RSS

Metamorfosa Si Bunga Sakura

20 Mar

Binatang-ekonomi. Itulah julukan yang diberikan kepada Jepang oleh orang-orang yang berada di belahan dunia Timur dan Barat. Kesan orang, Jepang adalah bangsa yang sangat agresif mencari laba. Iklannya gemerlapan di kota-kota besar di seluruh dunia, bahkan merek-merek perusahaan Jepang dikenal akrab sampai ke pelosok desa, semuanya menggambarkan penetrasi ekonomi yang sangat mendalam.

Tentu saja orang Jepang tidak suka dengan sebutan itu. Bukan karena mereka menolak, realitas tingkah laku yang memang secara pas digambarkan. Tapi karena mereka menganggap bahwa persepsi orang lain tentang bangsa Jepang adalah keliru. “Memburu laba” bukanlah tujuan hidup dan motivasi yang berdiri di belakang kegiatan orang Jepang. Kerja keras yang tekun dan rajin untuk memenuhi kebutuhan orang banyak, itulah landasan dan idealisme mereka dalam melakukan setiap aktifitasnya.

Ajaran Suzuki Shosan[1] yang sangat terkenal, ia menjalankan misinya ketika sebagian besar penduduk negeri Sakura itu kehilangan alasan untuk hidup, setelah mengalami perang saudara bertahun-tahun dan ketika memasuki masa damai, justru malah mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri. Ajaran kerja, sebagai cara untuk mencapai kebebasan nampaknya mengena di hati rakyat Jepang.

Kerja dengan jujur, dalam ajaran Shosan, merupakan bentuk dari sikap hidup zuhd (asceticism)[2]. Kerja adalah pekerjaan suci dan dihayati dengan sikap religius. Kerja untuk tujuan mencari keuntungan justru ditolak. Kerja orang Jepang yang menganut falsafah Buddhisme Zen bukanlah suatu kegiatan ekonomi, melainkan suatu latihan untuk hidup zuhd.

Orang Jepang sangat menghormati seseorang yang sikap terhadap pekerjaannya bersifat religius. Nilai itu hanya diwujudkan dengan kerja produktif. Untuk memahami Zen orang harus mempelajari sogo-shosha-nya. Seorang pedagang dalam organisasi dagang Jepang menganggap distribusi barang sebagai tugas suci untuk membebaskan setiap orang dari kekurangan.

Itulah yang menjelaskan mengapa dunia merasakan kehadiran negeri Sakura dimana-mana. Kini Jepang, sebagai negara, adalah merupakan salah satu raksasa ekonomi yang sangat diperhitungkan. GDP-nya merupakan urutan kedua terbesar setelah Amerika Serikat.  Kekuatan Jepang adalah, bahwa daerah pemasaran dan penanaman modalnya terbagi lebih berimbang di Amerika Utara, Eropa Barat, Asean, Timur Tengah dan Amerika Latin. Secara Umum Jepang memang tergantung dalam bahan baku dan energi maupun pemasaran kepada negara-negara lain. Tapi “religiusitas kerjanya” membuat Jepang unggul sebagai pengrajin Industri maupun sebagai pedagang. Itulah yang mengubah posisi Jepang menjadi tidak tergantung kepada siapapun. Bahkan Jepang telah membagi-bagi sumber-sumber ekonomi dunia untuk keuntungannya.

Membicarakan Jepang tak sekadar berbicara ekonomi. Membicarakan Jepang berarti pula soal segala hal yang berbau futuristik dan masa depan. Dan hal itu dapat ditemukan dalam tumpukan komik, film animasi, mobil, fashion, gaya hidup, mesin-mesin robot, teknologi, sistem pendidikan, transportasi, telekomunikasi hingga etos kerja warga Jepang.  Tak ada seorangpun yang  meragukan Jepang sebagai macan Asia, dan nampaknya percaya diri yang tinggi ditunjukan sebagai bukti untuk menantang dunia Barat.

Ekonomi bekembang dengan pesat, mendudukkan indeks perkembangan manusia pada 10 peringkat besar dunia. Pendapatan rata-rata pekerjanya sekitar 7 juta Yen setahun (kurang lebih Rp 560 juta). Begitu mudahnya menemukan Jepang di dalam rumah kita sendiri. Lihatlah televisi. Beragam merek seperti Sony, Sharp, Panasonic, Toshiba[3] menghiasi rumah beserta perabot lainnya. Sesekali nontonlah program tayangan televisi bersama keluarga pada Minggu pagi. Anda akan disuguhi tokoh-tokoh super hero Ultraman hingga kartun menggemaskan Doraemon. Tak cukup berhenti di situ. Anak-anak menangkap kegiatan nonton televisi tak sekadar duduk manis dan melihat aksinya, melainkan juga telah berkembang sebagai sebuah sajian gaya hidup. Mulai dari kaos, buku, alat tulis, hingga sprei dan sarung bantal mereka bergambar tokoh televisi. Artinya sejak melek bangun tidur dan berangkat tidur lagi, tokoh kartun Jepang itu telah menemani keseharian anak. Itulah contoh bagaimana budaya Jepang bisa  mewarnai arus budaya global.

Sejarah kemajuan Jepang tak lahir dari kantong Doraemon yang bisa menghadirkan apa saja sesuai keinginan. Melainkan melalui proses jatuh bangun selama berabad-abad. Mungkin juga kita tak pernah menyangka bahwa Jepang dengan segala gemerlapnya itu pernah menjalani Politik Isolasi,
yakni melarang melakukan kontak hubungan dunia luar[4]. Ia melarang segala hubungan dengan orang-orang Eropa kecuali hubungan terbatas dengan pedagang Belanda di pulau Dejima. Mereka juga menjadi lebih berhati-hati terhadap pedagang dengan Tiongkok, khususnya setelah suku Manchu menguasai Tiongkok dan mendirikan Dinasti Qing. Suku Manchu menguasai Korea pada tahun 1637, dan pihak Jepang takut akan kemungkinan invasi dari suku Manchu. Jepang menjadi bahkan lebih terisolasi lagi dibandingkan sebelumnya. Periode pengurungan diri ini berakhir dua setengah abad kemudian, pada masa persatuan politis yang dikenal sebagai periode Edo, yang dianggap sebagai masa puncak kebudayaan pertengahan Jepang. Pada tahun 1854, Komodor AS, Matthew Perry memaksa dibukanya Jepang kepada Barat yang kemudian melatarbelakangi hancurnya keshogunan hingga akhirnya Restorasi Meiji[5] mengembalikan kekuasaan kepada Kaisar. Lalu Jepang mengadopsi beberapa institusi Barat, termasuk pemerintahan modern, sistem hukum, dan militer. Perubahan-perubahan ini mengubah Kekaisaran Jepang menjadi kekuatan dunia pada awal abad ke-20. Hingga akhirnya terlibat dalam perseteruan Perang Dunia II, yang meluluhlantakkan Hiroshima dan Nagasaki, dua kota di Jepang, karena serangan bom Amerika Serikat.

Bom tak menyebabkan negeri itu tenggelam dalam kesedihan berlarut, Jepang justru bangkit. Dari peristiwa bom itu muncullah pertanyaan Hirojito, Perdana Menteri Jepang saat itu, yang tenar dan menggugah ; “Berapa jumlah guru yang masih tersisa?” , karena pada hakikatnya dengan pertanyaan itulah titik awal kesuksesan Jepang dimulai kembali.  Meskipun bukan penganut agama islam, bangsa jepang adalah salah satu bangsa yang telah menerapkan prinsip hidup secara islami. Mereka belajar dan bekerja secara islami. Bangsa jepang merupakan bangsa yang menerapkan disiplin tinggi pada setiap kehidupan masyarakatnya. Disiplin yang tinggi dan tekun adalah prinsip kehidupan islami yang sebenarnya.

Jepang pun Bermetamorfosa Keberhasilan industri Jepang ditopang dua sisi: sejarah dan teknologi. Peralihan industri berat (peralatan militer) yang dikembangkan pada renovasi Meiji ke industri sipil memberi andil dalam keberhasilan industri Jepang. Dari sisi teknologi, didukung oleh keberhasilan machikouba yang berkembang menjadi industri besar dengan mengantongi ratusan paten. Mereka melahirkan produk-produk dengan sentuhan khas teknologi. Maka abad 21 kini lahirlah robot-robot yang menjiplak gaya manusia dari tangan-tangan perusahaan raksasa Jepang, seperti Hitachi, Sony, Honda, dan Toyota. Barangkali, dengan kian dekatnya Jepang dalam keseharian hidup, menjadikan kita tak pernah menyadarinya bahwa kita tak pernah untuk mau tahu bagaimana Jepang bisa menggapai hal sedemikian besar. Taukah kita apa yang menyebabkan negara Jepang bisa besar seperti sekarang ini?

Kerja keras, sudah menjadi rahasia umum bahwa bangsa Jepang adalah pekerja keras. Rata-rata jam kerja pegawai di Jepang adalah 2450 jam/tahun, sangat tinggi dibandingkan dengan Amerika (1957 jam/tahun), Inggris (1911 jam/tahun), Jerman (1870 jam/tahun), dan Perancis (1680 jam/tahun). Seorang pegawai di Jepang bisa menghasilkan sebuah mobil dalam 9 hari, sedangkan pegawai di negara lain memerlukan 47 hari untuk membuat mobil yang bernilai sama. Seorang pekerja Jepang boleh dikatakan bisa melakukan pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh 5-6 orang. Pulang cepat adalah sesuatu yang boleh dikatakan ”agak memalukan” di Jepang, dan menandakan bahwa pegawai tersebut termasuk yang tidak dibutuhkan oleh perusahaan. Di kampus, professor juga biasa pulang malam (tepatnya pagi), membuat mahasiswa segan untuk pulang lebih dulu. Fenomena Karoshi[6] mungkin hanya ada di Jepang. Sebagian besar literatur menyebutkan bahwa dengan kerja keras inilah sebenarnya kebangkitan dan kemakmuran Jepang bisa tercapai.

Malu adalah budaya leluhur dan turun temurun bangsa Jepang. Harakiri[7] menjadi ritual sejak era samurai, yaitu ketika mereka kalah dan pertempuran. Masuk ke dunia modern, wacananya sedikit berubah ke fenomena ”mengundurkan diri” bagi para pejabat (mentri, politikus, dsb) yang terlibat masalah korupsi atau merasa gagal menjalankan tugasnya. Efek negatifnya mungkin adalah anak-anak SD, SMP yang kadang bunuh diri, karena nilainya jelek atau tidak naik kelas. Karena malu jugalah, orang Jepang lebih senang memilih jalan memutar daripada mengganggu pengemudi di belakangnya dengan memotong jalur di tengah jalan. Bagaimana mereka secara otomatis langsung membentuk antrian dalam setiap keadaan yang membutuhkan, pembelian tiket kereta, masuk ke stadion untuk nonton sepak bola, di halte bus, bahkan untuk memakai toilet umum di stasiun-stasiun, mereka berjajar rapi menunggu giliran. Mereka malu terhadap lingkungannya apabila mereka melanggar peraturan ataupun norma yang sudah menjadi kesepakatan umum.

Hidup hemat, orang Jepang memiliki semangat hidup hemat dalam kesehariannya. Sikap anti konsumerisme berlebihan ini nampak dalam berbagai bidang kehidupan. Ada sebuah kasus dpada saat tertentu ada banyak orang Jepang ramai belanja di supermarket pada sekitar jam 19:30. Selidik punya selidik, ternyata sudah menjadi hal yang biasa bahwa supermarket di Jepang akan memotong harga sampai separuhnya pada waktu sekitar setengah jam sebelum tutup. Seperti diketahui bahwa Supermarket di Jepang rata-rata tutup pada pukul 20:00. Contoh lain adalah para ibu rumah tangga yang rela naik sepeda menuju toko sayur agak jauh dari rumah, hanya karena lebih murah 20 atau 30 yen. Banyak keluarga Jepang yang tidak memiliki mobil, bukan karena tidak mampu, tapi karena lebih hemat menggunakan bus dan kereta untuk bepergian.

Loyalitas membuat sistem karir di sebuah perusahaan berjalan dan tertata dengan rapi. Sedikit berbeda dengan sistem di Amerika dan Eropa, sangat jarang orang Jepang yang berpindah-pindah pekerjaan. Mereka biasanya bertahan di satu atau dua perusahaan sampai pensiun. Ini mungkin implikasi dari Industri di Jepang yang kebanyakan hanya mau menerima fresh graduate, yang kemudian mereka latih dan didik sendiri sesuai dengan bidang garapan (core business) perusahaan. Kota Hofu mungkin sebuah contoh nyata. Hofu dulunya adalah kota industri yang sangat tertinggal dengan penduduk yang terlalu padat. Loyalitas penduduk untuk tetap bertahan (tidak pergi ke luar kota) dan punya komitmen bersama untuk bekerja keras siang dan malam akhirnya mengubah Hofu menjadi kota makmur dan modern. Bahkan saat ini kota industri terbaik dengan produksi kendaraan mencapai 160.000 per tahun.

Inovasi. Jepang bukan bangsa penemu, tapi orang Jepang mempunyai kelebihan dalam meracik temuan orang dan kemudian memasarkannya dalam bentuk yang diminati oleh masyarakat. Menarik membaca kisah Akio Morita yang mengembangkan Sony Walkman yang melegenda. Cassete Tape tidak ditemukan oleh Sony, patennya dimiliki oleh perusahaan Phillip Electronics. Tapi yang berhasil mengembangkan dan membundling model portable sebagai sebuah produk yang booming selama puluhan tahun adalah Akio Morita, founder dan CEO Sony pada masa itu. Sampai tahun 1995, tercatat lebih dari 300 model walkman lahir dan jumlah total produksi mencapai 150 juta produk. Teknik perakitan kendaraan roda empat juga bukan diciptakan orang Jepang, patennya dimiliki orang Amerika. Tapi ternyata Jepang dengan inovasinya bisa mengembangkan industri perakitan kendaraan yang lebih cepat dan murah. Mobil yang dihasilkan juga relatif lebih murah, ringan, mudah dikendarai, mudah dirawat dan lebih hemat bahan bakar. Perusahaan Matsushita Electric yang dulu terkenal dengan sebutan maneshita (peniru) punya legenda sendiri dengan mesin pembuat rotinya. Inovasi dan ide dari seorang engineernya bernama Ikuko Tanaka yang berinisiatif untuk meniru teknik pembuatan roti dari sheef di Osaka International Hotel, menghasilkan karya mesin pembuat roti (home bakery) bermerk Matsushita yang terkenal itu.

Pantang menyerah. Sejarah membuktikan bahwa Jepang termasuk bangsa yang tahan banting dan pantang menyerah. Puluhan tahun dibawah kekaisaran Tokugawa yang menutup semua akses ke luar negeri, Jepang sangat tertinggal dalam teknologi. Ketika restorasi Meiji (meiji ishin) datang, bangsa Jepang cepat beradaptasi dan menjadi fast-learner. Kemiskinan sumber daya alam juga tidak membuat Jepang menyerah. Tidak hanya menjadi pengimpor minyak bumi, batubara, biji besi dan kayu, bahkan 85% sumber energi Jepang berasal dari negara lain termasuk Indonesia. Kabarnya kalau Indonesia menghentikan pasokan minyak bumi, maka 30% wilayah Jepang akan gelap gulita🙂 Rentetan bencana terjadi di tahun 1945, dimulai dari bom atom di Hiroshima dan Nagasaki seperti dijelaskan di atas, disusul dengan kalah perangnya Jepang, dan ditambahi dengan adanya gempa bumi besar di Tokyo. Ternyata Jepang tidak habis. Dalam beberapa tahun berikutnya Jepang sudah berhasil membangun industri otomotif dan bahkan juga kereta cepat (shinkansen).

Budaya membaca. Jangan kaget kalau anda datang ke Jepang dan masuk ke densha[8], sebagian besar penumpangnya baik anak-anak maupun dewasa sedang membaca buku atau koran. Tidak peduli duduk atau berdiri, banyak yang memanfaatkan waktu di densha untuk membaca. Banyak penerbit yang mulai membuat man-ga[9] untuk materi-materi kurikulum sekolah baik SD, SMP maupun SMA. Pelajaran Sejarah, Biologi, Bahasa, dsb disajikan dengan menarik yang membuat minat baca masyarakat semakin tinggi.

Kerja berkelompok. Budaya di Jepang tidak terlalu mengakomodasi kerja-kerja yang terlalu bersifat individualistik. Termasuk klaim hasil pekerjaan, biasanya ditujukan untuk tim atau kelompok tersebut. Fenomena ini tidak hanya di dunia kerja, kondisi kampus dengan lab penelitiannya juga seperti itu, mengerjakan tugas mata kuliah biasanya juga dalam bentuk kelompok. Kerja dalam kelompok mungkin salah satu kekuatan terbesar orang Jepang. Ada anekdot bahwa ”1 orang professor Jepang akan kalah dengan satu orang professor Amerika, hanya 10 orang professor Amerika tidak akan bisa mengalahkan 10 orang professor Jepang yang berkelompok”. Musyawarah mufakat atau sering disebut dengan ”rin-gi” adalah ritual dalam kelompok. Keputusan strategis harus dibicarakan dalam ”rin-gi” tersebut.

Mandiri. Sejak usia dini anak-anak dilatih untuk mandiri. Ada kasus seorang anak TK di Jepang. Dia harus membawa 3 tas besar berisi pakaian ganti, bento[10], sepatu ganti, buku-buku, handuk dan sebotol besar minuman yang menggantung di lehernya. Di Yochien setiap anak dilatih untuk membawa perlengkapan sendiri, dan bertanggung jawab terhadap barang miliknya sendiri. Lepas SMA dan masuk bangku kuliah hampir sebagian besar tidak meminta biaya kepada orang tua. Mereke  mengandalkan kerja part time untuk biaya sekolah dan kehidupan sehari-hari. Kalaupun kehabisan uang, mereka” meminjam” uang ke orang tua yang itu nanti mereka kembalikan di bulan berikutnya.

Menjaga tradisi. Perkembangan teknologi dan ekonomi, tidak membuat bangsa Jepang kehilangan tradisi dan budayanya. Budaya perempuan yang sudah menikah untuk tidak bekerja masih ada dan hidup sampai saat ini. Budaya minta maaf masih menjadi reflek orang Jepang. Kalau suatu hari anda naik sepeda di Jepang dan menabrak pejalan kaki , maka jangan kaget kalau yang kita tabrak malah yang minta maaf duluan. Sampai saat ini orang Jepang relatif menghindari berkata ”tidak” untuk apabila mendapat tawaran dari orang lain.

Pertanian merupakan tradisi leluhur dan aset penting di Jepang. Persaingan keras karena masuknya beras Thailand dan Amerika yang murah, tidak menyurutkan langkah pemerintah Jepang untuk melindungi para petaninya. Kabarnya tanah yang dijadikan lahan pertanian mendapatkan pengurangan pajak yang signifikan, termasuk beberapa insentif lain untuk orang-orang yang masih bertahan di dunia pertanian. Pertanian Jepang merupakan salah satu yang tertinggi di dunia.

Itulah persfektif saya mengenai negara Jepang yang dari awal kemajuannya, kejatuhannya, hingga bangkitnya kembali menjadi sebuah negara baru yang bermetamorfosis dari situasi negara yang kacau balau pada saat itu menjadi negara yang maju dan menjadi contoh bagi negara-negara lain yang ingin berkembang menuju kemajuan yang signifikan seperti pepatah mengatakan ”pembangunan itu tidak dimulai dengan barang, tetapi dimulai dengan orang : pendidikannya, organisasinya dan disiplinnya. Tanpa ketiga komponen ini, semua sumberdaya tetap terpendam, tak dapat dimanfaatkan dan tetap merupakan potensi belaka.”


[1] pendeta Buddha aliran Zen yang hidup pada masa Tokugawa dinilai bertanggung jawab terhadap  perkembangan kapitalisme Jepang pada zaman modern ini

[2] Pertapaan atau tapabrata

[3] Merk – merk barang elektronik terkenal  yang tersebar di pasaran dunia.

[4] Hal itu terjadi pada masa Keshogunan Tokugawa hingga tahun 1868, yang lebih disebabkan pada latarbelakang penyebaran agama.

[5] Restorasi Meiji  – Meiji-ishin dikenal juga dengan revolusi atau pembaruan, adalah rangkaian kejadian yang menyebabkan perubahan pada struktur politik dan social Jepang. Terjadi pada tahun 1866 sampai 1869 tiga tahun yang mencakup akhir zaman edo dan awal zaman meiji.

[6] mati karena kerja keras

[7] bunuh diri dengan menusukkan pisau ke perut

[8] Kereta listrik

[9] Komik bergambar

[10] Bungkusan makan siang

 
Leave a comment

Posted by on March 20, 2011 in Essay

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: