan air. Dan bangunlah kesadaran di masyarakat bahwa air adalah aset yang penting  di masa depan.

Tanamkan mulai dari sekarang budaya berhemat. Sebagai anak muda pikirkan sejumlah cara agar kita bisa menghemat air di rumah. Misalnya, perbaiki keran-keran air secara berkala, batasi kegiatan siram taman dan berlama-lama mandi dan berikan dukungan untuk metode-metode alternatif dalam menangani pembuangan kotoran melalui air. Hidupkan kembali teknik-teknik mengambil air (pengetahuan dan praktik-praktik tradisional), lindungi daerah mata air dengan mendorong program-program penghijauan, hutan asuh, taman asuh dan berkampanye untuk menanam pohon. Bangun kesadaran menyangkut pentingnya daerah berumput yang sehat, daerah-daerah pertanian, tanah-tanah payau dan hutan, karena itulah jaminan satu-satunya terhadap kelangkaan air.

Kemudian sebagai anak muda mari kita galang kekuatan dan rapatkan barisan untuk membela dan menyuarakan hak-hak komunitas lokal untuk mengelola sumber daya-sumber daya air mereka. Pertanyakan secara kritis liberalisasi dan komersialisasi pelayanan air dan sanitasi. Kita buat pembelaan pada tingkat lokal, nasional dan internasional tentnag hak-hak pengelolaan sumber daya air. Kita temukan resolusi bagaimana air dikelola di negara, wilayah dan kota kita, kita temukan apa kebijakan yang berkenaan dengan air dan kesehatan di wilayah lokal dan negara kita, kita bbekerja sama dengan LSM yang memiliki visi misi yang sama atau para ahli untuk informasi dan solusi akan pemecahan masalah pengelolaan air dan dalam membela hak asasi atas air dan kesehatan.

Tidak hanya itu, sebagai seorang konsumen terdidik belilah produk-produk yang dapat didaur ulang dan ramah lingkungan. Pilihlah satu aktivitas yang kita sendiri dapat lakukan dengan penuh pengabdian dan aktivitas lain yang dapat kita lakukan dengan orang lain. Kita buat juga evaluasi atas hal ini di masa yang akan datang. Kemudian kita berikan dukungan pada sejumlah kampanye, baik nasional maupun internasional, yang berikhtiar untuk menjamin sebuah kerangka hukum yang adil bagi perlindungan atas air dan akses terhadap air dan atau fasilitas-fasilitas kesehatan. Ubahlah kebiasaan rutin harian kita dan bantulah untuk mengurangkan polusi dan penggunaan air. Kurangi kebiasaan menggunakan kendaraan dan lebih sering gunakan sepeda, jalan kaki atau gunakan kendaraan ramah lingkungan untuk membantu mengurangkan produksi zat beracun penyebab polusi udara pemicu hujan asam dan hal negatif lainnya. Jangan sikat gigi dengan air keran yang tetap mengalir, kita bisa menghemat galon per menit dan kapan saja kita menggunakan air, gunakan lebih sedikit dan efisien. Kecilkan temperatur pemanas air dan thermostat rumah kita untuk mengurangkan penggunaan energi dan membantu menurunkan zat pemicu polusi yang menyebabkan hujan asam dan lainnya.

Dan mungkin masih banyak cara dan sikap yang bisa kita terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari dalam rangka mengelola dan menjaga air kita agar tidak habis dan digunakan secara tidak bijak oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Sebagai anak muda sudah sepatutnya kita mulai melakukan hal-hal yang berguna bagi diri sendiri dan orang banyak, mulai saat ini. Karena secara hakikatnya air adalah satu faktor penentu dalam kemampuan bumi yang luar biasa untuk menahan penderitaan setiap manusia, kini dan di masa depan. Semoga tulisan ini bisa mengispirasi.

 

 

 

 

 

 

 

 
Leave a comment

Posted by on March 20, 2011 in Essay

 

Innovative Design Concepts in Maintaining Sustainable Existence Products Creative Industry in Domestic and Global Market

(the study of sustainable design innovation undertaken by Creative Industry in Bandung as Emerging Creative City)

Ence Ramli Al Rashid

Paramadina University

Faculty of Economy, Management and Business Department

Jalan Gatot Subroto Kav 97 Jakarta, Indonesia

ence.ramli@students.paramadina.ac.id

ramlialrashid@live.com

 

 

Abstract

 

In general, the development of design in Indonesia, divided into three important phases ie Modernization Program, The development of modern design in Indonesia, the beginning and the image changes. Paul Greenhalgh in his book “Modernism in Design” published by Reaction Books, said that “for the Greater part of this century, the word “modern” has been Relatively unproblematic with regard to design. It has meant whatever one wanted it to mean. It Could Be Designed applied to any object, more or less, given the Appropriate context and, accordingly, it Could be construed as an insult or a compliment. It has meant so much that often it has meant nothing”. Bandung is known as The Emerging Creative City, and is a center for creative industries in West Java. Every actor has turned his creative industry with a unique concept in terms of product innovation design. Uniqueness, quality and value which they bear in every product design is a specific characteristic and attraction for the customers both domestic and foreign. Therefore, this paper will discuss how the creative industry in Bandung actors create and apply the concept of design innovation in their products so that they can design innovation favored by customers and can be sustained over time.

Keyword: The Development of Design Design, Modern Design, Creative Industry in Bandung, Bandung Emerging Creative City

INTRODUCTION

Creative industries can be interpreted as a main element of industrial creativity, skill and talent that has the potential to improve welfare by offering intellectual creations (Simatupang, 2008). The era of creative industries present at the fourth phase of human civilization, after the era of agriculture, industry, and information. The economic value of a product or service in this creative era is no longer determined by the materials or the production system as in the industrial era, but the use of technology, creativity and innovation. Industry can no longer compete in the global market by simply relying on price or quality of product, but to compete based on technology, innovation, creativity and imagination (Esti and Syriac, 2008).

Indonesia which is rich in the local specific characteristic is a great potential for the development of creative industries. Although the contribution of creative industries for export growth is relatively small, but the sector continues to show a significant increase in contributions from year to year. Growth and development of creative industries is not without obstacles, but rather the creative industries have advantages and characteristics are flexible so that it can survive amid all the obstacles that obstruct it.

Bandung is a creative city with the potential for the greatest creative human resources. Bandung had always been known as a center for textiles, fashion, art, and culture as the “Paris Van Java”. And Bandung also known as educational and tourist destination. With the election of the city of Bandung as a pilot project of creative cities as East Asia in Yokohama in 2007 it created the slogan “Bandung Creative City” to support the mission.

Bandung is one of the cities that are conducive to developing creative industries. Bandung society tolerant of new ideas and respect for individual liberty became the main capital of Bandung in the development of creative industries. In addition, the city of Bandung is a place with huge potential for synergy and collaborating universities, businesses, communities, government and media in order to create a culture of creative economy. Creative economic development in the city of Bandung showed satisfactory improvement. So far, the sub-sectors of creative industries which can be used as pre-eminent city of Bandung, among which music, fashion, art, design, architecture, IT and food (culinary).

Design became one of the creative industry thrives in Bandung. Bandung city is famous for fashion. Garments produced by the Bandung city, famous unique and interesting. Bandung Society seems to have been aware of the content of art in a product design that has a high sales value.

LITERATURE REVIEW

Creative Economy and Creative Industry

Creative economy consists of broad groups of professionals, especially those in the creative industries, which contributed to the forefront of innovation. Creative intelligence, among others, artists, educators, students, engineers, and writers. They often have the ability to spread and get a pattern of thinking that generates new ideas. Therefore, the creative economy can be said as a system of supply and demand transaction that originates on the economic activities of the creative industries. Creative industries in Wikipedia is defined as the industry focused on the creation and exploitation of intellectual property such as works of art, film and television, software, games, or fashion design, and including inter-corporate creative services such as advertising, publishing, and design. The British government through the Ministry of Culture, Media and Sport gave the scope of creative industries as an activity that comes from creativity, expertise, and talents of individuals who are likely to increase prosperity and employment through the creation and commercialization of intellectual property.

Sustainable Design Concept

Design can be defined as a process initiated and developed a plan for a product, structure, system or component. The design consists of four main principles, namely: material, function and economic value, and aesthetics. A design that meets the four main things that determine the quality and competitiveness of a product with similar products in the market. Design usually requires a designer to consider aspects of aesthetic, functional and other aspects of an object or a process, which usually requires research, thought, modeling, interactive adjustment and re-design.

The design concept is a concept which is used to each output design as a whole, including the approach and strategy for communication, visual approach and the determination of the appropriate media with the target. Approach regarding sustainable concepts in the design field, including the origin of the development of sustainable design concepts, parameters and tester device level “sustainable” design a product or outcome, and its application in the world of professional and academic design in Indonesia.

 

DISCUSSION

The development potential of creative industries in the creative economy sector in the future will still be an important alternative in enhancing the contribution in the field of economics and business, improving quality of life, image formation, communication tools, fostering innovation and creativity, and strengthening the identity of a region.

Bandung is one of the cities that are conducive to developing creative industries. Bandung society tolerant of new ideas and respect for individual liberty became the main capital of Bandung in the development of creative industries. In addition, the city of Bandung is a place with huge potential for synergy and collaborating universities, businesses, communities, government and media in order to create a culture of creative economy. Creative economic development in the city of Bandung showed satisfactory improvement. So far, the sub-sectors of creative industries which can be used as pre-eminent city of Bandung, among which music, fashion, art, design, architecture, IT and food (culinary).

Bandung is a city that succeeded in developing the fashion industry. Tangible proof of the rapid development of the fashion industry in the city of Bandung is the rapid growth of FO (factory outlet) and Distro (distribution store) as a distribution agent of textile products that rely on creativity. Creative industries have become a fashion icon Bandung city. The main strength is the creative industrial design, diversity of raw materials, specialty brands, and product uniqueness. The success of creative fashion in Bandung is inseparable from the existence and uniqueness of the textile industry and its distribution is FO distributions.

Besides artists in Bandung are able to grow creativity in the arts industry. Industrial art that flourished in the city of Bandung in the field of art including pern, fine arts and show art. One tangible manifestation of the rapid development of industrial art is Bandung as soap opera house. Industrial arts in Bandung also grew quite rapidly. Creative industrial developments such as fashion and music industry to encourage the growth of visual arts industry in Bandung. Creative industries in Bandung is also supported by the university. One example of college accommodation on the creative industries in the arts in Bandung is the art market performances organized by the ITB.

Bandung is one of the cities that became the barometer of the music industry development in Indonesia. Pergembangan rapid creative in the music industry in Bandung has spawned musicians and famous bands. Musicians who were born in Bandung include Trio Bimbo, Royke B Jantiko and Eko Jantiko, Yuti Launda, Sentosa Marvelin Joanna and Nicky Astria. As for the group’s famous band from Bandung, including Peterpan, Project Pop, Gigi, Cokelat, and Potret. Environmental and cultural city of Bandung support growing proliferation of creative industry in the field of music.

In addition has created famous architect, the building in Bandung also can be architectural attractions. Building and garden in the city of Bandung has become a regular tourist attraction visited by foreign tourists and domestic. The buildings that become a tourist attraction such as Gedung Sate Bandung, Gedung Merdeka, the Grand Hotel Panghegar and all of buildings in the old town. The rapid development of industry in Bandung city architect also opened business opportunities for architects services in the city of Bandung.

Not only the arts and cultural center, Bandung also has potential in the field of technological development. Creative industries in the IT field are also growing rapidly in Bandung. ITB campus that is part of the city as a place of potential human resource development in information technology. Developing creativity in young children Bandung with its technology knowledge to make the creative industries in the rapidly growing field of information technology in the city of Bandung. And the design became one of the creative industry thrives in Bandung. Bandung city is famous for fashion. Garments produced by the famous city unique and interesting. Bandung Society seems to have been aware of the content of art in a product design that has a high sales value.

Success of creative industry in Bandung course supported by the establishment of sustainable design concepts created by the perpetrators of their business. The process and implementation of any idea is based on three basic aspects of the environment including socio-cultural, environmental, natural resources and ecological and economic environment and education. Of the three aspects of these ideas emerged from the results derived from the mix kratifitas value systems, behavior patterns and lifestyle of Bandung, which created a concept design creativity of the perpetrators of the work of creative industry in Bandung, namely a value-laden design concept of local wisdom.

A design concept that is made in accordance with product characteristics and market share that the majority liked the products with local content and also as a strategy for every community in Bandung, especially young people can more local products to love the work of the nation, so that the existence of industrial products creative in Bandung, Indonesia in particular can be raised both in domestic and global markets.

 

CONCLUSION

Bandung is a creative city with the potential for the greatest creative human resources. Bandung had always been known as a center for textiles, fashion, art, and culture as the “Paris Van Java”. And Bandung also known as educational and tourist destination. With the election of the city of Bandung as a pilot project of creative cities as East Asia in Yokohama in 2007 it created the slogan “Bandung Creative City”.

Bandung is one of the cities that are conducive to developing creative industries. Bandung society tolerant of new ideas and respect for individual liberty became the main capital of Bandung in the development of creative industries. In addition, the city of Bandung is a place with huge potential for synergy and collaborating universities, businesses, communities, government and media in order to create a culture of creative economy. Creative economic development in the city of Bandung showed satisfactory improvement, as supported by the concept design of any product or service output with contents of value Indonesia’s local and pure true children of the nation’s work so that every design is created has positi impact to the survival and existence products or services produced by each of the creative industry in Bandung. And so far, the sub-sectors of creative industries which can be used as pre-eminent city of Bandung, among which music, fashion, art, design, architecture, IT and food (culinary).

 

REFERENCES

Andersson, Å.E., and D. Andersson, eds. 2000. Gateways to the global economy. Cheltenham, UK: Edward Elgar.

Andersson, M., and U. Gråsjö. Forthcoming. Spatial dependence and the representation of space in empirical models. Annals of Regional Science.

Andersson, M., and C. Karlsson. 2006. Regional innovation systems in small and medium-sized regions—A critical review and assessment. In The emerging digital economy: Entrepreneurship,clusters and policy, ed. B. Johansson, C. Karlsson, and R. Stough, 55–82. Berlin: Springer-Verlag.

Anselin, L. 1988. Spatial econometrics: Methods and models. Boston: Kluwer Academic Publishers.

Anselin L., and R. Florax. 1995, eds. New directions in spatial econometrics. Berlin: Springer Verlag.

Armington, P.S. 1969. A theory of demand for products distinguished by place of production. International Monetary Fund Staff Papers 16: 159–178.

Esti, R. K, dan Suryani, D, 2008. Potret Industri Kratif Indonesia. Economic Review No. 212. Jakarta.

Husnie, M, Nafies, 2005, “Analisis Pengaruh Pembelajaran Pelanggan, Pesaing Dan Integrasi Lintas Fungsi Perusahaan Terhadap Kesuksesan Produk Baru”, Jurnal Sains Pemasaran Indonesia, Vol 4, No 1.

Im, Subin dan John P. Workman Jr. (2004), “Market Orientation, Creativity, and New Product Performance in High-Technology Firms”, Journal of Marketing, Vol. 68 (April 2004)

Jaworski, Bernard J., Ajay K. Kohli, 1993, “Market Orientation: Antecedents and Consequences”, Journal of Marketing, Vol. 57, p.53-70

Khamidah, Nur, 2005. ”Analisis Pengaruh Faktor Lingkungan Terhadap Inovasi Produk dan Kreativitas Strategi Pemasaran Terhadap Kinerja Pemasaran (Studi pada Perusahaan Kerajinan Keramik di Sentra Industri Kasongan Kabupaten Bantul, Yogyakarta). Jurnal Sains Pemasaran Indonesia, Vol IV, No 3 Program Magister Manajemen . Universitas Diponegoro.

Kadiman, Kusmayanto, 2006. Shaping A B G Innovation: Some Management Issues. Presentasi pada Penutupan MRC Doctoral Jorney Management Pertama. Jakarta: MRC FEUI Meeting.

Kadiman, Kusmayanto, 2005. The Triple Helix and The Public. Dipresentasikan pada Seminar on Balanced Perspective in Business Practices, Governance, and Personal Life. Jakarta.

Kadiman, Kusmayanto, 2005. Peran Perguruan tinggi dalam Transformasi Agrikultural: Menuju Ketahanan Pangan dan Pertanian Berkelanjutan. Dipresentasikan dalam Seminar Nasional ASET – IPB. Darmaga.

Simatupang, Togar M, 2008. Industri Kreatif Indonesia. Bandung: Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung

 

 
Leave a comment

Posted by on March 20, 2011 in Research Paper

 

Axis Java Jazz Festival : Sweep The Dust of Life on That Day

Jakarta dibuat nge-Jazz tiga hari itu. Semua orang mabuk akan lantunan-lantunan musik yang sarat akan improvisasi, sinkopasi dan blue note tersebut, baik anak-anak remaja, dewasa, pria, wanita, tua, muda semua terhanyut dalam irama swing-nya musik yang lahir pada decade 1930an tersebut. Sebabnya karena apa? Kita semua sudah tahu, sebabnya tidak lain dan tidak bukan adalah karena Axis Java Jazz Festival.

Axis Java Jazz Festival ini adalah sebuah acara yang menyuguhkan penampilan musisi-musisi Jazz kawakan dari seluruh dunia khususnya Indonesia. Acara yang bertemakan “Harmony Under One Nation” ini diselenggarakan dari tanggal 4-6 Maret 2011. Walau acara ini diselenggarakan hanya 3 hari saja, namun gaungnya masih terdengar sampai saat ini. Semua itu karena Axis sebagai sponsor utama penyelenggaraan acara tersebut mampu mengemas dan menyuguhkan acara yang tidak hanya penampilan dari musisi-musisi Jazz terkenal semata, tetapi muatan kebersamaan, solidaritas, kekompakan, dan harmonisasi setiap pesertanya berusaha dibangun oleh Axis sehingga tema yang diusung untuk acara tersebut bisa terealisasi. Siapapun mereka, tua, muda, laki-laki, peremuan, kaya atau biasa-biasa saja semua berkumpul dalam satu tempat yang disatukan oleh sajian musik berkualitas, “Harmony Under One Nation” dalam Axis Java Jazz Festival.

Axis Java Jazz Festival memang bukan ajang pertunjukan musik biasa. Selain kemasan acara yang menarik, performance dari setiap artisnya juga sangat hebat dan berkualitas. Seperti Glen Fredly artis favorit saya yang menyuguhkan penampilan yang hebat dan tak terlupakan oleh setiap peserta dengan lagu-lagunya yang membuat semua audience terpesona, ditabah lagi speech yang ia sampaikan di atas panggung mengenai kondisi bangsa Indonesia saat ini di akhir penampilannya, semakin menyempurnakan penampilannya di malam itu.

Tak hanya itu saja ketika Axis Java Jazz Festival 2011 menyuguhkan beberapa musisi jazz yang tampil di panggung masing-masing dalam waktu yang bersamaan. Steve Smith & Vital Information feat Vinny Valentino, Nial Djuliarsi : The Jazz Soul of Ismail Marzuki, Rafi & The Beat dan Spero membuat semua orang yang datag terhibur dan terpesona dengan penampilan hebatnya.

Penampilan yang menakjubkan juga disajikan oleh Special Show George Benson. Musisi legendaris yang sudah bisa menciptakan single berjudul She Makes Me Mad pada usia sepuluh tahun ini berhasil memukau ribuan penonton dengan lagu-lagu yang romantis dalam penampilan bertajuk George Benson Tribute to Nat King Cole itu. Bersamaan dengan tampilnya George Benson di panggung Special Show, gitaris dan vokalis asal Norwegia Sondre Lerche kembali menghibur pengunjung Axis Java Jazz Festival 2011 dengan tampilan memukau, sederhana dan permainan gitar akustik yang luar biasa. Sondre Lerche kembali membuat para penonton bernyanyi bersama.

Kemudian penampilan C-Man pada Axis Java Jazz 2011 yang terbilang masih baru namun hasil karya komposer jazz modern Erucakra ternyat telah menembus tangga lagu Apple iTunes. Lagu-lagu andalannya antara lain Aranti’s Code, Navrian, dan The Consultant. Selain itu dalam kesempatan Axis Java Jazz Festiva 2011, C-Man juga membawakan lagu The Dude karya Quincy Jones. Hebatnya lagi, C-Man menggabungkan lagunya yang berjudul Cicak dengan lagu Come Together milik The Beatles. Penampilan perdana C-Man mampu membuktikan bahwa musisi jazz Indonesia tidak kalah dibandingkan musisi asing yang tampil di malam itu. Disamping itu pula grup asal Australia, Bauchklang, tampil membawakan lagu Rhythm of Time. Tampil dengan formasi yang minimalis namun musik Bauchklang tampil mengagumkan. Bahkan Bauchklang tampil atraktif dengan menarik dua penonton untuk naik ke atas panggung.

Lepas dari itu semua, ada suatu hal yang membuat saya kagum yaitu ketika beberapa musisi melakukan penghormatan pada almarhum Elfa Seciora. Seperti Titi Dj, Hady Yunus, Yovie Widyanto, Andien, Elfa’s Singer, dan Elfa’s Jazz Youth menggelar penampilan bertajuk “Elfa Seciora and His Legacy Lives On”. Penampilan mereka di panggung mendapat sambutan hangat dari para penonton yang juga mengagumi sosok Elfa Seciora. Bersamaan dengan acara tribute untuk Elfa Seciora, di panggung lain Chuck Loeb, Jose James, Rhoda Scott, Shadow Puppet Quartet, Drew, dan Sr Mandril sedang menunjukkan kepiawaiannya masing-masing. Dua musisi Indonesia juga tampil dalam waktu bersamaan, Ello dan Danjil yang menarik perhatian peonton untuk kesekian kalinya.

Kemudian grup jazz yang digawangi oleh Indra Lesmana, Barry Likumahuwa, dan Sandy Winatra ini tak perlu lagi diragukan kualitas musikalitasnya. Lewat aksinya yang membawakan lagu lama berjudul Bulan di Atas Usia. Grup LLW juga membawakan laguu baru mereka yang diciptakan untuk mengenang para musisi jazz terdahulu. Lagu tribute itu dibawakan bersama DJ Cream dan rapper Kyriz Boogiemen. Penonton pun semakin terhibur karena Dira J. Sugandi juga ikut bergabung dengan grup LLW.

Dan banyak lagi musisi Jazz yang menampilkan sajian music berkuaitas lainnya seperti Andine, Syahrini, The Nairobi Trio feat Jonas Julio, grup jazz lokal Maliq & D’Essentials, Indra Aziz Experiment, The Jongens Jazz Quartet, Roy Hargrove Quintet. Namun penampilan yang paling ditunggu-tunggu adalah performance dari Carlos Santana. Amazing, Santana nge-Jam abis di Axis Java Jazz Festival kali ini. Permainan gitarnya sungguh membuat semua orang yang hadir saat itu kagum dan terperanga.

Beralih dari performance artis, fasilitas yang disediakan oleh panitia sungguh sangat baik dan professional sehingga membuat suasana malam dalam acara itu menjadi lebih Jazzy dan hangat. Dan upaya nyata Axis membawa musisi muda Indonesia berbakat untuk tampil di Festival Musik Jazz Internasional terbaik dan terbesar di Indonesia terukti. Karena Axis Road to Java Jazz Festival 2011 digelar Axis untuk mewujudkan mimpi para musisi muda di berbagai daerah di Indonesia untuk bisa tampil di salah satu panggung festival berskala Internasional terbesar dan terbaik di Indonesia. Dan alhasil yang cukup membanggakan salah satunya adalah Ade Irawan, bakat muda yang ditemukan dalam ajang AXIS Road to Java Jazz 2009. Sebagai musisi muda yang punya keterbatasan penglihatan, Ade membuktikan dirinya tidak kalah dengan musisi kelas dunia dan tampil di AXIS Java Jazz 2011.

Tidak hanya di dunia nyata, dunia maya pun dibuat gempar oleh Axis Java Jazz Festival 2011. Semua Netizen yang aktif di semua social media networking tak henti-hentinya membicarakan tentang acara Jazz terbesar di Indonesia ini. Sampai-sampai semua pengguna Blackberry dibuat pusing karena setiap hari muncul di Broadcast Blackberry Mesenggernya mengenai promo event, information, hingga experiences mereka yang telah ikut berpartisipasi dalam nikmatnya Axis Java Jazz Festival 2011.

Memang tak cukup dua jempol untuk Axis Java Jazz Festival. Karena ternyata festival musik Jazz terbesar di Indonesia ini pun, mampu menghipnotis semua orang hadir di acara tersebut. Semua audience yang datang bergaya parlente dengan motif elegant tak malu-malu mengeluarkan semua ekspresi mereka, lepas, bebas seakan malam itu adalah malam yang panjang dan tak terlupakan. Disampng itu, sajian berbagai kuliner menarik dan lezat yang disiapkan panitia menambah cerianya setiap malam Axis Java Jazz Festival. Music, Artis, performance, style, visitors, crowd and food everything is Jazzy. Maka dari itu tak berlebihan jika saya menyebutnya Axis Java Jazz Festival “Sweep The Dust of Life on That Day”.

 

Membangun Brand Loyality Sebagai Pondasi Dalam Strategi Penentuan Harga

Ramli Alrashid

Universitas Paramadina

Topik pilihan : Brand

Loyalitas konsumen terhadap merek mempunyai berbagai tingkatan, dari loyalitas yang paling rendah hingga loyalitas yang paling tinggi. Semakin tinggi loyalitas terhadap suatu merek biasanya semakin sulit konsumen dipengaruhi oleh berbagai faktor termasuk harga. Dalam menentukan harga produk, terutama perubahan harga untuk produk yang sudah dikenal, biasanya perlu dilihat faktor yang akan mempengaruhi keberhasilan penentuan harga tersebut. Selain cost dan profit, perlu dipertimbangkan faktor psikologis termasuk diantaranya tingkat loyalitas konsumen. Dan pada masing-masing tingkatan loyalitas brand biasanya ditentukan strategi khusus dengan tujuan agar tidak merusak loyalitas yang sudah ada dikarenakan kesalahan penentuan harga.

Loyalitas pelanggan merupakan tujuan inti yang selalu ada dalam program seorang marketer. Hal ini dikarenakan apabila loyalitas terbentuk sesuai dengan yang diharapkan, dapat dipastikan perusahaan akan meraih margin yang optimis. Istilah contumer loyality menurut para pakar pemasaran sebetulnya berasal dari brand loyality yang mencerminkan costumer loyality pada merek tertentu. Costumer loyality sangat penting untuk dikenali oleh seorang marketer dalam rangka menentukan strategi yang diperlukan untuk meraih, memperluas dan mempertahankan pasar. Salah satu strategi tersebut adalah strategi penentuan harga (price pixing), yaitu bagaimana menentukan harga yang sesuai dengan keadaan dari produk yang ditawarkan. Menurut Kotler dalam bukunya dikatakan bahwa strategi penetapan harga biasanya berubah kalau produk melewati berbagai tahapan life cycle-nya. Tahap pengenalan memberikan tantangan yang paling besar. Perusahaan harus memutuskan dimana memposisikan produknya terhadap produk kompetitornya dalam mutu dan harga, apakah pada strategi harga premium, strategi nilai baik, strategi harga tinggi ataukah strategi ekonomi.

Menurut  Hislop pertanyaan yang mendasar tentang loyalitas merek biasanya adalah  apakah merek tersebut cukup kuat untuk membuat pelanggan kembali lagi untuk membelinya? Namun demikian banyak diantara peneliti seperti Dick dan Basu, Jacoby dan Olson, bahwa jika pengertian loyalitas pelanggan menekankan pada runtutan pembelian, proporsi pembelian atau probabilitas pembelian, hal ini lebih bersifat operasional dan bukan merupakan teoritis.

Jacoby dan Kryner telah mendefinisikan enam kondisi yang secara kolektif  menggambarkan sebuah loyalitas merek sebagai respon perilaku pembelian yang bersifat bias, terungkap secara terus-menerus oleh unit pengambilan keputusan, dengan memperhatikan satu atau beberapa merek alternatif dari sejumlah merek sejenis, dan merupakan fungsi proses psikologis (pengambilan keputusan dan evaluatif). Sedangkan Mowen dan Minor menggunakan definisi loyalitas merek dalam arti kondisi dimana konsumen mempunyai sikap positif terhadap sebuah merek, mempunyai komitmen pada merek tersebut, dan bermaksud meneruskan pembeliannya dimasa yang akan datang. Dan definisi ini didasarkan pada pendekatan perilaku dan pendekatan sikap. Pendekatan perilaku

mengungkapkan bahwa loyalitas berbeda dengan perilaku membeli ulang, loyalitas merek menyertakan aspek emosi, perasaan atau kesukaan terhadap merek tertentu di dalamnya sedang pembelian ulang hanya sebuah perilaku konsumen yang membeli secara berulang-ulang. Dengan demikian pendekatan sikap termasuk di dalamnya.

Kosumen yang memiliki brand loyality dapat diidentifikasi berdasarkan pola pembeliannya, seperti runtutan pembelian atau proporsi pembelian. brand loyality harus dikembangkan mencakup semua aspek psikologis secara total agar tidak mudah berubah, yaitu aspek kognitif, afektif, konatif dan behavior. Harga bukan satu-satunya biaya yang dihadapi oleh pelanggan. Biaya lain yang termasuk dalam biaya pelanggan adalah waktu belanja, biaya mencoba dan biaya emosi. Namun demikian harga adalah biaya yang paling mudah dilihat, sehingga merupakan unsur penting bagi pelanggan dalam mengambil sebuah keputusan.

Strategi penentuan harga harus mempertimbangkan sampai dimana tingkat loyalitas konsumen terhadap merek tertentu, apakah masih dalam skala kognitif saja, ataukah sudah mencapai tingkat devotion. Menurut Pimentel dan Reynolds bahwa devosi konsumen terhadap merek adalah tingkat loyalitas yang sangat intens sehingga tidak terpengaruh oleh harga yang tinggi, skandal, publisitas buruk, kinerja buruk maupun hilangnya aktivitas promosi. Beberapa ahli juga menyebutnya sebagai merek religius, yang disebut sebagai tingkat tertinggi dari loyalitas merek.

Kita ketahui bahwa merek adalah janji seorang  seller untuk menyampaikan kumpulan sifat, manfaat, nilai dan jasa spesifik secara konsisten kepada buyer. Merek merupakan sebuah nama, istilah, tanda, simbol, rancangan, atau kombinasi dari semuanya yang dimaksudkan untuk megenali produk atau jasa dari seorang atau kelompok penjual dan untuk membedakannya dari produk kompetitior. Para pakar pemasaran mengemukakan bahwa terdapat 6 tahap evolusi dari sebuah merek. Pertama, Product without brand artinya barang atau produk diperlakukan sebagai komoditas dan banyak diantaranya yang tidak bermerek. Pada tahapan ini biasanya dicirikan dengan akibat yang akan ditimbulkan oleh demand terhadap supply. Produsen hanya sedikit berupaya untuk memberi merek pada produk sehingga menghasilkan persepsi konsumen yang mendasarkan diri hanya pada manfaat produk tersebut.

Kedua, Brand as a reference artinya stimulasi yang disebabkan oleh tekanan persaingan memaksa produsen untuk membedakan produknya dengan produk yang dihasilkan produsen lain. Deferensiasi tersebut mencapai perubahan fisik dari atribut produk. Ingatan konsumen dalam pengenalan produk mulai berkembang dengan lebih mengenal merek sebagai dasar dalam menilai konsistensi dan kualitas produk. Konsumen mulai menggunakan basis merek dalam memberikan citra dan menentukan pilihan mereka. Namun, konsumen masih menilai merek dengan mengutamakan kegunaan dan nilai produknya. Kelompok konsumen utilitarian ini dideskripsikan oleh Csikszenmihalyi dan Rochberg- Harlton sebagai sebuah instrumental, dikarenakan mereka adalah konsumen yang dapat mencapai tujuan yang sebenarnya dan menikmatinya dalam penggunaan produk sebagai objek.

Ketiga Brand as a personality artinya diferensiasi dalam merek pada atribut fungsional dan rasional menjadi semakin sulit sejalan dengan banyak produsen yang membuat klaim yang sama. Oleh karena itu marketer mulai membuat kepribadian dalam merek yang mereka pasarkan. Pada dua tahapan sebelumnya, ada perbedaan antara konsumen dan merek. Merek adalah objek dengan jarak tertentu yang dapat dihilangkan dari konsumen. Tetapi pada tahapan ini brand personality dengan konsumen disatukan sehingga nilai suatu merek menjadi terekspresikan dengan sendirinya. Konstruksi sosial menjelaskan secara simbolis perilaku alamiah dari sebuah merek. Semua individu terlibat dalam proses transmisi, reproduksi dan transformasi arti sosial dari sebuah objek.

Sebagai konsumen, individu dalam suatu kelompok sosial menginterpretasikan informasi dari pemasar dalam periklanan dan mereka menggunakan merek untuk mengirim

signal pada konsumen tentang diri mereka sendiri. Orang lain menginterpretasikan signal tersebut pada bentuk citra dan sikap pada pemakai merek. Jika pemakai tidak menunjukkan

reaksi yang diinginkan, maka mereka harus mempertanyakan lagi keputusan untuk memilih merek tersebut. Proses pengkodean arti dan nilai dari merek dan penggunaan merek secara benar sudah aktif terlibat dalam citra merek pada konsumen.

Keempat, Brand as an icon artinya bahwa merek “dimiliki” oleh konsumen. Konsumen memiliki pengetahuan yang lebih dalam tentang merek yang mendunia dan menggunakannya untuk identitas pribadi mereka. Sebagai contoh, koboi Marlboro yang dikenal di seluruh dunia. Koboi yang bertabiat keras, lelaki yang melawan rintangan, tapi tidak kasar dan berpengalaman. Konsumen yang ingin disebut dirinya kuat, keras atau penyendiri seharusnya merokok Marlboro. Koboi tersebut merupakan simbol atau icon dari nilai yang terkandung dalam Marlboro. Untuk dapat memasuki pikiran konsumen dengan baik, icon tersebut harus mempunyai beberapa asosiasi baik primer  maupun yang sekunder. Sebagai contoh, sepatu Air Jordan mempunyai asosiasi primer dengan Michael Jordan dan asosiasi sekunder dengan Basket, Chicago Bulls dan kemenangan. Semakin banyak asosiasi yang dimiliki sebuah merek, semakin besar jaringan dalam memori konsumen dan semakin dapat disukai.

Kelima, Brand as a company artinya  terjadi perubahan ke arah pemasaran postmodern. Dalam hal ini merek memiliki identitas yang kompleks dan banyak berhubungan antara konsumen dan merek. Karena merek sama dengan perusahaan, semua pemegang saham harus merasa bahwa merek alias perusahaan berada dalam model yang sama. Perusahaan tidak dapat terlalu lama mengenalkan satu citra ke media dan citra lain kepada

pemegang saham dan konsumen. Komunikasi dari perusahaan harus integrated pada semua operasi. Komunikasi mengalir dari konsumen ke perusahaan sebaik dari perusahaan ke konsumen, maka terjadilah interaksi yang baik diantara keduanya.

Keenam, Brand as a policy artinya perusahaan sekarang telah memasuki tahapan dimana dibedakan dengan perusahaan lain dikarenakan sebab-sebab etika, sosial dan politik. Contoh paling utama dari tingkatan ini adalah The Body Shop dan Benetton. Konsumen punya komitmen dengan perusahaan untuk membantu membangun merek favoritnya dengan membeli merek tersebut. Dengan komitmen, mereka mengatakan bahwa mereka memiliki merek tersebut.

Pada tahapan lima dan enam nilai dari merek berubah. Sementara pada tahap satu sampai empat nilai merek adalah instrumental karena nilai tersebut membantu konsumen mencapai tujuan sebenarnya. Merek pada tahapan kelima dan enam memberikan contoh nilai akhir yang diharapkan oleh konsumen. Pada tahapan ini konsumen memiliki merek, perusahaan dan kebijakannya. Perusahaan dapat memilih tahapan merek mana yang akan diterapkan, biasanya tahap ketiga dan keempat yang banyak menjadi sasaran, sedangkan pada tahap kelima dan keenam membutuhkan waktu yang cukup lama dan effort yang sangat intensif.

Kotler dan Armstrong menyampaikan empat tingkat arti dari sebuah merek adalah diantaranya pertama, atribut sebuah merek pertama-tama akan mengingatkan orang pada atribut produk tersebut. Mercedes membawa atribut seperti, “dilengkapi dengan mesin canggih”, “dibuat dengan material bermutu tinggi”, “tahan lama”, “prestigious”, “cepat”, “mahal”, dan “bernilai jual tinggi”. Perusahaan dapat menggunakan satu atau beberapa atribut ini untuk mengiklankan mobilnya. Selama bertahun-tahun Mercedes Benz mengiklankan “dilengkapi dengan mesin canggih yang berbeda dari mobil lain di seluruh dunia”. Ini memberikan landasan positioning bagi atribut lain dari mobil.

Kedua, pelanggan tidak membeli atribut, mereka membeli manfaat. Oleh karena itu atribut harus diterjemahkan menjadi manfaat fungsional dan emosional. Misalnya, atribut “awet” dapat diterjemahkan menjadi manfaat fungsional seperti  “saya tidak perlu membeli mobil baru setiap beberapa tahun”. Atribut “mahal” diterjemahkan menjadi manfaat emosional seperti “mobil ini membuat saya merasa penting dan dihormati”. Atribut “dibuat dengan bahan bermutu tinggi” mungkin bisa diterjemahkan menjadi manfaat fungsional dan emosional seperti “saya merasa aman sekalipun terjadi kecelakaan”.

Ketiga, Value sebuah merek juga mencerminkan sesuatu mengenai nilai-nilai pembeli. Jadi, seorang pembeli Mercedes mungkin menilai prestasi, keamanan, dan harga diri tinggi. Pemasar merek harus mengenali kelompok spesifik pembeli mobil yang nilainya sesuai dengan kemasan manfaat yang disampaikan.

Keempat, kepribadian merek juga menggambarkan sebuah kepribadian. Seorang peneliti marketing kadang bertanya, “apabila merek adalah seorang manusia, maka seperti apa gambaran kepribadiannya?”. Konsumen mungkin membayangkan sebuah mobil Mercedes Benz  sebagai seorang eksekutif muda yang kaya. Maka merek akan menarik orang yang gambaran sebenarnya dan citra dirinya cocok dengan citra merek tersebut.

Kemudian apabila kita berbicara mengenai pelanggan yang loyal maka didefinisikan oleh Newman dan Werbel sebagai mereka yang membeli kembali sebuah merek, hanya mempertimbangkan merek tersebut dan tidak mencari informasi merek lain. Namun seiring dengan berkembangnya penelitian yang banyak dilakukan, maka definisi tersebut terasa kurang memadai kemudian timbulah definisi lain mengenai loyalitas merek seperti telah diungkapkan oleh Jacoby dan Kryner dalam yang menyatakan loyalitas merek adalah respon perilaku yang bersifat bias, terungkap secara terus menerus oleh unit pengambilan keputusan dengan memperhatikan satu atau beberapa merek alternatif dari sejumlah merek sejenis dan merupakan fungsi proses psikologis.

Menurut definisi tersebut penelitian tentang loyalitas merek selalu berkaitan dengan preferensi konsumen dan pembelian aktual, meskipun bobot relatif yang diberikan pada kedua variabel itu dapat berbeda tergantung pada bidang produk atau merek yang terlibat dan faktor situasional yang ada pada saat pembelian tertentu dilakukan. Pemahaman tentang dua faktor psikologis dan faktor situasional yang dapat mempengaruhi keputusan pembelian mencerminkan critical information yang dapat mempengaruhi pengembangan rencana dan strategi pemasaran. Contohnya yaitu loyalitas sebuah merek yang rentan terhadap perbedaan harga atau terhadap kondisi kehabisan persediaan memerlukan perhatian yang lebih besar pada penetapan harga kompetitif dan alokasi sumber yang lebih banyak untuk mempertahankan distribusi dibandingkan dengan loyalitas sebuah merek yang kurang rentan terhadap dua variabel pemasaran tersebut. Dengan demikian pernyataan ini sesuai dengan tujuan bagaimana menemukan strategi yang cocok pada tingkatan loyalitas yang berbeda-beda dan juga mengukur sensitifitas loyalitas terhadap sebuah merek.

Secara teoritis terdapat enam kemungkinan hubungan antara kepuasan dan loyalitas yaitu pertama, kepuasan dan loyalitas merupakan manifestasi berbeda dari sebuah konsep yang sama.  Kedua, kepuasan merupakan konsep inti dari sebuah loyalitas, dimana tanpa kepuasan tidak akan terdapat loyalitas, sehingga kepuasan merupakan faktor pembentuk loyalitas. Ketiga, kepuasan mempunyai peran dalam pembentukan loyalitas dan kepuasan memang bagian dari loyalitas namun hanya merupakan salah satu komponen loyalitas. Keempat, loyalitas dan kepuasan merupakan komponen dari loyalitas mutlak. Dan kelima, sebagian dari kepuasan dijumpai dalam loyalitas, namun bukan bagian kunci dari hakikat sebuah loyalitas.  Kepuasan merupakan awal dari urutan transisi perubahan yang berkulminasi pada sebuah kondisi loyalitas yang terpisah dan loyalitas bisa saja menjadi bebas terhadap kepuasan sehingga ketidakpuasan tidak akan berpengaruh pada loyalitas.

Teori di atas menunjukan terdapat ketidakjelasan hubungan antara loyalitas dengan kepuasan. Mittal dan Lassar memberikan pendapat bahwa hubungan antara loyalitas dengan kepuasan adalah asymmetrical. Ketidakpuasan pasti menyebabkan mitigasi merek tetapi kepuasan belum tentu menyebabkan loyalitas.

Parraga, Arturo dan Alonso membuat beberapa proposisi tentang semua variabel antecedent dari loyalitas pelanggan yaitu pertama, pengalaman positif pertama dalam bentuk kepuasan atas produk, atas pemasar, mengawali proses keseluruhan yang mengarah pada loyalitas pelanggan. Kedua, komitmen hubungan merupakan prasyarat awal yang harus dipenuhi dalam pertukaran bisnis dengan konsumen. Ketiga, kepercayaan mengarah pada komitmen hubungan dalam pertukaran bisnis dengan konsumen. Keempat, proses kognitif dan efektif mengawali pembentukan dan kinerja dari komitmen dan kepercayaan, dimana keduanya mendorong loyalitas pelanggan dalam pertukaran bisnis dengan konsumen. Kelima, keluaran proses kognitif yang berdampak pada kepercayaan adalah tingkat pengenalan produk dan komunikasi. Keenam, keluaran proses afektif yang berdampak pada komitmen adalah keterlibatan konsumen dan norma- norma serta nilai yang dimiliki bersama.

Keluaran dari proses afektif yang berdampak pada kepercayaan adalah perilaku opportunistic, norma serta nilai yang dimiliki bersama. Sedangkan loyalitas dikonseptualisasikan sebagai sebuah niat perilaku untuk memelihara hubungan yang sedang berlangsung dengan penyedia jasa dan merupakan sebuah relasional construct yang dapat dibentuk oleh suatu pertukaran tertentu. Secara umum loyalitas merek dapat diukur dengan melalui runtutan pilihan merek, proporsi pembelian, rreferensi merek, dan komitmen merek.  Sedangkan skala loyalitas harus mengacu pada dua hal, yaitu ketertarikan konsumen pada sebuah merek dan kerentanan konsumen untuk berpindah ke merek yang lain.

Penentuan harga memiliki berbagai macam strategi sesuai dengan tahap yang dilalui oleh sebuah produk atau jasa. Kotler dan Armstrong mengelompokkan strategi penentuan harga sebagai berikut,  pertama, strategi penetapan harga produk baru.Yakni penetapan harga untuk memenangkan pasar dan penetapan harga untuk penetrasi pasar. Kedua, strategi penetapan harga mix product, yakni penetapan harga lini produk, penetapan harga produk pilihan, penetapan harga produk terkait, penetapan harga produk sampingan, dan penetapan harga paket produk. Ketiga, strategi penyesuaian harga, yang terdiri dari penetapan harga diskon dan pengurangan harga, penetapan harga tersegmentasi, penetapan harga psikologis, penetapan harga untuk promosi, penetapan harga murah dan penetapan harga berdasarkan geografis. Keempat, strategi menghadapai perubahan harga, yaitu memelopori perubahan harga, bagaimana bereaksi terhadap sebuah perubahan harga.

Kita ketahui bahwa harga tidak bermain sendirian dalam perilaku pemilihan. Masih terdapat pertimbangan lain selain harga, yaitu kategorisasi harga konsumen atau utilitas harga. Kategorisasi harga konsumen atau utilitas harga tidak stabil dan selalu berubah selama proses memilih, kemudian konsumen melakukan hal serupa pada harga seperti mereka memilih sebuah merek. Ini sama halnya dengan konsumen menetapkan keinginan membeli melalui proses yang cukup kompleks dengan mempertimbangkan harga, merek dan toko dimana mereka membeli. Merek mendapatkan posisi yang sejajar dengan harga, dimana hal ini menunjukkan bahwa keputusan konsumen dipengaruhi oleh merek dan harga atau merek mempunyai pengaruh lebih besar daripada harga, atau harga punya pengaruh lebih besar daripada merek. Dengan kesejajaran merek dan harga dalam perilaku pembelian, perlu dilakukan penelitian sampai sejauh mana relationship antara keduanya.

Oleh karena itu, untuk menyelidiki sensitifitas loyalitas terhadap perubahan harga, dan strategi penentuan harga untuk masing-masing tingkatan loyalitas, dengan didahului oleh pengukuran tingkat loyalitas itu sendiri pada merek-merek tertentu maka dapat dirumuskan masalah faktor-faktor apakah yang berpengaruh terhadap loyalitas merek, apakah perubahan harga berpengaruh pada loyalitas merek, sejauh manakah sensitifitas loyalitas merek terhadap perubahan harga dan strategi penentuan harga seperti apa yang sesuai untuk masing-masing tingkat loyalitas merek. Seperti telah di uraikan bahwa pengukuran terhadap loyalitas merek dipengaruhi oleh runtutan pilihan merek, proporsi pembelian dan preferensi merek serta komitmen merek. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa semakin homogen runtutan pilihan merek, maka semakin loyal pelanggan terhadap merek. Semakin besar proporsi pembelian terhadap merek tertentu, maka semakin loyal pelanggan terhadap merek tersebut. Semakin tinggi preferensi terhadap merek tertentu, maka semakin loyal pelanggan terhadap merek tersebut. Semakin besar komitmen terhadap merek tertentu, maka semakin loyal pelanggan terhadap merek tersebut. Dan dapat disimpulkan pula bahwa harga memiliki peranan berbeda pada setiap tahapan proses pengambilan keputusan. Namun demikian pada proses tahapan berurutan memilih aturan harga menjadi begitu kompleks dan tidak stabil. Maka semakin tinggi perubahan kenaikan harga,  akan menyebabkan semakin berkurangnya loyalitas merek. Selanjutnya adalah mengenai sensitifitas loyalitas merek terhadap harga, dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi tingkat loyalitas merek, semakin tidak sensitif terhadap kenaikan harga. Semakin tinggi tingkat loyalitas merek, semakin tidak sensitif terhadap penurunan harga. Kemudian mengenai strategi penentuan harga untuk masing-masing tingkat loyalitas dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi tingkat loyalitas merek, semakin luas pilihan strategi penetapan harga yang sesuai dengan keinginan produsen dan semakin rendah tingkat loyalitas merek, maka semakin sempit pilihan strategi penetapan harga yang sesuai dengan keinginan produsen.

http://www.markplusinstitute.com/index.php?module=writing_contest

 
1 Comment

Posted by on March 13, 2011 in Essay

 

How do Young People Perceived and Valued Creativity: A Study of Future Human Capital in the Field of Higher Education

Anita Maharani

anita.maharani@paramadina.ac.id

Universitas Paramadina, Jalan Gatot Subroto

Kav. 97 Mampang 12790

Ence Ramli Al-Rashid

ence.ramli@students.paramadina.ac.id

Universitas Paramadina, Jalan Gatot Subroto

Kav. 97 Mampang 12790

Abstract

This paper aimed to describe how young people view creativity as a form of personality. Creativity was appointed as the main theme in this paper, because the creativity is often linked as factor behind the success of one’s life. From the point of view of  life, creativity itself is actually a natural part in the life of someone, it is just how people look at the level of creativity and creativity whether a person has, may differ from one individual to another. This paper is trying to raise the issue of whether creativity can strengthen human capital. The unit of analysis of this study is the individual, in this case is young people. Young people is considered as the sample in this study and it is considered because they are potential human capital. Human capital is used as a replacement paradigm of Human Resources (Human Resource), because of a human can not be separated from their knowledge, skills, health, or even values. Method for collecting data is with Focus Group Discussion and surveys. The sample of young people are those whose aged between 17-25 years. Data is collected in a higher education institution in Jakarta. The method of this paper is qualitative research, the technique of sampling is convenience sampling, or in this case the researchers set a sample of 100 people. The problems that is going to be appointed in this research are: (1) how young people view creativity?, (2) if creativity can contribute adding value to an individual?, (3) how youth think about internalizing the creativity into themselves?. The purpose of this study are: (1) to disclose whether the creativity in the young people’s perspective?, (2) whether creativity can make young people have added value compared with no creativity?, And (3) how to internalize the creativity of young people within themselves?. Analysis of data with content analysis.

Keywords: Young People, Point of View, Value, Creativity

Abstraksi

Makalah ini bertujuan untuk memaparkan bagaimana pemuda memandang dan menilai kreativitas sebagai bentuk dari kepribadian. Kreativitas diangkat menjadi tema utama dalam makalah ini, dikarenakan kreatifitas seringkali dikaitkan sebagai faktor dibalik kesuksesan hidup seseorang. Melihat posisinya dalam hidup, kreatifitas sendiri sebenarnya adalah bagian yang alami di dalam kehidupan seseorang, hanya saja bagaimana seseorang memandang kreativitas dan pada tingkat apakah kreativitas yang dimiliki seseorang, mungkin berbeda antara satu individu ke individu lainnya. Makalah ini berusaha mengangkat isu tentang apakah kreativitas dapat memperkuat modal manusia. Unit analisis penelitian ini adalah individu, dalam hal ini pemuda. Pemuda menjadi sampel dalam penelitian ini karena mereka adalah modal manusia yang potensial. Modal manusia digunakan sebagai paradigma pengganti Sumber Daya Manusia (Human Resource), karena seorang manusia tidak dapat terpisahkan dari pengetahuan, keahlian, kesehatan atau nilai-nilai yang dianutnya.Metode pengumpulan data dengan Focus Group Discussion dan survey. Anak muda yang menjadi sampel adalah mereka yang berusia antara 17 – 25 tahun. Pengambilan data dilakukan di sebuah perguruan tinggi di Jakarta. Metode penelitian makalah ini adalah kualitatif, dengan teknik pengambilan sampel adalah convenience sampling, atau dalam hal ini peneliti menetapkan sampel sebanyak 100 orang. Permasalahan yang ingin diangkat dalam penelitian ini adalah: (1) bagaimana pemuda memandang kreativitas?, (2) apakah kreativitas dapat memberikan nilai tambah personal?, (3) bagaimanakah pendapat pemuda tentang cara internalisasi kreativitas ke dalam diri mereka?. Tujuan penelitian ini adalah: (1) untuk mengungkapkan apakah kreativitas dalam sudut pandang pemuda?, (2) apakah kreativitas dapat membuat pemuda memiliki nilai tambah dibandingkan dengan tanpa kreativitas?, dan (3) bagaimana cara anak muda menginternalisasi kreativitas di dalam diri mereka?. Analisis data dengan content analysis.

Kata Kunci: Pemuda, Sudut Pandang, Nilai, Kreativitas

Introduction and Literature Review

We, sometimes questioning, what is creativity?, and how to get it?. In our mind, creativity means something new, that is different from what has been there in our surroundings. However, we think that creativity has a closest relationships with young people. Young people, especially those who are late adolescents (17 – 25 years) are associated with people that is dynamic, full of criticisms and eager to do something that is different with the elderly.

Creativity, may be define according to four dimensions, we may call it as the Four P’s of Creativity, they are, Person, Process, Press and Product.

a.       Creativity = Person,

Is the effort of defining creativity focuses on persons .  “Creativity refers to the abilities that are characteristics of creative people” (Guilford, 1950 in Reni Akbar-Hawadi et.al, 2001). “Creative action is an imposing of one’s own whole personality on the environment in an unique and characteristic way” (Hulbeck, 1945 cited from Munandar, 1999).

b.      Creativity = Process

“Creativity is a process that manifest in self in fluency, in flexibility as well in originality of thinking” (Munandar, 1977 in Reni Akbar-Hawadi dkk, 2001).

c.       Creativity = Press

Simpson (1982) in Munandar 1999, “The initiative that one manifests by his power to break away from the usual sequence of thought”.

d.      Creativity = Product

“Creativity is the ability to bring something new into existence”. (Baron, 1976 in Reni Akbar-Hawadi et.al., 2001).

Creativity is the ability to generate innovative ideas and manifest them from thought into reality.” The process involves original thinking and then producing. (Albert, R.S. & Rounce, M.A,  1999. “A History of Research on Creativity.”)

Creativity is defined as the tendency to generate or recognize ideas, alternatives, or possibilities that may be useful in solving problems, communicating with others, and entertaining ourselves and others (Beyond the Myth of Genius, by Robert W. Weisberg) . Three reasons why people are motivated to be creative: need for novel, varied, and complex stimulation  need to communicate ideas and values need to solve problems

In order to be creative, you need to be able to view things in new ways or from a different perspective. Among other things, you need to be able to generate new possibilities or new alternatives. Tests of creativity measure not only the number of alternatives that people can generate but the uniqueness of those alternatives. the ability to generate alternatives or to see things uniquely does not occur by change; it is linked to other, more fundamental qualities of thinking, such as flexibility, tolerance of ambiguity or unpredictability, and the enjoyment of things heretofore unknown.

According to Wallas (1926), process of creativity as follow:

1.      Preparation Phase; is the phase of collecting information or data as a material to solve problems. In this phase occurs on the basis of experiments in mind the possibility of            solving             various problems experienced.

2.      Incubation; is a step in the troubleshooting process dieraminya preconscious nature. This         stage lasts role in uncertain times, can be long (in days, months, years), and can also only       briefly (only a couple of hours, minutes even seconds). In this stage there is the          possibility of forgetting the process of context, and will remember back in the late stages          of incubation and emergence of the next stage.

3.      Stage Illumination; is the emergence phase of inspiration or ideas to solve problems. In            this phase appears spontaneously forms spark, as described by Kohler with words now, I        see it is more or less means “oh yes”.

4.      Verification phase; is the emergence stage of evaluation activities tarhadap ideas          critically, that has begun to be matched with the real situation or condition of reality.

From the above opinions Wallas views creativity as a process that occurs in the human brain in discovering and developing a new, more innovative ideas and varied (the thinking divergence). According to research, creativity started to disappear on childhood toward adulthood. One study has noted the ability of lead to the original idea. Comparative value of the answer “original” (unique) and “standard” (ordinary) is generated by the following

Age 5 or less                           90 % originally

Age 7                                      20 % originally

Adult                                       2 % originally

The loss of originality is quite amazing. Would not be surprised if before the age of forty, fifty or sixty, more people who feel frustrated or give up when trying to do something creative.

According to Ayan (1997), there are four basic fundamental of seeking creativity, as follow.

a.       Find out by asking a question

b.      Risk, the willingness to leave comfort zone

c.       Energy, the boost of passion

Creativity, Culture, and Csikszentmihalyi

Possibly the most infl uential of the systems models was put forth by Mihalyi Csikszentmihalyi (1988,1990,1996,1999). Csikszentmihalyi (pronounced, approximately, “chicks sent me high”) presented a three-pronged systems model of creativity, including aspects of the person, the domain, and the fi eld. The model has been embraced by other prominent theorists (e.g., Feldman, Csikszentmihalyi, & Gardner, 1994). The model changes one of the basic questions in the study of creativity from “What is creativity?” to “Where is creativity?” It examines creativity profound enough to be described as “the transformation of a cultural system (e.g., chemistry, medicine, poetry)—the incorporation of novelty into the culture” (Nakamura & Csikszentmihalyi, 2001, p. 337).

Csikszentmihalyi saw creativity not as a characteristic of particular people or products, but as an interaction among person, product, and environment. Th e person produces some variation in the information gained from the culture in which he or she lives. Th is variation may result from cognitive fl exibility, motivation, or an unusual and inspiring life experience. However, according to Csikszentmihalyi, examining the mechanisms of novelty in the individual is only part of the picture.

Individuals are not creative in a vacuum (except perhaps on creativity tests). They create in a domain. A playwright creates in a symbol system and tradition of a culture. Without knowledge concerning the conventions of theater and script writing, it would be impossible to be a successful creative playwright. Creativity demands a knowledge base in some domain. A creative mathematician must know mathematics. A biologist must know biology. A carver must be able to carve.

Creativity, Intelligence, and Cognition

The relationship between creativity and intelligence might best be described as “it depends.” It depends on the definition and measures used to assess both creativity and intelligence. Perhaps the most common relationship postulated is the threshold theory. According to this theory, below a certain threshold (approximately 120 IQ) there is a strong, positive relationship between creativity and intelligence; the more intelligent the person, the more likely he or she is to be creative. Above the threshold level, however, the relationship is seen as weaker; a highly intelligent person may be highly or only moderately creative. At that point, intelligence no longer predicts creativity.

Creativity and Intelligence

The most accurate description of the relationship between creativity and intelligence was designated “it depends.” If, like Guilford (1986), you defi ne creativity as part of intelligence, the relationship is quite simple: Creativity is intelligence, or at least part of it. Most theorists, however, distinguish between the two, even if they do so somewhat muddily. In most cases, those who hypothesize that creativity is the product of the same basic cognitive processes as other thoughts recognize that the production of novel, appropriate ideas is distinct from the production of accurate, analytical but unoriginal ideas. Yet experience and common sense seem to indicate a relationship between the two. We probably would be surprised to see an outstanding creative contribution coming from a person of severely limited intelligence. Not withstanding the extraordinary accomplishments of some individuals with savant syndrome, the vast majority of inventions, scientific breakthroughs, great works of literature, and artistic innovations appear to be made by intelligent people.

Creativity, Individuality, and Collaboration

Systems theories invariably entail human interaction. Creative individuals exist within cultures and fi elds made up other human beings. Vygotsky (1960) described the origins of creative thinking itself as occurring in social interactions. One of the more interesting questions raised by such theories is whether creativity is—or need to be—an individual process. John-Steiner (2000), after studying creative collaborations wrote:

The study of collaboration supports the following claim; productive interdependence is a critical resource for expanding the self throughout the life span. It calls for reconsidering theories that limit development to a progression of stages and to biologically preprogrammed capabilities. Th e study of partnered endeavors contribute to cultural-historical and feminist theories with their emphases upon the social sources of development. (p. 191)

John-Steiner proposed that the development and functioning of creative processes can be enhanced through collaborative thinking—thought communities—more powerful than that of a single individual. She cited mathematician Phil David, who described collaboration as “almost as though I have two brains” (p. 190). Playwright Tony Kushner (1997) wrote,

The fiction that artistic labor happens in isolation, and that artistic accomplishment is exclusively the provenance of individual talents, is politically charged, and, in my case at least, repudiated by the facts. While the primary labor on Angels (in America) has been mine, more than two dozen people have contributed words, ideas and structure to these plays … Had I written these plays without the participation of my collaborators, they would be entirely different—would, in fact, never have come to be. (pp. 145–146)

Creativity and Complexity

We may have noticed that some characteristics of creative individuals seem potentially contradictory: fl exible yet logical, risk taking yet committed to task, escaping entrenchment yet fi nding order in chaos. Csikszentmihalyi (1996) believed the complex personalities exemplifi ed by these dichotomies are a hallmark of creativity. Aft er interviewing nearly 100 extraordinary creators, he listed 10 dimensions of complexity on which creative individuals appear to develop both dimensions of a continuum simultaneously:

    1. Creative individuals have a great deal of energy, but also are oft en quiet and at rest. Th ey may work long hours with great intensity, yet value time for rest, refl ection, and rejuvenation.
    2. Creative individuals tend to be smart, yet naïve and able to look with new eyes on the world around them.
    3. Creative individuals are playful yet disciplined.
    4. Creative individuals alternate between imagination and fantasy and a rooted sense of reality. It is this balance that allows their responses to be both original and appropriate.
    5. Creative individuals seem able to express both introversion and extroversion as needed.
    6. Highly creative individuals can be humble while simultaneously being proud of their accomplishments.
    7. Creative individuals seem to be minimally aff ected by gender stereotyping, able to express both masculine and feminine dimensions of their personalities.
    8. Creative individuals typically are seen as rebellious and independent, yet it is impossible to be an eminent creator without having internalized an existing domain. Th erefore, creative people can be at once traditional and rebellious.
    9. Creative individuals can be passionate about their work while maintaining objectivity in their judgments.
    10. Creative individuals, because they are open, experience both suff ering and enjoyment in connection with their creative activities.

Personality Characteristics

Personality characteristics, as opposed to cognitive traits, are less focused on the intellectual patterns or mechanisms with which a person thinks than on aff ective traits: the emotional patterns and personal values that shape thinking and action. Th ese characteristics determine not so much how people are able to think, but how they choose to use their thinking, in what ways and to what ends. Th ere are multiple lists of characteristics from which to choose. In the following discussion, they are synthesized to nine clusters of traits.

Characteristics Associated with Creativity

In the years since the Institute of Personality and Assesment Research (IPAR) studies, characteristics associated with creative individuals have not changed dramatically, but our view of how those characteristics function has become more complex. Researchers have compiled a great many lists of characteristics associated with creative individuals, each slightly diff erent (Barron, 1969; Dacey, 1989; Isaksen, 1987; MacKinnon, 1978; Torrance, 1962). But systems models point out that individual characteristics are not sufficient to explain creative activities. Individuals, however their personal characteristics and experiences might support creativity, still must function in a given domain in a particular time and place. As we puzzle as to whether creativity is general or domain-specific, we must wonder if the characteristics of creative playwrights are likely to be identical to those of creative physicists. Abuhamdeh and Csikszentmihalyi (2004) take the next logical step, pointing out that the personal characteristics necessary for creativity may well vary across both time and discipline. In describing personal characteristics of artists they state,

[W]e propose that the notion of the “artistic personality” is more myth than fact. Although it describes some of the traits that distinguish aspiring artists at certain times under certain conditions, these traits are in no sense required to create valuable art at all time, in all places…..because the social and cultural constraints on the artistic process vary signifi cantly across time and place, the nature of the artistic personality will vary accordingly. (p. 32)

Th e Osborn-Parnes Model

The Osborn-Parnes model of Creative Problem Solving (CPS) was developed over more than 50 years by several theorists. It diff ers from the models of creativity previously described in that it was designed not just to explain the creative process, but also to allow individuals to use it more effectively. CPS is a model designed for action.

The CPS model was developed originally by Osborn (1963), who also originated brainstorming and was highly successful in advertising. He was interested not just in theorizing about creativity, but also in fi nding ways to use it well. Th e process was developed and elaborated by Parnes (1981), and later by Isaksen and Treffi nger (1985). Each version of the process includes a number of steps that involve both divergent (fi nding many ideas) and convergent (drawing conclusions and narrowing the fi eld) stages of problem solving. Early versions were represented in a linear form with alternating periods of convergent and divergent thought.

The processes were designated as fi nding the ideas needed at each state: (a) Mess-fi nding, (b) Data-Finding, (c) Problem-Finding, (d) Idea-Finding, (e) Solution-Finding, and (f) Acceptance-Finding. In the early 1990s a more fluid model was suggested that divided the stages into three general components: Understanding the Problem, Generating Ideas, and Planning for Action (Treffi nger & Isaksen, 1992; Treffi nger, Isaksen, & Dorval, 1994). Th is view presented the states not as a prescribed sequence, but as a set of tools that can be used in the order and to the degree necessary for any problem.

The problems that is going to be appointed in this research are: (1) how young people view creativity?, (2) if creativity can contribute adding value to an individual?, (3) how youth think about internalizing the creativity into themselves?. The purpose of this study are: (1) to disclose whether the creativity in the young people’s perspective?, (2) whether creativity can make young people have added value compared with no creativity?, And (3) how to internalize the creativity of young people within themselves?.

Method

The method of this research is with Focus Group Discussion and surveys. The sample of young people are those whose aged between 17-25 years. Data is collected in a higher education institution in Jakarta. The method of this paper is qualitative research, the technique of sampling is convenience sampling, or in this case the researchers set a sample of 100 people. However, since there are 100 questionnaire sent to our respondents, 30 of them returned the questionnaire.

Results and Analysis

From Focus Group Discussions, that is followed by two groups (different site) consists of six first year a University Students, revealed answers from what they think about creativity, what they think might added value might be resulted from creativity and how to internalize creativity. The questionnaire originated was construct with Bahasa.

As follow.

Q.1. What is creativity?

a.       Creativity is a real form of creative attitude

b.      Creativity is an individual potential

c.       Creativity occurs in certain areas

d.      Creativity is creating new things

e.       Creativity is the solution to find a way out of an existing

f.       Creativity is a way of thinking outside the customs

g.      Creativity is an activity to make something different

h.      Creativity is innovation

i.        Creativity is inspiring

j.        Creativity is something unexpected

k.      Creativity comes from subconscious

Q2. What they think might added value might be resulted from creativity?

a.       Creativity forms personality

b.      Creativity produce an achievement

c.       Creativity develop the mindset

d.      Creativity will distinguish one person from another person

e.       Creativity is part of life

f.       Creativity will make a person gets more respect

Q3. How to internalize creativity?

a.       Creativity comes from ourselves

b.      Media is use to educate and to free creativity

c.       Creativity comes from interactions

d.      Creativity comes from persons view a problem from various viewpoints

e.       Creativity comes from the number of reading on other people’s work

f.       Creativity comes from the habit of seeing other

g.      Creativity is obtained from having leisure activity

h.      Creativity occurs when dreaming

After having the FGD, we construct the indicators to measure what purpose we’re intend in this research. Using SPSS, the results as follow.

STATEMENTS Mean Std. Deviation
Creativity is a real form of creative attitude 5.93 1.015
Creativity is an individual potential 6.13 .937
Creativity occurs in certain areas 3.07 1.388
Creativity is creating new things 5.80 1.789
Creativity is the solution to find a way out of an existing 5.63 1.159
Creativity is a way of thinking outside the customs 5.40 1.192
Creativity is an activity to make something different 5.73 1.015
Creativity is innovation 5.87 1.042
Creativity is inspiring 5.63 1.129
Creativity is something unexpected 4.83 1.464
Creativity comes from subconscious 3.80 1.627

From above, statement that has the highest mean and lowest standard of deviation is “Creativity is an individual potential”. However, in order, according to the mean, respondents perceived creativity as:

1.      …a real form of creative attitude

2.      …innovation

3.      …creating new things

4.      …an activity to make something different

5.      …inspiring

6.      …is the solution to find a way of an existing

7.      …is a way of thinking outside the customs

8.      …is something unexpected

9.      …comes from subconscious

10.  …occurs in certain areas

The result, may be analyze, that majority of respondents do perceived that creativity is an individual potential. But, on the other hand, they perceived less agree on perceiving creativity comes from subconscious. Therefore, we may assume that the respondents would feel agree if creativity comes from consciousness.

STATEMENTS Mean Std. Deviation
Creativity forms personality 4.90 1.269
Creativity produce an achievement 5.63 .999
Creativity develop the mindset 5.97 1.066
Creativity will distinguish one person from another person 5.53 1.358
Creativity is part of life 5.57 1.104
Creativity will make a person gets more respect 5.17 1.440

From above, statement that has the highest mean is “Creativity develop the mindset”. However, the lowest standard deviation is “Creativity produce an achievement”. Orderly, according to mean, respondents perceived added value of creativity, as follow:

1.      …produce an achievement

2.      …part of life

3.      …will distinguish one person from another person

4.      …will make a person gets more respect

5.      …forms personality

The result, may be analyze, that majority of respondents do perceived that creativity would develop the mindset, as an added value. However, though this statement was the highest mean, is has 1.066 as standard deviations. On the other hand, the statement “Creativity forms personality” was the lowest mean. Therefore, we may assume that the respondent would feel agree if creativity does not form personality.

STATEMENTS Mean Std. Deviation
Creativity comes from ourselves 4.00 1.762
Media is use to educate and to free creativity 4.67 1.155
Creativity comes from interactions 4.70 1.291
Creativity comes from persons view a problem from various viewpoints 5.23 .898
Creativity comes from the number of reading on other people’s work 5.23 1.006
Creativity comes from the habit of seeing other 5.30 .988
Creativity is obtained from having leisure activity 4.97 1.159
Creativity occurs when dreaming 4.13 1.548

From above, statement that has the highest mean is “Creativity comes from the habit of seeing other”. But, according to the standard deviation, “Creativity comes from persons view a problem from various viewpoints”. Orderly, according to mean, respondents perceived on how to internalize creativity, as follow:

1.      …comes from persons view problem from various viewpoints

2.      …comes from the number of reading on other peoples work

3.      …is obtained from having leisure activity

4.      …comes from interactions

5.      … media is use to educate and to free creativity

6.      …occurs when dreaming

7.      …comes from ourselves

The result, may be analyze, that the majority of respondents do perceived that creativity comes from the habit of seeing other, or we may conclude it comes from observing others. But, however, from the standard deviation, the lowest one is creativity comes from persons view a problem from various viewpoints. On the other hand, the statement, creativity comes from ourselves was the lowest in mean. We may assume that the respondents would feel agree with the statement if it is stated creativity was not come from ourselves, meaning that there is an external factor to internalize creativity.

Conclusions

This research is seeks to have an understanding on how young people perceived creativity. Their respond shows in two different ways, from FGD and questionnaire. Both FGD and questionnaire following the literature stated above, especially the Four P’s of Creativity. However, responds on the second and third problem statement may not following the literature stated above. For the second problem statement, respondent perceived that creativity develop mindset as an added value. However, interesting to find out that on how to internalize creativity, the respondents perceived less on creativity comes from us, this might give reason that creativity needs a help from externality to stimulate the mind. Respondents perceived that creativity comes from the habit of seeing other, which may mean that creativity comes from observing others. By observing, we may seek for opportunity. Also, that creativity comes from persons view a problem from various viewpoints.

References

Ayan. E. Jordan. (1997), 10 Ways to Free Your Creative Spirit and Find Your Great ideas, Three Rivers Press, US.

Buzan. T. (2002), Use Your Head, New York.

Gardner. H. (1983), Frames of Mind : The Theory of Multiple Intelegences, Basic Books, New York.

Kamii, C. (1989). Young children continue to reinvent arithmetic. New York: Teachers College Press.

Kaufman, J. C. & Sternberg, R. J. (Eds.). (2006). Th e international handbook of creativity. New York: Cambridge University Press.

Kay, S. (1994). From theory to practice: Promoting problem fi nding behavior in children. Roeper Review, 16, 195–197.

Keating, D. P. (1983). Th e creative potential of mathematically gift ed boys. In R. Albert (Ed.), Genius and eminence: Th e social psychology of creativity and exceptional achievement (pp. 128–137). London: Pergamon.

Keats, E. J. (1962). Th e snowy day. New York: Scholastic.

Kelley, T. (2001). Th e art of innovation: Lessons in creativity from IDEO, American’s leading design fi rm. New York: Doubleday.

Kendall, J. S., & Marzaho, R. J. (1997). Content knowledge: A compendium of standards and benchmarks for K-12 education (2nd ed.). Alexandria, VA: Association for Supervision and Curriculum Development.

Khaleefa, O. H., Erdos, G., & Ashria, I., H. (1997). Traditional education and creativity in an Afro-Arab Islanic Culture:Th e case of Sudan. Journal of Creative Behavior, 31(3), 201–211.

Khatena, J. (1992). Gift ed: Challenge and response for education. Itasca, IL: Peacock.

Khatena, J., & Bellarosa, A. (1978). Further validity evidence of something about myself. Perceptual and Motor Skills, 47,906.

Khatena, J., & Torrance, E. P. (1976). Manual for Khatena-Torrance creative perceptions inventory. Chicago: Stoelting.

Khatena, J., & Torrance, E. P. (1990). Manual for Khatena-Torrance creative perception inventory for children, adolescents, and adults. Bensenville, IL: Scholastic Testing Service.

Kilpatrick, J., Swaff ord, J., & Findell, B. (Eds.). (2001). Adding it up: Helping children learn mathematics. Washington, DC: National Academic Press.

Kim, K. H. (2005). Learning from each other: Creativity in East Asian and American Education. Creativity Research Journal, 17, 337–347.

Kim, K. H. (2008). Meta-analyses of the relationship of creative achievement to both IQ and divergent thinking test scores. Journal of Creative Behavior, 42, 2008, 106–130.

Kingore, B. (1990). Kingore observation inventory. Des Moines, IA: Leadership Publishing.

Kinney, D., Richards, R., Lowing, P. A., LeBlanc, D., Zimbalist, M. E., & Harlan, P. (2000–2001). Creativity in off spring of schizophrenic and control parents: An adoption study: Creativity Research Journal, 13, 17–25.

Kirschenbaum, R. J. (1989). Understanding the creative activity of students. Mansfi eld Center, CT: Creative Learning Press.

Kirschenbaum, R. J. (1998). Th e creativity classifi cation system: An assessment theory. Roeper Review, 21(1), 2026.

Kris, E. (1976). On preconcious mental processes. In A. Rothenberg & C. R. Hausman (Eds.), Th e creativity question (pp.135–143). Durham, NC: Duke University Press. Reprinted from Psychoanalytic explorations in art (pp. 303, 310–318). New York: International Universities Press.

Kubie, L. S. (1958). Neurotic distortion of the creative process. Lawrence: University of Kansas Press.

Kulp, M., & Tarter, B. J. (1986). Th e creative processes rating scale. Th e Creative Child and Adult Quarterly, 11, 173–176.

Kushner, T. (1997). Is it a fi ction that playwrights create alone? In F. Barron, A. Montuori, & B. Barron (Eds.), Creators on creating (pp. 145–149). New York: Putnam Books.

Lee, J., & Cho, Y. (2007). Factors aff ecting problem-fi nding depending on degree of structure of problem situation. Journal of Educational Research, 10, 113–124.

Leibermann, J. (1977). Playfulness: Its relationship to imagination and creativity. New York: Academic Press.

Lepper, M., Greene, D., & Nisbet, R. (1973). Undermining children’s intrinsic interest with extrinsic rewards: A test of the “overjustifi cation” hypothesis. Journal of Personality and Social Psychology, 28, 129–137.

Liep, J. (2001). Locating cultural creativity. Sterling, VA: Pluto Press.

Lissitz, R. W., & Willhoft , J. L. (1985). A methodological study of the Torrance tests of creativity. Journal of Educational Measurement, 22, 1–11.

Londner, L. (1991). Connection-making processes during creative task activity. Journal of Creative Behavior, 25, 20–26.

Munandar. Utami. S.C. (2001), Pengalaman Hidup 10 Tokoh Kreativitas Indonesia, Pustaka Populer Obor, Jakarta.

Negus. K, Pickering. M. (2004), Creativity, Communication and Cultural Value, SAGE Publication Ltd, London.

Starko. Jordan. A. (2010), Creativity in The Classroom, Taylor and Francis.

Wallas. G. (1993), The Art of Thought, Harcourt, Brace, New York.

 
Leave a comment

Posted by on March 13, 2011 in Research Paper

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.