RSS

Saatnya Melindungi dan Menjaga Air

20 Mar

Air adalah suatu  realitas primordial, dan mempunyai peran penting. Simbolismenya menyangkut setiap tahap kehidupan. mitos-mitos kuno dan ilmu modern sependapat manakala mereka melihat air sebagai asal usul kehidupan, cairan ketuban yang mempertahankan embrio evolusi dan pertumbuhan. Sebagai pangkal utama segala materi organis, air mutlak perlu bagi eksistensi semua makhluk yang hidup, manusia, hewan dan tanaman.

Kehadiran air  menjamin kehidupan dan pertumbuhan, ketiadaannya menjadi pertanda bagi kematian dan kehancuran. Air menyegarkan dan membarui ibarat sebuah kolam menghidupkan kembali dan memulihkan batang-batang yang layu dan lemah. Bagai sebuah mata air menyejukkan dan menenangkan sebuah jiwa yang penuh beban dan tertimpa kesulitan. Dan seperti sebuah tempat mandi membersihkan dan menjernihkan tubuh yang kotor dan tercemar. Tak heran kalau orang menganggap air adalah sesuatu yang paling berharga di dunia ini.

Kita semua tahu bahwa tubuh manusia terdiri dari 55% sampai 78% air, tergantung dari ukuran badan kita.  Agar dapat berfungsi dengan baik, tubuh manusia membutuhkan antara satu sampai tujuh liter air setiap harinya untuk menghindari dehidrasi, dan jumlahnya tentu bergantung pada tingkat aktivitas, suhukelembaban, dan beberapa faktor lainnya. Dalam memenuhi kebutuhannya, setiap manusia memerlukan sekitar 100 liter air bersih per orang/hari. Sehingga kebutuhan air secara nasional di Indonesia saja pada tahun 2003 tercatat mencapai 112,275 milyar m³ dan diperkirakan akan pada tahun2008, 2010 hingga 2020 menjadi 127,7 milyar m³. Peningkatan jumlah penduduk tentunya akan meningkatkan pula jumlah kebutuhan air.

Menurut BMKG curah hujan Indonesia yang berkisar antara 1000 – 4000 mm/thn, seharusnya dapat dipastikan bahwa sebagian besar Indonesia tidak akan kekurangan air bersih. Namun pengelolaan lingkungan yang kurang baik, kerusakan lingkungan serta faktor-faktor lain menyebabkan kita mengalami kekeringan pada musim kemarau dan banjir pada musim penghujan. Pada tahun 2003 dan 2005 saja, diketahui bahwa defisit air di Pulau.Jawa, Bali dan Nusa Tenggara diperkirakan sebesar 13,4 milyar m³.  Konversi dan alih fungsi lahan, kerusakan hutan dan lahan, pencemaran air akibat industri adalah sebagian penyebab dari menurunnya kualitas air yang ada. Dari data tahun 2008, diketahui bahwa sebagian besar sungai, situ dan danau di Indonesia yang menjadi sumber air telah mengalami pencemaran dan kerusakan lingkungan dari tingkat ringan sampai berat, sungguh sangat memprihatinkan. Namun ironisnya, disadari atau tidak, seringkali kita memboroskan air dalam keseharian kita.

Tidak kalah pentingnya juga menurut perkiraan para ahli, sekitar tahun 2025 nantinya dua pertiga dari penduduk dunia tidak akan lagi memiliki akses kepada air minum dalam jumlah yang memadai. Dan banyak perusahaan multinasional melihat “krisis” bagi kemanusiaan tersebut sebagai peluang ekonomi. Ya kalau menurut saya jangankan nanti, sekarang pun hal itu sudah lama terjadi di negara kita tercinta ini. Dan tentunya kita semua sudah merasakan bahwa pada abad ke-21 ini air tampaknya akan mengambil peran yang dimainkan minyak pada abad ke-20. Air akan menjadi komoditas bernilai yang menentukan kesejahteraan semua orang. Namun, tidak seperti halnya minyak, air tidak memiliki subsitusi.  Dan bagi banyak orang, air tidak dapat dipikirkan sebagai sebuah “komoditas” yang harus dibeli dan dijual. Air selalu dilihat sebagai suatu “aset kehidupan” karena air sangat hakiki, bukan saja untuk kehidupan manusia, melainkan juga untuk hewan dan tanaman seperti juga untuk kehidupan planet itu sendiri. Penyediaan air karena itu merupakan tanggung jawab bersama dan siapapun harus mengerti akan pentingnya air bagi kehidupan dan masa depan.

Sebenarnya air memiliki perputarannya sendiri yang berada di luar jangkauan kendali manusia. Hujan yang turun untuk semua orang, baik kaya maupun miskin, mengingatkan kita bahwa penciptaannya adalah sebentuk karunia yang dipercayakan kepada kita untuk dijaga. Air bukan milik orang perorangan namun merupakan suatu nikmat gratis yang bisa dinikmati oleh semua orang, bahkan semua mahluk. Akan tetapi ketika politik atau ekonomi berusaha menghambat akses umum kepada hak universal ini, maka tatanan kodrati dijungkirbalikkan. Dan kesulitan air dewasa ini bukanlah satu bentuk kelangkaan mutlak, melainkan soal pembagian dan soal sumber daya yang dikelola secara tidak bijaksana.

Lihat saja belakangan ini isu privatisasi air merebak dimana-mana. Para pengusaha ataupun yang memiliki kepentingan seolah-olah lupa bahwa air yang mereka gunakan sebagai faktor produksi bisnis mereka adalah merupakan sumber kehidupan bagi setiap orang kini dan nanti. Dan kebanyakan orang pun terkadang lupa akan setiap tetes air yang mereka minum dan mereka gunakan untuk kehidupannya sehari-hari, yang pada suatu saat nanti air yang biasa mereka nikmati manfaatnya tersebut lambat laun persediaanya akan berkurang di muka bumi ini. Mereka terkadang melupakan bagaimana nasib saudara-saudara kita di Afrika, Papua, dan beberapa tempat lainnya di dunia atau bahkan mungkin orang-orang di sekitar kita yang tidak pernah kita tahu bahwa mereka kesulitan mendapatkan akses air bersih. Dan air merupakan harga yang mahal dan langka bagi mereka.

Fakta membuktikan kurangnya akses terhadap air minum, sanitasi dan rendahnya kondisi hygiene menyebabkan 3 juta penduduk dunia di negara-negara berkembang, terutama anak-anak meninggal setiap tahunnya. Dalam 10 tahun terakhir saja, penyakit diare telah membunuh lebih banyak korban terutama anak-anak dibandingkan dengan korban PD II, dan hal itu disebabkan karena kurangnya akses masyarakat terhadap air minum dan air bersih. Sedangkan di Cina, India dan Indonesia jumlah penduduk yang meninggal akibat diare adalah 2 kali lipat meninggal akibat HIV/AIDS. Tahun 1998 saja, tercatat jumlah korban meninggal akibat perang di Afrika adalah sebanyak 308 ribu orang, sedangkan jumlah korban meninggal akibat diare adalah lebih dari 2 juta orang.  Kemudian 200 juta penduduk dunia menderita penyakit schrisfosomiasis, angka kejadian tersebut dapat di kurangi sampai 77% dengan memperbaiki aksesibilitas air minum dan sanitasi. Fenomena kaum perempuan di Afrika dan Asia menempuh jarak 6km berjalan kaki hanya untuk mengambil air dan membawanya dengan berat rata-rata 20 kg.

Dengan semakin berkurangnya kualitas dan kuantitas air akan semakin mahal pula biaya untuk pengadaan air, sehingga akan semakin terbatas pula masyarakat yang mampu mempunyai akses terhadap air bersih. Pada tahun 2020 saja, diprediksi Indonesia seperti juga negara-negara lain, akan mengalami krisis air bersih. Dengan upaya bersama kita berharap agar Indonesia dapat melewati masa itu dan mari kita renungkan bersama mengapa semua itu bisa terjadi.

Kemudian apa yang sebenarnya harus kita lakukan? Mari bersama kita mulai bersikap bijaksana dalam menggunnakan air. Renungkan setiap kali kita melihat atau menggunakan air, ingatlah bahwa air tersebut adalah satu karunia Tuhan. Belajarlah untuk mengembangkan sikap hormat terhadap zat cair ini. Air bukanlah sebentuk komoditas atau objek melainkan “aset kehidupan” di masa depan. Dengan menumbuhkan satu sikap kontemplatif tersebut kita dituntut untuk memahami bahwa air adalah kehidupan, kehidupan untuk orang miskin , kehidupan untuk dunia dan kehidupan untuk kita semua.

Jadilah tokoh pemuda pembela “air untuk masa depan” sebagai kewajiban kita sebagai manusia. Kembangkan suatu kesadaran kritis di setiap sanubari anak muda bahwa pengelolaan air dengan bijak adalah modal menuju masa depan yang lebih baik. Waspadalah terhadap rekomendasi – rekomendasi yang mengambil tanggung jawab dari tangan pemerintah atas isu air dan menyerahkannya kepada perusahaan-perusahaan swasta, khususnya multinasional. Kita libatkan masyarakat madani dalam perencanaan dan pelaksanaan strategi-strategi untuk mempertahankan dan memelihara air. Belajarlah dari komunitas-komunitas yang berhasil memecahkan masalah-masalah yang berkenaan dengan air. Dan bangunlah kesadaran di masyarakat bahwa air adalah aset yang penting  di masa depan.

Tanamkan mulai dari sekarang budaya berhemat. Sebagai anak muda pikirkan sejumlah cara agar kita bisa menghemat air di rumah. Misalnya, perbaiki keran-keran air secara berkala, batasi kegiatan siram taman dan berlama-lama mandi dan berikan dukungan untuk metode-metode alternatif dalam menangani pembuangan kotoran melalui air. Hidupkan kembali teknik-teknik mengambil air (pengetahuan dan praktik-praktik tradisional), lindungi daerah mata air dengan mendorong program-program penghijauan, hutan asuh, taman asuh dan berkampanye untuk menanam pohon. Bangun kesadaran menyangkut pentingnya daerah berumput yang sehat, daerah-daerah pertanian, tanah-tanah payau dan hutan, karena itulah jaminan satu-satunya terhadap kelangkaan air.

Kemudian sebagai anak muda mari kita galang kekuatan dan rapatkan barisan untuk membela dan menyuarakan hak-hak komunitas lokal untuk mengelola sumber daya-sumber daya air mereka. Pertanyakan secara kritis liberalisasi dan komersialisasi pelayanan air dan sanitasi. Kita buat pembelaan pada tingkat lokal, nasional dan internasional tentnag hak-hak pengelolaan sumber daya air. Kita temukan resolusi bagaimana air dikelola di negara, wilayah dan kota kita, kita temukan apa kebijakan yang berkenaan dengan air dan kesehatan di wilayah lokal dan negara kita, kita bbekerja sama dengan LSM yang memiliki visi misi yang sama atau para ahli untuk informasi dan solusi akan pemecahan masalah pengelolaan air dan dalam membela hak asasi atas air dan kesehatan.

Tidak hanya itu, sebagai seorang konsumen terdidik belilah produk-produk yang dapat didaur ulang dan ramah lingkungan. Pilihlah satu aktivitas yang kita sendiri dapat lakukan dengan penuh pengabdian dan aktivitas lain yang dapat kita lakukan dengan orang lain. Kita buat juga evaluasi atas hal ini di masa yang akan datang. Kemudian kita berikan dukungan pada sejumlah kampanye, baik nasional maupun internasional, yang berikhtiar untuk menjamin sebuah kerangka hukum yang adil bagi perlindungan atas air dan akses terhadap air dan atau fasilitas-fasilitas kesehatan. Ubahlah kebiasaan rutin harian kita dan bantulah untuk mengurangkan polusi dan penggunaan air. Kurangi kebiasaan menggunakan kendaraan dan lebih sering gunakan sepeda, jalan kaki atau gunakan kendaraan ramah lingkungan untuk membantu mengurangkan produksi zat beracun penyebab polusi udara pemicu hujan asam dan hal negatif lainnya. Jangan sikat gigi dengan air keran yang tetap mengalir, kita bisa menghemat galon per menit dan kapan saja kita menggunakan air, gunakan lebih sedikit dan efisien. Kecilkan temperatur pemanas air dan thermostat rumah kita untuk mengurangkan penggunaan energi dan membantu menurunkan zat pemicu polusi yang menyebabkan hujan asam dan lainnya.

Dan mungkin masih banyak cara dan sikap yang bisa kita terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari dalam rangka mengelola dan menjaga air kita agar tidak habis dan digunakan secara tidak bijak oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Sebagai anak muda sudah sepatutnya kita mulai melakukan hal-hal yang berguna bagi diri sendiri dan orang banyak, mulai saat ini. Karena secara hakikatnya air adalah satu faktor penentu dalam kemampuan bumi yang luar biasa untuk menahan penderitaan setiap manusia, kini dan di masa depan. Semoga tulisan ini bisa mengispirasi.

 

 

 

 

 

 

 

 
Leave a comment

Posted by on March 20, 2011 in Essay

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: