RSS

NETIZEN MERUPAKAN SUB-CULTURE YANG PENTING DAN EFEKTIF DALAM MEMENANGKAN PERSAINGAN DI PASAR INDONESIA ERA MILLENIUM KETIGA

13 Mar

(studi mengenai key success factor dalam marketing strategy for entering the golden bridge of Indonesia)

Ramli Alrashid

Jalan Gatot Subroto Kav 97 Jakarta, Indonesia 12790

M : +6289-7751-8002 E : ence.ramli@students.paramadina.ac.id

ramlialrashid@live.com

ABSTRACT

MarkPlus Insight survey conducted in eight major cities in Indonesia shows that one out of three people in an urban family is Netizen. It is also found that many have confessed that they have never used the internet, altought they are already very active in Facebook and Twitter. Blackberry has become quite and fenzy in Indonesia because it can accelerate chatting via GPRS does not need 3G. The Minister of Communication and Information also explained that Indonesia could be a number of Netizen has reached 45 million people. And is not uncommon for people to buy a new mobile gadget once every three months. People Indonesia began to enjoy the “connected” with others and the world via the Internet. And this phenomenon is a potential market for the marketer to win the competition in the Indonesian market in the Third Millennium era.

Keyword: Markplus Survey, Netizen, Potential Market

ABSTRAK

Survey Markplus Insight yang dilakukan di delapan kota besar Indonesia menunjukan bahwa satu dari tiga orang dalam keluarga kota adalah Netizen. Juga ditemukan bahwa banyak orang mengaku belum pakai internet padahal sudah keranjingan Facebook dan Twitter. Blackberry jadi ngetop di Indonesia karena bisa memperlancar chatting melalui GPRS tidak perlu 3G. Menkominfo pun menjelaskan, bisa jadi jumlah Netizen Indonesia sudah mencapai 45 juta orang. Dan tidak jarang orang membeli mobile gadget baru tiap tiga bulan sekali. Orang Indonesia mulai menikmati “connected” dengan orang lain dan dunia melalui internet. Dan fenomena ini merupakan  potential market bagi para marketer untuk memenangkan persaingan di pasar Indonesia era Millenium Ketiga.

Keyword: Markplus Survey, Netizen, Potential Market

PENDAHULUAN

Tahun 2011  adalah tahun pertama di dekade kedua dalam Millenium ketiga. Di Indonesia sendiri, 2011 akan tercatat sebagai salah satu tonggak sejarah pemasaran. Pasalnya, perilaku konsumen akan berubah drastis menjadi lebih konsumtif baik karena didorong oleh semakin meningkatnya kesejahteraan maupun oleh semakin banyaknya pendekatan pemasaran yang memicu konsumsi. Dunia pemasaran di Indonesia pun telah memasuki era baru yaitu era pemasaran digital. Era pemasaran yang menggabungkan faktor psikologis, humanisme antropologi, dan teknologi yang menghasilkan sebuah efektivitas baru dengan kapasitas besar, interaktif dan multimedia. Kombinasi interaksi antara konsumen, media dan produsen disinergikan ke dalam suatu bentuk kontak digital baru, yaitu melalui internet.

Survey Markplus Insight yang dilakukan di delapan kota besar Indonesia menunjukan bahwa satu dari tiga orang dalam keluarga kota adalah Netizen. Juga ditemukan bahwa banyak orang mengaku belum pakai internet padahal sudah keranjingan Facebook dan Twitter. Blackberry jadi ngetop di Indonesia karena bisa memperlancar chatting melalui GPRS tanpa perlu menggunakan 3G. Menkominfo pun menjelaskan, bisa jadi jumlah Netizen di Indonesia saat ini sudah mencapai 45 juta orang. Dan tidak jarang orang membeli mobile gadget baru tiap tiga bulan sekali. Orang Indonesia mulai menikmati “connected” dengan orang lain di seluruh dunia melalui internet. Dan menurut survey tersebut Indonesia akan semakin merasakan tren 3-C yaitu semakin connected-nya masyarakat Indonesia karena dorongan teknologi, semakin credible-nya posisi Indonesia di dunia, dan semakin creative-nya pasar Indoensia (lihat Gambar 1)

Dan menjelang akhir tahun 2011, menurut Markplus Consulting  akan terlihat bahwa pasar Indonesia akan menjadi semakin “creative”. Maka dari itu sebagai pemasar, sudah tentu harus mulai mempersiapkan trik dan strategi jitu untuk bisa fokus pada pergeseran pasar Indonesia yang menjadi semakin kreatif ini dengan berkembangnya konsumen urban, middle class, dan youth-women-netizen.

Paper ini akan membahas lebih dalam dan secara rinci bagaimana sebagian besar masyarakat Indonesia sebagai Netizen dan potential market untuk pemasaran produk bisa dikuasai melalui trik dan strategi jitu yang harus dilakukan oleh setiap pemasar agar dapat memanfaatkan kemajuan teknologi ini sebagai tools dalam memenangkan dan menguasai potential market tersebut di era Millenium ketiga ini.

KAJIAN LITERATUR

1. Market Condition di Indonesia

Dewasa ini aspek political-legal di Indonesia semakin dianggap stabil dibandingkan dengan negara-negara tetangganya. Walaupun di tahun pertama pemerintahan rezin SBY-Budiono terjadi banyak permasalahan, namun semua partai politik sepertinya memiliki konsensus untuk mempertahankan pemerintah ini sampai 2014. Oleh karena itu pemerintah pun akan semakin mantap ketika mulai menjadi ketua ASEAN selama setahun kedepan. Demikian juga dengan kebijakan pemerintah, terutama dengan menitikberatkan pada konektivitas Indonesia melalui infrastruktur, energi dan pemantapan industrialisasi.

Di bidang perekonomian, Indonesia akan segera mencapai GDP per capita sebesar USD 3000 yang akan membuat pasar menjadi semakin bergairah (lihat Gambar 2). Bahkan ketua Komite Ekonomi Nasional, Chairul Tanjung, mengatakan bahwa Indonesia bisa jadi sudah menduduki peringkat ke-13 di antara negara-negara yang duduk di barisan G-20. Tahun 2011, diharapkan ketiga lembaga rating terkemuka di dunia akan mengikuti rekannya dari Jepang untuk memasukan Indonesia ke dalam Invesment Grade.

Sedangkan dalam bidang social-culture, akan terlihat bahwa demokrasi di Indonesia sudah mencapai tingkat kematangan.Tidak ada lagi demonstrasi dekstruktif yang didukung rakyat. Kebebasan pers juga sudah mencapai titik equilibrium baru dalam hal tanggung jawab nasional. Ini adalah situasi dimana indonesia akan memasuki “credible condition” secara politik , ekonomi, maupun sosial (lihat Tabel 3 dan 4).

Dan menjelang akhir tahun 2011, menurut Markplus Consulting  akan terlihat bahwa pasar Indonesia akan menjadi semakin “creative”. Maka dari itu sebagai pemasar, sudah tentu harus mulai mempersiapkan trik dan strategi jitu untuk bisa fokus pada pegeseran pasar Indonesia yang menjadi semakin kreatif ini dengan berkembangnya konsumen urban, middle class, dan youth-women-netizen.

2. Fenomena Urban Movement di Indonesia

Pada akhit tahun 2010 telah diestimasi bahwa sudah separuh lebih penduduk Indonesia menghuni daerah urban. Ini akan menjadi titik balik dari kondisi lima tahun terakhir dimana penduduk pedesaan masih sedikit lebih banyak dari penduduk perkotaan. Menurut Bada Pusat Statistik diprediksi bahwa dengan tren sekarang di tahun 2025, akan ada sekitar 68% penduduk yang akan tinggal di daerah perkotaan.[1]

Perpindahan menuju daerah perkotaan mempunyai banyak implikasi terhadap psikografi dan perilaku konsumen. Pertama, pengeluaran konsumen cenderung akan meningkat karena biaya hidup dan pola konsumsi mereka akan meningkat. Karena Social Economic Status dan posisi konsumen dalam piramida perekonomian di Indonesia ditentukan berdasarkan tingkat pengeluarannya, kita akan melihat perpindahan konsumen dari piramida bagian bawah ke tingkat yang paling tinggi.

Dan kita ketahui urban people memiliki gaya hidup yang serba cepat. Oleh karena itu, mobilitas menjadi penting. Telepon genggam, kerap dengan mobile internet wajib dibawa kemana saja. Bahkan urban consumer di tingkat teratas juga sering membawa gadget pelengkap seperti netbook atau tablet. Seringkali, mereka mengandalkan pembayaran dengan kartu kredit atau debit dan jarang sekali membawa uang tunai yang terlalu banyak. Karena mereka tinggal diperkotaan dengan begitu banyak marketing supply, mereka menjadi terbiasa memproses informasi dengan cepat, baik yang dibaca atau didengar dari televisi, internet atau dari media lainnya.

Selain itu gaya hidup dan fashion mereka sangat terpengaruh oleh dunia luar. Area mall dan cafe outdoor menjadi menarik karena menjadi sumber referensi mereka terhadap tren yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Terutama di Indonesia dan Asia pada umumnya, konsumen masih sangat tergantung pada opini publik. Semua yang terlihat trendy akan menjadi tren yang sesungguhnya karena banyaknya konsumen yang akan mendukung kondisi tersebut.

3. Fenomena Middle Class Emergence

Middle class bisa didefinisikan secara sederhana sebagai ornag yang sudah berada di atas garis kemiskinan sehingga sudah dapat memenuhi basic need mereka. Mereka tidak lagi berjuang keras untuk hidup, dan sekitar sepertiga penghasilan mereka adalah untuk discretionary spending atau pengeluaran non-wajib. Karena itu, mereka mampu membeli barang-barang kebutuhan non-pokok seperti gadget, smartphone, jewerly, dan lain sebagainya[2].

Middle class secara umum lebih progresif pemikirannya dibandingkan lower class karena mereka mempunyai kesempatan untuk berpikir di luar pemenuhan kebutuhan pokok karena mereka mudah terkoneksi dengan akses informasi yang begitu luas dimana saja seperti internet. Mereka cenderung terbuka terhadap kompetisi  di pasar, kesetaraan gender , peluang peningkatan pendapatan, aktifitas politik, dan teknologi. Karena mereka menyadari bahwa masih mungkin untuk naik ke SES yang lebih tinggi, secra umum mereka merupakan pekerja keras dan memiliki jiwa entrepreneurship yang tinggi.[3]

Pada tahun 2009 ada sekitar 93 juta middle class di Indonesia atau 43% dari  total penduduk Indonesia. Di tahun 2011, jumlahnya diprediksi meningkat 1-2 juta jiwa seiring tren semakin kecilnya penduduk di bawah garis kemiskinan. Mereka cenderung bekerja di sektor keuangan, jasa, perdagangan dan menufaktur. Bahkan sepertiga dari mereka merupakan lulusan S1. Karena pemikirannya yang lebih terbuka dan daya belinya yang cukup besar, middle class Indonesia ini menjadi potencial market yang menarik di tahun 2011.[4]

Jika ditelaah dari contoh – contoh kasus negara lain yang lebih dulu mengalami peningkatan jumlah middle class, implikasi dan tumbuhnya segmen pasar ini biasanya langsung terlihat dari penjualan consumer durables yang melonjak naik . Di Indonesia consumer durables yang paling populer tentu saja adalah konsumen telepon genggam yang penetrasinya sudah mencapai sekitar 60%. Penjualan kendaraan bermotor pun akan meningkat . Seperti diprediksi sebelumnya , 825 ribu mobil dan 8 juta motor akan terjual di tahun 2011. Selain itu akan semakin banyak bermunculah wirausahawan –wirausahawan baru di berbagai sektor. Di sektor corporate akan semakin bermunculan inovasi – inovasi produk baru yang berusaha menjangkau segmen ini dengan harga yang sesuai dengan daya beli mereka. Karena segmen ini kebanyakan berpendidikan, tuntutan mereka terhadap pelayanan semakin besar. Secara keseluruhan, karena konsumsi segmen ini akan meningkat  tajam, perekonomian Indonedia yang dimotori konsumsi akan semakin besar.[5]

4. Keunggulan Youth-Women-Netizen

Di awal tahun 2010 diprediksi munculnya tiga sub-culture baru yaitu youth,women,dan netizen. Dan tiga sub-culture ini merupakan aspek penting yang akan terus berlanjut sampai 2011[6]. Terdapat Sekitar 40%  youth consumer usia 14 sampai 35 tahun lebih berani mencoba produk baru dan sekitar 60% menggunakan new media . Pemasar yang berniat menggunakan produk atau kampanye pemasaran baru di tahun 2011 wajib memperhatikan secara seksama youth sub-culture ini. Segmen ini juga mempunyai kecenderungan untuk berkumpul dalam komunitas, diantaranya dalam hal olahraga dan musik . Tidak seperti segmen lainnya, dan madia yang paling sering di akses adalah internet. Penggunaan media internet oleh youth consumer bahkan mengalahkan penggunaan media televisi oleh konsumen pada umumnya. Selain idealis segmen ini di Indonesia sangat berorientasi pada prestasi. Ini terlibat dari pola pikir mereka yang sangat takut gagal dalam sekolah dan karir (lihat Grafik 5 – 7)

Sedangkan segmen women, ditemukan bahwa lebih dari 80% segmen ini di Indonesia memegang kontrol keuangan rumah tangga. women menentukan apakah harga sebuah produk terjangkau atau sesuai dengan kualitas atau malah terlalu mahal. Pemasar yang merencanakan penetapan harga beru di tahun 2011 harus memeriksa persepsi women terhadap harga tersebut. Seperti lazim diketahui, Women juga kerap menjadi pembuat keputusan untuk pembelian dalam rumah tangga karena kecenderungan mereka yang perduli tidak hanya terhadap dirinya tetapi juga terhadap keluarga, sekitar 48% dari mereka membeli produk untuk suami dan 48% juga membeli produk untuk kepeningan orang tua mereka. Ada 35% yang membeli untuk anak – anak . dan 20 % untuk saudara laki – laki atau permpuannya.

Kemudian Netizen, yang dapat didefinisikan sebagai konsumen yang aktif di dunia maya, juga sangat penting dan efektif perananya dalam dunia pemasaran. Di Indonesia, saat ini satu dari tiga keluarga di perkotaan mempunyai akses internet. Delapan dari sepuluh pengguna telepon genggam menggunakannya untuk internet. Sembilan dari sepuluh pengguna internet mempunyai akun Facebook. Sekitar 40% Netizen membicarakan baik mempromosikan atau mengkritik produk-produk yang mereka ingin beli atau sedang digunakan di Internet.[7]Biasanya untuk bisa dibicarakan secara positif di dunia maya yang semakin menjadi sumber informasi konsumen, pemasar perlu mengawasi perilaku dan pembicaraan yang terjadi diantara mereka (lihat Gambar 8-10).

Dan apabila dilihat dari karakteristik masing-masing sub-culture, jika consumer community diibaratkan sebuah company, maka Youth berperan sebagai Chief Innovation Officer, Women berperan sebagai Chief Financial Officer, dan Netizen berperan sebagai Chief Marketing Officer. Sehingga sebagai tiga sub-culture yang paling berpengaruh setahun terakhir ini, maka ketiganya akan semakin penting dan efektif bagi setiap pemasar di tahun 2011.

METODOLOGI PENELITIAN

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif analisis, yakni suatu cara untuk membuat gambaran dan analisa berbagai gejala dan situasi yang menjadi bagian dari permasalahan yang diteliti. Jenis penelitian seperti ini menggunakan metode analisis kualitatif yang mendasarkan pada penelitian kepustakaan, yakni penelitian yang dilakukan melalui pengumpulan data dan informasi lainnya dengan menggunakan berbagai sumber seperti buku literature, jurnal, ensiklopedia, makalah-makalah seminar, dan penelusuran data tambahan melalui internet.

RESULT AND DISCUSSION

Kita semua tahu ketika memasuki Millenium ketiga, seluruh dunia khawatir akan komputernya. Pada masa itu semua orang di seluruh dunia mendadak sadar bahwa hidup kita tergantung pada komputer. Dan sekarang komputer itu sudah berbentuk gadget yang dipegang tiap orang termasuk seorang marketer dan costumer karena bisa dibawa kemana saja.

Kemajuan internet access kini membuat mobile computer menjadi sangat “powerful” dan sudah terhubung satu sama lain. Situasi menjadi semakin uncertain dan sangat bisa menghasilkan unpleasant surprise. Faktanya pada awal Millenium ketiga, Osama bin Laden dan kelompoknya mampu menggunakan internet untuk menghancurkan WTC pada tanggal 11 September 2001. Satu dekade kamudian, manjelang akhir tahun 2011, Wikileaks membocorkan berbagai dokumen rahasia Hillary Clinton ke dunia dengan menggunkan internet juga. Maka dari itu hal pertama yang harus dilakukan oleh sebuah perusahaan dimanapun dan dengan skala apapun di Millenium ketiga ini adalah “survival strategy”.

Sebuah perusahaan yang ingin “survive” di Millenium ketiga ini diharuskan mampu mengelola Costumer, Product dan Brand-nya melalui aplikasi sembilan elemen penting yang merupakan sebuah pondasi awal, dan semua itu adalah Segmenting, Targeting, Positioning, Differentiation, Marketing Mix, Selling, Brand, Service, dan Process. Setidaknya, kalau sampai terjadi sebuah “unpleasant condition” maka costumer akan tetap loyal pada brand dan percaya pada produk perusahaan tersebut.

Untuk sebuah perusahaan bisa memenangkan persaingan serta menguasai potential market di Millenium ketiga ini tentunya strategi paling jitu adalah dengan bisa menguasai tiga sub-culture market, karena mereka memiliki pengaruh yang besar dan signifikan dalam sebuah strategi pemasaran . Dan untuk menguasai tiga sub-culture ini, pemasar harus jeli memahami perilaku ketiganya khusunya Netizen. Karena faktanya apabila diteliti dan dianalisa lebih dalam baik Youth maupun Women, di era Millenium ini semuanya merupakan seorang Netizen, yang aktifitas sehari-harinya tidak akan bisa lepas dari internet connection, karena hal itu sudah menjadi kebutuhan bagi siapapun di dunia ini yang cenderung ingin selalu terhubung dan bersosialisai satu dengan lainnya.

Youth sangat terbuka terhadap new media, pemasar diwajibkan “connected” dengan mereka melalui social media atau yang lainnya. Masuk ke dalam komunitas mereka dan aktif melakukan percakapan yang relevan dengan dunia mereka. Seorang pemasar harus mampu menciptakan kedekatan antara merek yang dia miliki dengan hasrat dan kegelisahan seorang Youth. Karena menurut hasil riset, kegelisahan mereka berpusat pada pencapaian prestasi dan ketakutan akan kegagalan baik di dalam karir ataupun sekolah[8]. Dan kemudian endorse mereka dengan empowerment dan libatkan mereka dalam kegiatan pembuatan produk atau pemasaran produk, sehingga percaya diri mereka akan tumbuh dan merek yang dimiliki perusahaan akan menjadi pilihan dan loyalitas bagi mereka.

Kemudian untuk mengikat hati para Women, belief adalah kunci utama. Mereka adalah pintu gerbang utama pemasaran kepada sebuah keluarga, karena mereka sangat peduli terhadap well-being keluarga, maka dari itu sangatlah penting menjaga kepercayaan mereka terhadap brand produk sebuah perusahaan. Eksklusivitas juga sangat penting bagi women, karena biasanya mereka tidak pernah mau memakai sebuah produk yang sama dengan orang lain. Oleh karena itu pemasar harus bisa menawarkan sesuatu yang eksklusif dan membuat mereka menjadi orang yang pertama mengikuti tren yang ada hubungannya dengan industri yang sedang dijalani oleh perusahaan, maka dengan itu mereka akan dekat dengan brand menjadi pilihannya.

Inti dari pembahasan ini adalah Netizen. Mereka terkenal suka melakukan conversation di dunia maya. Marketing approach yang akan membantu seorang pemasar  memikat mereka di era Millenium ketiga ini adalah penciptaan jalur bagi mereka berinteraksi dengan sebuah brand yang ditawarkan. Seorang marketer bisa membuat sebuah forum atau jaringan sehingga mereka bisa berkomunikasi satu sama lain dengan gadget. Seorang marketer harus bisa membuat dirinya mudah diakses melalui gadget mereka baik via telepon genggam, PDA, tablet, netbook, ataupun laptop. Membuat sebuah aplikasi yang bisa menghubungkan seorang marketer dengan mereka adalah key success factor dalam memenangkan pasar netizen ini.

Karena kita tahu, teknologi akan menjadi semakin murah di tahun-tahun mendatang. Pasar telepon genggam Indonesia yang dulu sangat senang dengan model candy-bar kini mulai beralih ke model QWERTY yang identik dengan smartphone. Telepon genggam murah yang “semi-smart” malah juga semakin mengarah ke QWERTY. Walaupun banyak pengguna telepon genggam yang belum menyadari bahwa mereka menggunakan internet, mereka faktanya sudah mengskses Facebook dan Twitter yang notabene membutuhkan akses internet. Ini mengindikasikan semakin “smart”nya pengguna telepon genggam di Indonesia dan semakin siapnya konsumen menerima interaksi yang berbasis teknologi.

Seiring dengan semakin terhubungnya konsumen melalui Internet, baik melalui telepon genggam maupun komputer, kemampuan untuk bisa berinteraksi dengan brand atau perusahaan berpotensi menjadi diferensiasi yang kokoh. Di tahun 2011, interaksi screen-to-face akan semakin menggantikan interaksi face-to-face. Interaksi digital seperti ini tentunya dibutuhkan untuk komunikasi pemasaran dan pelayanan konsumen yang “always on”. Faktanya saja Indonesia memiliki jumlah pengguna Facebook kedua terbanyak dengan lebih dari 31 juta pengguna (Tabel 13). Pertumbuhan penggunaan internet di Indonesia adalah yang tertinggi di Asia. Di Indonesia gadget teranyar seperti tablet seringkali laku keras. Dikabarkan di 2011 saja, tablet murah akan semakin banyak beredar seiring dengan mumculnya sistem operasi Android 3.0 yang lebih compatible untuk tablet.

Dan menurut sebuah sumber Telkom kabarnya akan meluncurkan Internet Protocol Television (IPTV) atau layanan televisi on demand melalui jaringan broadband internet di awal tahun 2011 setelah melalui tahap uji coba di akhir tahun 2010. Tidak seperti biasanya, interkasi ini adalah antara pihak yang menyiarkan konten dengan penonton bisa dilakukan dua arah. Namun meski masih jauh untuk menjadi sebuah mainstream, tren ini akan mengarah ke arah sana, dan hal ini bisa membangunkan dan menyadarkan para pemasar untuk mulai memikirkan interkasi digital dengan konsumen sambil menunggu infrastruktur ini siap.

Dan strategi ini tampaknya akan sangat bagus jika dibaurkan pula dengan promosi urban lifestyle. Karena penduduk perkotaan cenderung dinamis sehingga segala macam gadget dan produk lain yang bisa memfasilitasi mereka hidup on-the-go akan menjadi incaran di tahun 2011. Tren menuju cashless society dimana orang tidak lagi terlalu banyak membawa uang tunai namun melakukan transaksi secara elektronik mungkin tidak terlalu lama lagi akan terealisasi. Bukan hanya kartu kredit dan debit atau contactless card yang menjadi mainstream, akan tetapi e-payment gateway pun sebentar lagi siap memfasilitasi transaksi online. Orang akan lebih banyak menggunakan telepon genggamnya untuk akses internet atau telepon demi pesan-antar prosuk yang mereka inginkan.

Konsumen perkotaan biasanya membelanjakan uangnya baik secara online atau langsung sebagian besar untuk tiga hal yaitu fashion, entertainment dan socialization. Oleh karena itu, seorang marketer yang bisa “membungkus” brandnya dengan kemasan ketiga elemen tadi tentnya akan meraih sukses di 2011.

Disamping itu seorang pemasar harus memperimbangkan pula channel mobility para Netizen consumer. Dinamisnya konsumen Indonesia memaksa munculnya  channel gaya baru. Akhir-akhir ini, kita bahkan mulai meihat bagaimana konsumen berwirausaha dengan berjualan melalui Facebook atau Blackberry Messenger Group. Tren ini bukan hanya tren kewirausahaan melalui internet, melainkan gejala bahwa konsumen sebagai Netizen menginginkan channel yang lebih mobile terkait penyediaan produk dan layanan. Di negara berkembang yang pasarnya bergerak, konsumen menjadi semakin kreatif, fenomena ini sudah biasa ditemui. Misal India yang sudah lebih dahulu mengalaminya bisa dijadikan acuan. Awalnya, teknologi hanya menjadi konsumsi. Selanjutnya konsumen mulai melihat peluang usaha dengan teknologi. Akhirnya mereka menjadi terbiasa melakukan interkasi dengan media berbasis teknologi.

Di Millenium ketiga ini dengan dibangunnya e-payment gateway, transaksi jual beli bisa menjadi semakin lancar. Saat ini hanya sekitar 6% pengguna internet yang pernah melakukan pembelian online. Akan tetapi angka ini diprediksi akan semakin tinggi di tahun 2011. Buktinya, pemain asing di dunia penjualan online pun tidak sungkan lagi menyerbu pasar Indonesia. Rakuten.com, pemain e-commerce terbesar asal Jepang yang menjalin kerjasama dengan partner lokal ini siap diluncurkan di tahun 2011. Isunya ada juga produsen fast moving consumer goods yang juga siap membangun online store dengan didukung sebuah bank untuk e-payment gateway.

Dan yang terakhir sudah sepatutnya seorang marketer melakukan proactive engagement apabila ingin menguasai market di era Millenium ketiga ini. Karena kita ketahui konsep costumer service akan tergantikan dengan konsep costumer care di 2011. Pelayanan yang hanya relatif terhadap komplain tidak lagi dapat membendung diskusi negatif tentang brand yang ditawearkan. Karena konsumen Urban dan Middle Class lebih memiliki ekspektasi tinggi terhadap pelayanan. Lebih lagi konsumen yang bersinar di tahun 2011 yaitu Youth, Women dan Netizen, saling terhubung satu sama lain melalui komunitas. Pembicaraan negatif akan sampai ke telinga mereka dengan cepat. Pendekatan yang lebih cocok adalah care yang lebih proaktif mencari tahu kegelisahan dan hasrat konsumen sebelum mereka kecewa.

Pendekatan seperti ini jika dilakukan dengan sumber daya manusia saja memang sangat sulit dan mahal. Maka dari itu, strategi ini patut digabungkan dengan digital interactivity yang siap memfasilitasi hubungan dua arah dengan konsumen. Sehingga denngan demikian tujuan utama untuk memenangkan dan menguasai potential market di Indonesia akan tercapai dengan mudah dan berkesinambungan.

KESIMPULAN

Bahwa dunia pemasaran di Indonesia telah memasuki era baru yaitu era pemasaran digital. Era pemasaran yang menggabungkan faktor psikologis, humanisme antropologi, dan teknologi yang menghasilkan sebuah efektivitas baru dengan kapasitas besar, interaktif dan multimedia. Kombinasi interaksi antara konsumen, media dan produsen disinergikan ke dalam suatu bentuk kontak digital baru, yaitu melalui internet.

Netizen, merupakan  konsumen yang aktif di dunia maya, sangat penting dan efektif perananya dalam dunia pemasaran. Di Indonesia, saat ini satu dari tiga keluarga di perkotaan mempunyai akses internet. Delapan dari sepuluh pengguna telepon genggam menggunakannya untuk internet. Sembilan dari sepuluh pengguna internet mempunyai akun Facebook. Sekitar 40% Netizen membicarakan baik mempromosikan atau mengkritik produk-produk yang mereka ingin beli atau sedang digunakan di Internet. Survey Markplus Insight yang dilakukan di delapan kota besar Indonesia menunjukan bahwa satu dari tiga orang dalam keluarga kota adalah Netizen. Menkominfo pun menjelaskan jumlah Netizen Indonesia sudah mencapai 45 juta orang. Dan tidak jarang orang membeli mobile gadget baru tiap tiga bulan sekali. Karena orang Indonesia mulai menikmati “connected” dengan orang lain dan dunia melalui internet.

Maka dari itu apabila seorang pemasar ingin bisa menang  dan menjadi success leader di era Millenium ketiga ini, menguasai Netizen sebagai potential market adalah tindakan yang sangat tepat dan efektif. Karena Netizen merupakan salah satu sub-culture yang mencakup kesemua sub-culture penting yang ada dan merepresentasikan perilaku konsumen di era digital seperti sekarang ini. Dan tujuan itu bisa berjalan mulus dengan mempertimbangkan beberapa hal dalam pelaksanaannya yakni seorang marketer harus mempersiapkan diri untuk digital interactivity, cermat dalam mempromosikan urban lifestyle, mempertimbangkan channel mobility dan melakukan proactive engagement dengan konsumen Indonesia yang memang aktif  mengakses internet dalam aktifitas kehidupan sehari-harinya atau yang sering kita sebut dengan Netizen Cunsumer.

DAFTAR PUSTAKA

Assauri,  Sofyan.  2004, Manajemen  Pemasaran, Penerbit Rajawali Press,  Jakarta.

Cravens, David W. 2004, Pemasaran Strategis, Edisi Keempat, Alih Bahasa: Lina Salim, Penerbit Erlangga, Jakarta.

Engel, James F., Blackwell, Roger D., and Miniard, Paul W. 1994, Perilaku Konsumen. Terjemahan: Budiyanto, Penerbit Binarupa Aksara, Jakarta.

Handoko, T. Hani dan Swastha, Basu. 2000, Manajemen Pemasaran: Analisa Perilaku Konsumen, Edisi Pertama, Cetakan Ketiga, Penerbit BPFE, Yogyakarta.

Kartajaya, Hermawan. 2000. Marketing Plus 2000: Siasat Memenangkan Persaingan Global, Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Kartajaya, Hermawan. 2010. Marketing in Indonesia 2011 : Entering The Golden Bridge of Indonesia, Markplus Consulting, Jakarta.

Kotler, Philip. 2005, Manajemen Pemasaran, Terjemahan: Hendra Teguh, Ronny A. Rusli dan Benjamin Molan, Edisi Milenium, Penerbit PT. Indeks, Jakarta.

___________dan Armstrong .2005, Prinsip-Prinsip Pemasaran, Jilid IV, Edisi  Kedelapan, , Penerbit Erlangga, Jakarta.

___________.2005, Manajemen Pemasaran di Indonesia, Edisi Pertama, Terjemahan: AB. Susanto, Penerbit Salemba Empat, Jakarta.

Lamb, Chales W., Hair, Joseph F., and McDaniel, Carl. 2001, Pemasaran, Buku Pertama, Penerjemah: David Octarevia, Penerbit Salemba Empat, Jakarta.

Lupiyoadi, Rambat. 2006, Manajemen Pemasaran Jasa: Teori dan Praktek, Edisi Pertama, Penerbit Salemba Empat, Jakarta.

Payne, Adrian. 2003, The Essence of Service Marketing, Diterjemahkan oleh: Fandy Ciptono, Penerbit Andi, Yogyakarta.

Peter, J Paul., and Olson., Jerry C,. 2000. Consumer Behavior: Perilaku Konsumen dan Strategi Pemasaran. Diterjemahankan oleh: Damos Sihombing, Jilid 1. Edisi Keempat, Penerbit Erlangga, Jakarta.

Purnama, Lingga. 2001, Strategic Marketing Plan, Penerbit PT. Gramedia Pustaka  Utama, Jakarta.

Walker, Orville C., Boyd, Harper W., Larreche, Jean Claude. 2000, Manajemen Pemasaran: Suatu Pendekatan Strategi dengan Orientasi Global, Jilid II Edisi Kedua, Alih Bahasa: Imam Nurmawan,  Penerbit Erlangga, Jakarta.

Winardi. 2001,  Manajemen  Pemasaran, Penerbit  CV. Sinar Baru, Bandung.

LAMPIRAN

Gambar . 1

Gambar . 2

Gambar . 3

Gambar . 4

Gambar . 5

Gambar . 6

Gambar . 7

Gambar . 8

Gambar . 9

Gambar . 10


[1] Tren Urban Movement di 2011 menurut Markplus Consulting 2011

[2] Menurut The Economist

[3] Riset Asian Development Bank (ADB) di 80 negara

[4] Data resmi Badan Pusat Statistik terakhir 2010

[5] Data menurut Markplus Consultant 2011

[6] Menurut Riset yang dilakukan oleh Markplus Insight 2011

[7] Data menurut Markplus Consultant 2011

[8] Riset yang dilakukan oleh Markplus Insight

 
Leave a comment

Posted by on March 13, 2011 in Research Paper

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: