RSS

Refleksi Sebuah Masa Yang Hendak Melukai Bangsa

20 Mar

Ide menyusun dan menulis ini timbul setelah berkontemplasi dan mengingat kembali apa yang pernah dibicarakan oleh dua orang tokoh sejarah bangsa ini pada pertengahan tahun 80-an. Keduanya menceritakan tentang bagaimana mereka pernah berkisah kepada kemenakannya tentang inflasi dasyat, pidato-pidato politik bising dan tentang orang sekampung yang antri panjang untuk membeli beras dan minyak goreng, serta ribuan pengemis yang berkeliaran di Jakarta pada tahun 1963-1965. Pembicaraan keduanya dengan hidmat saya ingat tapi diresapkan seperti dongeng yang nyaris tak masuk di akal.

Dalam pembicaraan itu saya ingat, bahwa perenungan ini pernah terjadi pula pada anak-anak muda yang tak mengalami sendiri bagaimana teror PKI yang menciptakan adegan-adegan tabrakan ideologi dan penindasan kreativitas yang semakin lama kabur dimakan waktu, dan seperti tidak ada yang menyempatkan diri untuk memotretnya, lalu menyusunnya rapi di album sejarah.

Saya pun berani menyimpulkan bahwa situasi prahara yang menggema di tahun 60-an itu, ketika PKI, Partindo, dan PNI memaksakan visi realisme sosialis yang komunistis pada kelompok-kelompok tertentu yang tidak sekubu dengan mereka, yang membungkam ekspresi berkreasi lawan-lawannya, ternyata tidak  sepenuhnya diketahui dan dipahami oleh generasi 80 atau 90-an dan bahkan sampai pada generasi masa kini.

Tentunya jika kita ingat bagaimana PKI mengingkari Pemberontakan Madiun 1948 yang menusuk RI dari belakang semasa kita dikepung Belanda, ketika mereka mengkhianati kepemimpinan proklamator Soekarno-Hatta, yang tiga tahun kemudian mereka sulap dan putarbalikkan menjadi “Provokasi Madiun”. Kepahitan ironi bagi Indonesia adalah bahwa presiden Soekarno yang menjadi sasaran cerca PKI waktu itu, dalam waktu sewindu saja berubah total malah menjadi pelindung fanatik bagi PKI yang enam belas tahun berikutnya, berkhianat lagi. Kita tentunya tak berselera melihat pementasan sulapan putar-balik babak kedua itu terjadi lagi. Ibaratnya Patung lenin bisa terjungkal, Tembok Berlin bisa roboh, tapi cuaca tak mustahil berubah dan lebih dari penghapusan jejak, yang mungkin saja terjadi.

Jelas tergambar dalam setiap entitas yang merekam peristiwa-peristiwa sejarah ketika politik menjadi panglima pada zaman Orde Lama. Karena politik dinomorsatukan, tak terelakkan kebudayaan pun menjadi sarat bermuatan politik dan ajang pertarungan politik. Pada zaman yang gemuruh, gegap-gempita dengan semboyan slogan dan yel-yel, karya dan atraksi kesenian adalah alat yang ampuh untuk menarik perhatian, menghimpun dan mempengaruhi masa.

Oleh karena itu, setiap partai politik dan organisasi kemasyarakatan, di samping didukung oleh media massa masing-masing, waktu itu juga memiliki organisasi atau lembaga kebudayaan. Partai Nasional Indonesia (PNI) mempunyai Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN), Partai Komunis Indonesia (PKI) memiliki Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), NU membentuk Lesbumi,  dan Partindo didukung Lesbi.

Produk – produk kebudayaan lembaga-lembaga itu disalurkan dan dikampanyekan melalui media massa yang dimiliki, berafiliasi atau bersimpati kepada partai politik masing-masing. Misalnya pada saat itu ada produk LKN disalurkan dan dipromosikan melalui Sulindo, Pendukung PNI, produk Lekra melalui koran Harian Rakyat dan Bintang Timur yang menjadi corong PKI. Di samping itu karya-karya para budayawan yang menyatakan dirinya nonpartai disalurkan melalui kantor-kantor penerbitan. RRI dan Kantor Berita Antara tidak luput sebagai ajang dan alat pertarungan, hingga prahara budaya pun terjadi begitu dahsyat.

Begitu kuatnya pengaruh politik dalam kehidupan budaya dan juga pers saat itu, hingga para cendikiawan yang umumnya bekerja berdasarkan prinsip-prinsip yang bersifat universal harus menarik garis. Kawan atau lawan. Tidak ada tempat untuk mereka yang di tengah. Siapa pun yang tidak sepaham segera dengan mudah dicap sebagai lawan. Pengaruh PKI begitu dominan dalam kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat. Dan Presiden Soekarno tampak sekali sangat dekat dengan orang-orang PKI. Sebuah “persekutuan ganjil” dengan nama Nasakom (Nasional, Agama, dan Komunis) dipaksakan.

Tentu saja, sekalipun dicoba dirasionalkan dengan alasan situasi dan kondisi waktu itu, persekutuan ini ditentang oleh mereka yang anti-PKI.

Karena tidak mau habis diganyang PKI, mereka yang tidak setuju dengan komunis mau tak mau harus merapikan barisan.

Akibat perang ideology itu, dua kelompok budayawan, cendekiawan segera terbentuk. Satu pendukung komunisme dan yang lainnya adalah penentangnya. Sesuai dengan jargon komunis, kelompok yang satu menyebut dirinya kiri, progresif revolusioner, Pancasilais sejati. Lawannya disebut kanan, reaksioner dan kontrarevolusioner, anti pancasila, dan plintat-plintut.

Disamping PKI, termasuk dalam kelompok kiri adalah sebagian besar mereka yang menyebut dirinya kaum nasionalis, yakni anggota atau pendukung PNI dan Partindo. Kanan adalah mereka yang anti-PKI, terutama adalah anggota dan pendukung partai-partai dan ormas yang berdasarkan agama, terutama Islam, kaum nasionalis yang taat beribadah (sebagian PNI), kaum sosialis (eks PSI), dan kaum nonpartai. Pada umumnya mereka didukung oleh militer, terutama Angkatan Darat pada saat itu.

Entah kenapa, pada waktu itu orang yang menganggap dirinya benar memilih lambang kiri daripada kanan. Padahal, dalam budaya Jawa yang saya tahu, yang lebih dominan dalam kebudayaan Indonesia, kanan adalah lambing kebaikan, sedangkan kiri kejahatan. Apalagi, ternyata dalam Islam pun demikian adannya. Mungkin, itu memang menjadi self-fulfilling prophecy. Ramalan yang terwujud dengan sendirinya.

Kedua kelompok tentu saja menyebut diri masing-masing Pancasilais sejati dan revolusioner. Kedekatan dengan Bung Karno juga diperebutkan. Kaum kanan anti-Bung Karno. Dan demikian pula sebaliknya.

Pancasila, revolusi, dan Bung Karno dipakai sebagai perisai oleh kedua kubu untuk tujuan mereka masing-masing. Ketiganya dipakai sebagai sebagai label untuk pembenaran diri masing-masing.

Puncak pertarungan disulut oleh Pidato Presiden Soekarno tanggal 17 agustus 1959 yang berjudul Manifesto Politik. Kaum kiri segera menyebut diri mereka Manipolis sejati, sedangkan lawannya sebagai anti-Manipol. Mereka anti-PKI apada tanggal 17 agustus 1963 mengeluarkan pernyataan politik kebudayaan yang disebut manifest kebudayaan. Segera muncul polemic antara kedua kubu. Kaum kiri menyebut budayawan, cendekiawan yang mendukung Manifest Kebudayaan sebagai Manikebu. Maksudnya, adalah mereka yang mereaksi terlalu berlebihan terhadap Manifes Kebudayaan.

Bagi saya Bung Karno adalah faktor paling dominan dalam kehidupan negara. Menyadari hal itu, para pendukung Manifes Kebudayaan berusaha membebaskan beliau dari pengaruh PKI, dan pihak yang anti-PKI membentuk Badan Pendukung Soekarnoisme (BPS). Tapi, apa hasilnya? Karena pengaruh kaum kiri terlalu kuat, para pendukung BPS dihujat, kehilangan pekerjaan dan sebagian lagi ditahan.

Tak terlepas dari pengaruh ideology, ada satu perbedaan substansial antara kedua kelompok dalam konsep kebudayaan. Kelompok kiri mendukung humanism-realisme atau realism-sosialisme, dan kelompok kanan mendukung humanism-universal. Debat mengenai ini menurut pandangan saya sangat menampakkan kedalaman pemikiran masing-masing dan sangat mengasyikan. Debat tentang sebuah hal yang bertendensi atau kepentingan untuk kepentingan yang mencapai puncaknya. Dan yang haru dicatat dari rangkaian sejarah ini, di samping beradu pemikiran, kedua kelompok juga bertarung dalam hal kreativitas dan fleksibilitas berfikir. Suasana ganyang-mengganyang satu sama lain, telah mengakibatkan masing-masing pihak tidak hanya bertahan, tetapi juga bersaing untuk melahirkan kreasi, karya dan buah pemikiran yang unggul. Akan tetapi, menurut saya di samping karya yang bernilai tinggi, persaingan waktu itu lebih banyak melahirkan karya yang sloganistis dan vulgar.

Apa yang terjadi dalam kancah kebudayaan Indonesia saat itu hanyalah kepanjangan dan Perang Dingin antara Blok Timur pimpinan Uni Soviet dan Blok Barat pimpinan Amerika Serikat. Dengan sendirinya, nyatanya kaum kiri lebih dekat secara politik dan budaya dengan Uni soviet dan kelompoknya, dan kelompok kanan lebih dekat dengan Amerika Serikat dan negara-negara Barat. Apa yang berasal dari Timur disanjung oleh kelompok kiri dan yang Barat digulung.

Klimaks atau antiklimaks dari prahara ini menurut saya adalah pemberontakan G-30-S/PKI pada tahun 1965 yang gagal. Kelompok kanan seperti halnya dalam layar pertunjukan wayang, keluar sebagai pemenang. Akibatnya, tak terelakkan mereka diganyang sebelumnya ganti mengganyang.

Sekalipun sudah kalah, masih ada diantara kelompok kiri yang beranggapan bahwa kekalahan mereka hanya bersifat sementara. Buktinya adalah runtuhnya Uni soviet, robohnya Tembok Berlin dan porak-porandanya negara-negara Eropa Timur serta kebangkrutan sistem ekonomi komunis.

Kini peristiwa G-30-S/PKI telah hampir 45 tahun bergulir. Perang dingin pun nyatanya telah usai. Amerika Serikat telah berpeluk mesra dengan Uni Soviet. Saat ini bangsa Indonesia telah merasakan bagaimana nikmatnya rasa sebuah kue kedaimaian dan kemerdekaan walau adonanya belum lengkap seluruhnya. Terdapat begitu banyak usul dan wacana agar peristiwa bersejarah ini dijadikan sebuah momentum untuk rekonsiliasi, rujuk, antara mereka yang dulu atau kini selalu bertikai, baik di bidang politik, ekonomi, social, hukum maupun kebudayaan. Ini merupakan refleksi yang simpatik, jika diingat bahwa sebagian besar dari mereka yang berseteru dulu, kini sudah uzur bahkan tiada dimakan usia. Usul tentu boleh saja. Namun, sebagai bangsa kita perlu tetap waspada. Apalagi kalau di antara orang-orang kiri saat ini masih ada yang mengkampanyekan ideology mereka dalam bentuk lain yang lebih canggih dengan memanfaatkan era keterbukaan, globalisasi, kemajuan teknologi dan simpatisme Barat yang dulu mereka musuhi. Terhadap mereka yang die hard tersebut, kita tak boleh kompromi.

Semoga peristiwa demi peristiwa bersejarah yang  pernah ada selalu menjadi cerminan bahwa bangsa kita memang bisa menjadi bangsa yang besar. Dan semoga reformasi informasi yang berkembang pada saat ini tidak lagi membuat setiap generasi menjadi tidak percaya akan kisah masa lalu dan perjuangan bangsanya sendiri. Dan terutama untuk semua generasi muda, semoga kita semua dapat belajar banyak dari sebuah prahara sejarah yang pernah dialami bangsa kita, agar peristiwa itu tak akan pernah terulang kembali di masa depan.

Buat keadilan sejati kepada siapa pun kami tak gentar

Apakah kepada kalian yang bernama kabir

Pelonceng atau koruptor

Atau jendral petak

Yang dadanya tergantung seribu bintnag

Kalau memang dimaui

Kami pun siap berlawan

Esok atau lusa

Atau sekarang juga!

Kami, rakyat.

(petikan puisi Endo Suwartono September 1965)

 
Leave a comment

Posted by on March 20, 2011 in Essay

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: