RSS

Stabilitas Keamanan dan Politik Gaya Otoriter Cina yang Mendorong Perekonomian

10 Apr

Terkait masalah investasi, adalah bijak kalau kita mau belajar dari negara-negara yang sukses memikat modal asing, sekaligus mampu menstimulasi investor domestic untuk berkembang. Salah satu contoh adalah Cina, Negara yang tergolong baru bekembang dan bahkan sebelumnya sempat tenggelam dalam peraturan dunia menyusul kebijakan militant komunis pada era Mao Zedong, tapi kini terbukti paling sukses memainkan jurus investasi tersebut.
Setelah wafatnya Mao Zejong – tokoh yang membawa Cina tenggelam dalam ‘kegelapan diplomasi’, yang tentu saja berdampak pada memburuknya perekonomian Negri Tirai Bambu itu – Deng Xiaoping naik ke tanggu pimpinan. Segera setelah naik tahta sebagai Perdana Menteri, tokoh yang dikenal dengan ucapan “bukan kucing hitam atau kucing putih yang penting, melainkan kucing yang dapat menangkap tikus”, Deng mengubah huluan Cina dengan drastis. Melalui kebijakan “Pintu Terbuka” yang digulirkan tahun 19y78, Cina mengulurkan jabat tangan kepada banyak Negara di dunia. Semua hubungan yang putus semasa Mao Zedong melancarkan ‘Revolusi Kebudayaan’, diperbaiki. Tak kecuali dengan musuh ideologisnya Amerika Serikat.. Cina juga aktif memasuki organisasi-organisasi internasional, termasuk IMF dan World Bank. Pada 2001, Cina bahkan secara resmi diterima sebagai anggota organisasi internasional terakhir yang belum dimasukinya, WTO.
Kembalinya Cina ke pergaulan Internasional memang tak lepas dari peran sang pemimpin, Deng Xiaoping. Sampai-sampai Deng sendiri dua kali pergi ke Amerika. Di luar itu, kepercayaan diri Cina ditopang pula prestasi di dalam negeri , yakni pembangunan ekonomi. Deng secara konsisten mengubah sistem perekonomian Cina dari system komunis menjadi system bernuansa ‘kapitalis’. Komune dibubarkan, ‘periuk nasi besi’ dihancurkan, perusahaan milik Negara diprivatisasi, pengusaha swasta diberi angin, investor asing diberi insentif tinggi, pasar saham diizinkan dan seterusnya. Perdagangan internasional digalakkan seraya memacu ekspor. Meskipun peran Negara belum hilang sama sekali, Cina praktis memeluk sistem kapitalistis. Cina sendiri menamakan ‘sistem pasar sosialis’, di samping istilah lain yakni ‘satu Negara dua sistem’ yang terutama ditetapkan di Shenzen dan belakangan di Hongkong.
Khusus di bidang investasi, setahun setelah kebijakan “Pintu Terbuka” digulirkan, tepatnya 1 juli 1979, Cina menerbitkan UU usaha Patungan. Sesuai namanya, undang-undang ini memberikan landasan berinvestasi di Cina melalui usaha patungan. Selanjutnya 20 september 1983, diberlakukan Peraturan Pelaksanaan UU Usaha Patungan. Peraturan ini member rincian procedural untuk membentuk usaha patungan, kontribusi modal, alih teknologi, dan operasional perusahaan. UU Usaha Patungan tersebut kelak direvisi 4 April 1990. Lewat UU hasil revisi ini pihak asing dimungkinkan menunjuk seorang peimpinan puncak dari dewan direksi, dan membuka kemungkinan berbagai pihak ikut dalam sebuah usaha patungan yang sebelumnya dibatasi satu pihak asing dan satu pihak Cina. Tak lama setelah itu, Peraturan Pelaksanaan UU Usaha Patungan diamandemen agar usaha patungan bisa beroperasi hingga 50 tahun-dari sebelumnya dibatasi hanya 20. Sebenarnya, 4 tahun sebelum UU Usaha patungan direvisi, Cina telah melahirkan undang-undang yang revolusioner untuk menarik minat modal asing. Pada 1986, Kongres Rakyat Nasional memberlakukan UU Usaha Investasi Sepenuhnya Milik Asing . Undang-undang ini memperbolehkan usaha sepenuhnya milik asing didirikan di wilayah Cina, dan menjadikan system hukum Cina dalam hal ini jauh lebih liberal daripada yuridiksi lainnya di Asia. Sementara partisipasi local dituntut di banyak Negara asia, seperti Malaysia dan Thailand, Cina mempebolehkan kepemilikan tital sebuah badan usaha oleh asing, sejauh badan itu bergerak di bidang yang melibatkan alih teknologi dan produksi ekspor.
Menurut catatan investasi asing yang masuk ke Cina saat ini berasal lebih dari 180 negara dan wilayah. Sebanyak 500 perusahaan papan atas dunia hampir seluruhnya menanamkan modal di Cina. Sejak 1993, Cina tercatat sebagai Negara berkembang yang paling banyak menarik investasi asing. Tahun 2004, Cina berhasil menarik langsung asing sebesar US$ 60,6 miliar. Masuknya perusahaan-perusahaan asing ke Cina juga menstimulasi perusahaan domestic untuk berkembang. Perusahaan Cina bahkan telah disejajarkan dengan perusahaan kelas dunia. Tahun 1998, dari 225 kontraktor internasional top . Investor Cina tak lagi bermain di kandang. Mereka kini menanamkan modalnya di berbagai Negara. Terdapat lebih dari 6.000 usaha investasi Cina di luar negeri dengan nilai kontrak mencapai US$ 6,95 miliar. Investasi tersebut lebih dari 160 negara dan wilayah.
Dengan perubahan besar-besaran ini, Cina sungguh memukau dunia Cina kini menduduki peringkat tinggi dunia dalam banyak indicator ekonomi: pertumbuhan, perdagangan, internasional, internasional, investasi asing hingga cadangan devisa. Angka agregat ekonomi yang serba besar membuat Cina menerima predikat sebagai next entrepreneur. Banyak yang meyakini cina sedang bangkit bagaikan naga yang menggeliat bangun dan mendengus seraya memperlihatkan taring . Kemajuan ekonomi Cina berlangsung demikian cepat 20 tahun terakhir sehingga income per kapita Negara berpenduduk 1,3 miliar itu melonjak dari US$ 100 menjadi US$ 2.000. Namun, pesatnya perekonomian Cina bukan hanya dapat dilihat dari income per kapita, luar biasanya perkembangan industry perdagangan dan pertumbuhan kota-kota di negara itu, tapi juga dari pertumbuhan ekonomi yang selalu di atas 10%. Cadangan devisa Cina kini mendekati US$ 1.000 miliar, angka yang sungguh fantastis.
Pertanyaannya, sisi mana dari sukses Cina yang layak ‘diadopsi’ untuk mendongkrak perekonomian Indonesia? Satu yang pasti, kedepan, upaya pemerintah meliberalisasi ekonomi (melalui UU Penanaman Modal) tetap harus disesuaikan dengan kondisi perekonomian domestic. Idealnya, regulasi investasi tak hanya dilakukan untuk menarik masuk modal asing, tetapi juga harus mampu mendorong pemberdayaan pelaku usaha domestic. Sehingga, baik pelaku usaha asing maupun domestic akan berkembang sesuai dengan level yang digumulinya (level of playing field).
Daftar Pustaka
Derbyshire, Denis, J, The Business of Governtment, W & R chambers Ltd, Edinburg , Great Britain 1987.
McConnell Brue, Macroeconomics, California USA 2010
Effendi Siradjuddin, Memerangi Sindrom Negara Gagal, Entrepreneurial state 2020 Institute of research, 2008.

 
Leave a comment

Posted by on April 10, 2011 in Essay

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: