RSS

Indonesia, Bolehkah Saya Bertanya?

20 Mar

500 orang mengais remah nasi di resto-kantin-warung kota-kota

2500 orang menjemur remah nasi di tampah-tampah

525000 orang siapkan wajan tanpa minyak

39375000 orang sangan nasi kering di atas bara

Setiap orang beranak dua saja, kata keluarga berencana

78750000 mahluk anak manusia makan nasi aking di Indonesia

: bapak-ibunya makan apa?

(mereka siap suapkan bara di mulut juru kampanye…)

 

Kutipan puisi di atas sebenarnya merupakan gambaran kondisi real masyarakat di negeri kita tercinta saat ini, negeri yang  katanya kaya dan melimpah ruah akan sumber daya, yang kita sebut Indonesia. Namun setiap tujuh detik, seorang anak usia di bawah 10 tahun mati kelaparan. Sementara itu sekitar 826 juta manusia secara permanen menderita kekurangan gizi yang parah, dan ratusan bahkan ribuan orang lainnya menderita di luar sana setiap harinya (Jean Ziegler : 2006).

Di negeri ini bukan tanpa sebab apabila penanggulangan kemiskinan dan kelaparan menjadi tujuan utama yang ingin dicapai oleh setiap elemen masyarakat. Dari data yang saya dapat pada tahun 1990, tercatat  lebih dari 1,25 Milyar orang di dunia berada dalam kemiskinan ekstrim atau mereka hidup dengan kurang dari 1 $  per-hari. Garis kemiskinan nasional 2007 mencatat nilainya hampir setara dengan sekitar 1,6 $ per-hari. Dengan angka tersebut, lebih dari 37 juta penduduk Indonesia termasuk dalam kategori penduduk miskin. Kemudian bagaimana dengan yang hampir miskin? Apabila diasumsikan masyarakat yang hampir miskin adalah mereka yang hidup lebih dari  1,6 $ dan kurang dari  2 $ per-hari, maka jumlah penduduk Indonesia yang berada dalam kisaran ini adalah lebih dari 100 jutaan orang. Sungguh luar biasa bukan?

Kemiskinan memang biasanya dijadikan barometer serta tolak ukur suatu negara dalam mencapai kesejahteraan masyarakatnya. Dengan kata lain apabila jumlah penduduk miskin terus bertambah di negara tersebut berarti tingkat kesejahteraan yang ingin dicapai semakin jauh dari harapan. Ya mungkin negeri ini termasuk yang harapannya masih agak jauh untuk dicapai.

Apabila kita hendak membaca berbagai program kerja, konsep dan sketsa di atas kertas, baik melalui pendekatan secara mikro, mezzo dan makro yang dilakukan oleh lembaga  pemerintahan ataupun LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) dalam rangka menanggulangi kemiskinan, nampaknya bagus, rinci, terarah, masuk akal dan memungkinkan. Ya artinya mungkin bisa dilakukan, mungkin bisa tertunda, atau bahkan mungkin tidak direalisasikan sama sekali. Dan pada hakikatnya setiap kemungkinan sebenarnya mengandung sebuah konsekuensi dan tanggung jawab yang amat berat bukan? Namun pada kenyataannya, Pak Udin seorang tukang bakso tusuk di kawasan wisata Curug Sawer Sukabumi, masih mengeluh akan biaya hidup sehari-hari yang melambung tinggi. Bang Otim seorang tukang pedagang sembako di Pasar Kebayoran Baru, masih mengeluh akan biaya sekolah tinggi anaknya yang semakin tidak terjangkau. Dan Bu Asih seorang pemulung plastik di Stasiun Depok Baru masih setia berjalan kaki setiap hari membawa karung dan sepotong besi hanya demi sesuap nasi. Coba kita renungkan, sudahkah kata kemiskinan tidak terdengar lagi di telinga kita? Sudahkah rakyat Indonesia seluruhnya mendapat penghidupan yang layak? Jawabannya tentu saja tidak.

Baru-baru ini ramai dibicarakan, baik di media cetak, elektronik, internet, seminar-seminar yang katanya di Senayan sana para wakil rakyat kita “sedang sibuk, sibuk mau ngapain” Yang ternyata sibuk berdiskusi mengenai masalah proyek jangka pendek mereka. Saya kira sih proyek jangka pendek mengentaskan kemiskinan dan kelaparan, tetapi usut punya usut nyatanya para wakil rakyat kita sedang sibuk membicarakan proyek jangka pendek pembangunan gedung baru mereka, sebagai pengganti gedung lama yang strukturnya sudah hampir miring dengan menghabiskan dana belasan triliun rupiah dari APBN rencananya. Bayangkan, dimana hati nurani para wakil rakyat kita? Apa yang ada di pikiran mereka? Pernahkan mereka memikirkan jutaan penduduk miskin di negara ini yang membutuhkan uluran tangan? Pernahkah mereka berpikir karena siapa mereka bisa hidup mewah dan berlimpah rupiah seperti saat ini? Pernahkah mereka ingat saat mereka susah? Saat rakyat susah?  Mereka sudah tidak lagi memiliki sense of social responsibility, sense of crisis, menjadi tuli dan dungu sedungu-dungunya. Mau dibawa kemana coba masa depan negeri ini?

Ada satu peristiwa lagi yang membuat saya meneteskan air mata. Yaitu ketika kemiskinan diperlihatkan dengan jelas di depan mata semua orang. Ketika kemiskinan rakyat Indonesia itu memang nyata adanya, ketika semua orang diperlihatkan bahwa masih ada orang yang lebih susah dan membutuhkan uluran tangan, ketika mereka diperlihatkan bahwa masih banyak saudara-saudaranya yang belum bisa merasakan indahnya bulan suci Ramadhan dan suka citanya sebuah hari kemenangan. Bisa kita lihat, saat stasiun televisi, koran, majalah, semuanya memperlihatkan ratusan kerumunan orang berdesak-desakan, berebut, saling sikut kanan-kiri, injak sana-sini bahkan temannya sendiri pun mereka tak peduli, hanya untuk mendapatkan sekantong beras zakat dan beberapa lembar rupiah dari hasil pemberian seorang dermawan.

Tak hanya berakhir di situ, bahkan di tahun 2008 ada sebuah pembagian zakat maal yang sampai menelan korban jiwa. Tak tanggung-tanggung sebelas orang jadi korban dalam peristiwa tersebut. Dan Polisi berdalih peristiwa itu terjadi karena kurangnya pengawasan dan campur tangan aparat. Namun menurut hemat saya itu adalah alasan yang sifatnya teknis dan normatif, karena sebenarnya bukan itu inti permasalahannya. Akan tetapi alasannya karena terlalu banyak warga miskin di daerah tersebut, bahkan ada sebagian warga miskin yang datang dari daerah lain ikut mengantri hanya sekedar untuk mendapatkan zakat. Dan karena volume orang yang datang membludak serta sistem pembagian zakat yang tidak terorganisir dengan baik, ditambah lagi sifat orang miskin  Indonesia yang tidak pernah mau sabar, mengantri serta mau diatur, maka dari itu sudah pasti peristiwa itupun akhirnya terjadi.

Bahkan ironisnya lagi sebuah acara open house presiden baru-baru ini, dalam rangka halal bi halal hari raya Idul Fitri 1431 H pun yang tepat jatuh pada hari Jumat 10 September 2010, dimana semua orang sedang merayakan indahnya hari kemenangan, justru dinodai dengan peristiwa tidak mengenakan. Yaitu meninggalnya Joni Malela, seorang warga tuna netra miskin yang ikut mengantri di Istana Negara dengan ratusan orang lainnya untuk bersilaturahmi dengan seluruh keluarga Bapak Presiden SBY dengan iming-iming akan diberi uang senilai Rp. 250.000 (dua ratus lima puluh ribu rupiah).

Akankah semua peristiwa itu akan terus terjadi? Akankah kemiskinan terus melanda sebagian besar penghuni negeri ini? Selama mental manusia Indonesia serta para pemimpinnya masih mementingkan kepentingan pribadi di atas kepentingan orang banyak, saya yakin semua itu akan terus terjadi. Karena rakyat tidak butuh proposal dengan angka-angka statistik makro, statistik mikro, kemudian analisa kajian pustaka, metodologi pengukuran canggih dan modern, strategi pemberdayaan jitu, crisis intervention, stress management, detail rencana anggaran, rakyat tidak butuh itu semua. Semua itu hanya dalih yang akan menjadikan rakyat sebagai objek sehingga menjadi proyek pengisi kocek. Akan tetapi rakyat butuh tindakan kongkret dari para pemimpin kita, rakyat butuh pemimpin yang mau merasakan apa yang dirasakan oleh rakyat dan rakyat butuh pemimpin yang selalu ingat bahwa keberhasilan yang ia capai adalah berkat kerja keras, tetapi kerja kerasnya siapa.

Biasanya seorang Wakil Camat pasti ingin menjadi seorang Camat, seorang Wakil Bupati pasti ingin menjadi Bupati, Seorang Wakil Walikota ingin menjadi Walikota, seorang Wakil Gubernur pasti ingin menjadi Gubernur, begitu pula Wakil Presiden, pasti ingin menjadi Presiden. Namun apakah seorang Wakil Rakyat pasti ingin menjadi Rakyat? Indonesia, bolehkah saya bertanya?

Daftar Pustaka

 

A. Hadar. Ivan., 2008. Hak Atas Makanan, Jakarta: MDG’s / United Nation Development Program

Braga. C., 2003. Political Culturalis para o desenvolvimento: uma base de dados para a cultura, p 57. Brazil: UNESCO

Bornstein. D., 2004. How to Change The World : Social Entrepreneur and the Power New Ideas, New York: Oxford University Press

Wijayanto., 2010. Korupsi Mengkorupsi Indonesia, Jakarta: Universitas Paramadina

Puisi., 14 Februari 2008. Dari Lapar Yang Menahun

Parray. Owais., 2008. Kondisi Pembangunan Masyarakat Indonesia, Jakarta: MDG’s

Sedjati. Bayu. Uki., 2008. Pertanyaan Bagi Yang Muda, Jakarta: MDG’s / United Nation Development Program

Website : http//www.economy.okezone.com

Website : http//www.kompas.com

 

 
Leave a comment

Posted by on March 20, 2011 in Essay

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: